Detail Program

Kemanusiaan

Bantu Selamatkan Anak Rohingya

Terkumpul
Rp 18.789.215
Target
Rp 1.000.000.000
Rp
, - 
PERIODE WAKTU:
253 hari

BERAKHIR PADA:
31 Juli 2018
Penerima Manfaat:
1.000 orang

Lingkup wilayah:
nasional
UPDATE LAPORAN TERBARU
5 Juli 2018

Penyaluran Paket Ifthar Selama Ramadhan di Pengungsian Cox's Bazar

11-Juni-2018, Kamp Balukhali dan Kamp Jamtholi Bangladesh

Ramadhan 1439 H kemarin telah berlalu. Alhamdulillah sekitar 6700 yatim dan dhuafa pengungsi Rohingya telah terbantu dengan adanya program penyaluran paket berbuka puasa bersama (Ifthar) dari Rumah Yatim.

Dalam penyaluran yang di lakukan melalui kerjasama bersama organisasi Small Kidness Bangladesh, Rumah Yatim menyalurkan bantuan Ifthar sebanyak 3 kali. Penyaluran yang pertama pada Senin (11/6).

Penyaluran pertama Rumah Yatim telah menyalurkan sekitar 2100 paket berbuka puasa yang bertempat di Kamp pengungsian Balukhali dan Kamp Jamtholi. Dengan mengerahkan sekitar 20 relawan yang terbagi di 8 kamp yang berada di Balukhali dan Jamtholi tersebut dengan jumlah anak dalam 1 kamp pengungsian sekitar 250 anak.

12-Juni-2018, Kamp Balukhali B 8 Cox's Bazar Bangladesh

Berkat bantuan yang begitu besar dari para donatur, kegiatan penyaluran Ifhar ini kembali berlangsung di hari selanjutnya yaitu, Selasa (12/6). Sekitar 2100 paket Ifthar kembali di salurkan dengan lokasi bertempat di Kamp Balukali blok B8, Cox's Bazar Bangladesh.

Pembagian hidangan di laksanakan pada pukul 18.20 waktu Bangladesh mengingat waktu berbuka puasa di sana sekitar pukul 18.40 waktu Bangladesh.

13-Juni-2018, Moynerghona Distrik Ukhia Bangladesh

Di hari terakhir Ramadhan lalu Rumah Yatim pun tetap konsisten dalam menyalurkan bantuan Ifthar bagi anak-anak yatim dan dhuafa yang berada di Kamp pengungsian Cox's Bazar Bangladesh. Tepatnya pada Rabu (13/6), Rumah Yatim menyalurkan sekitar 2500 paket Ifthar di Moynerghona, distrik Ukhia Bangladesh.

Bantuan yang di salurkan wajib berkoordinasi dengan militer Bangladesh. Hal ini bertujuan agar lebih tertib dan tepat sasaran dalam penyalurannya.

Bantuan-bantuan yang telah diberikan mendapat sambutan yang antusias dari para pengungsi mengingat selama ini mereka hidup hanya dari bantuan-bantuan dari lembaga Nasional dan Internasional.

Alhamdulillah berkat 1.402 donatur yang ikut berbagi rejekinya untuk terwujudnya program Ifthar ini dan terkumpul lebih dari 523 juta ada sekitar 6700 anak yatim dan dhuafa pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Ucapan terimakasih tak berhenti mengalir dari para penerima manfaat yang telah merasakan kepedulian dan perhatian dari para donatur.

Terimakasih kepada para donatur, semoga dengan bantuan yang telah diberikan menjadikannya keberkahan dan di lapangkan selalu untuk rejeki dan usaha nya.


Deskripsi Program


Tak banyak orang yang peduli dengan nasib muslim Rohingya, banyaknya tragedi kemanusiaan diberbagai belahan dunia telah membuat banyak orang merasa bahwa berita di berbagai media masa hanya sekedar bagian dari halaman berita dunia di pagi hari yang di baca dingin sambil menikmati secangkir kopi panas.

Jika begitu banyak kekejaman di dunia, lantas apa yang istimewa dengan Rohingya? Mengapa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2013 melabeli Rohingya sebagai etnis paling teraniaya di dunia?

Rohingya sesungguhnya adalah keturunan Bangladesh. Meski telah tinggal menetap hingga beberapa generasi di Myanmar, mereka tidak di akui Myanmar sebagai warga negara. Demikian pula Bangladesh tidak mau mengakui mereka sebagai warga.

Itulah sebabnya julukan “etnis paling tertindas di dunia” disematkan PBB pada Rohingya. Mereka tak punya negara, tak di terima sebagai bagian dari masyarakat di tempat mereka tumbuh.

Tragedi kemanusiaan terhadap Muslim Rohingya telah terjadi puluhan tahun silam dan terus terjadi sampai saat ini. Kejadian terakhir di bulan Agustus 2017 telah kembali membuktikan kekejaman dan penindasan terhadap mereka yang tidak pernah berhenti.

Warga Rohingya yang kini hidup dalam perburuan setelah desa-desa mereka di bakar, menggelandang dan tidur tanpa atap di hutan dan gunung, di manapun belukar bisa menyembunyikan mereka.

Kondisi belasan ribu pengungsi Rohingya yang telah terjadi sungguh mengenaskan, mereka mengalami luka bakar dan luka tembak, dengan tatapan kosong menerawang.

Ribuan pengungsi yang terdiri dari kaum hawa dan anak kecil harus berjalan menelusuri sawah, gunung dan hutan menempuh jarak tidak kurang dari 20 KM menuju perbatasan Negara tentangga mereka Bangladesh, Besar harapan mereka bisa diterima dengan layak setidaknya hanya untuk sekedar berlindung, namun sayang setelah jauh berjalan kaki, sesampainya di gerbang perbatasan mereka ditolak dan disuruh kembali ke zona merah yang sedang berkobar, pemerintah Bangladesh beralasan, mereka tak bisa lagi menampung Rohingya karena sudah menerima 400.000 orang Rohingya sejak awal konflik yang bermula pada tahun 1990-an.

Saat mereka meregang nyawa ribuan doa terlantun dari mulut mereka, mengetuk belas kasihan pintu langit yang Maha Pengasih dan Perkasa. Air mata mereka bukanlah air mata buaya yang berharap belas kasihan agar dipercaya, air mata mereka adalah puncak dari penderitaan yang mereka terima.

Akankah kita terketuk hati mendengar keluh kesah mereka? 

Akankah darah dan tangisan bayi itu menggugah mata hati kita untuk bisa meringankan derita mereka ?

Mereka adalah saudara kita.. yang Rasulullah ibaratkan seperti satu tubuh…

 

UPDATE #29
5 Juli 2018

Penyaluran Paket Ifthar Selama Ramadhan di Pengungsian Cox's Bazar

11-Juni-2018, Kamp Balukhali dan Kamp Jamtholi Bangladesh

Ramadhan 1439 H kemarin telah berlalu. Alhamdulillah sekitar 6700 yatim dan dhuafa pengungsi Rohingya telah terbantu dengan adanya program penyaluran paket berbuka puasa bersama (Ifthar) dari Rumah Yatim.

Dalam penyaluran yang di lakukan melalui kerjasama bersama organisasi Small Kidness Bangladesh, Rumah Yatim menyalurkan bantuan Ifthar sebanyak 3 kali. Penyaluran yang pertama pada Senin (11/6).

Penyaluran pertama Rumah Yatim telah menyalurkan sekitar 2100 paket berbuka puasa yang bertempat di Kamp pengungsian Balukhali dan Kamp Jamtholi. Dengan mengerahkan sekitar 20 relawan yang terbagi di 8 kamp yang berada di Balukhali dan Jamtholi tersebut dengan jumlah anak dalam 1 kamp pengungsian sekitar 250 anak.

12-Juni-2018, Kamp Balukhali B 8 Cox's Bazar Bangladesh

Berkat bantuan yang begitu besar dari para donatur, kegiatan penyaluran Ifhar ini kembali berlangsung di hari selanjutnya yaitu, Selasa (12/6). Sekitar 2100 paket Ifthar kembali di salurkan dengan lokasi bertempat di Kamp Balukali blok B8, Cox's Bazar Bangladesh.

Pembagian hidangan di laksanakan pada pukul 18.20 waktu Bangladesh mengingat waktu berbuka puasa di sana sekitar pukul 18.40 waktu Bangladesh.

13-Juni-2018, Moynerghona Distrik Ukhia Bangladesh

Di hari terakhir Ramadhan lalu Rumah Yatim pun tetap konsisten dalam menyalurkan bantuan Ifthar bagi anak-anak yatim dan dhuafa yang berada di Kamp pengungsian Cox's Bazar Bangladesh. Tepatnya pada Rabu (13/6), Rumah Yatim menyalurkan sekitar 2500 paket Ifthar di Moynerghona, distrik Ukhia Bangladesh.

Bantuan yang di salurkan wajib berkoordinasi dengan militer Bangladesh. Hal ini bertujuan agar lebih tertib dan tepat sasaran dalam penyalurannya.

Bantuan-bantuan yang telah diberikan mendapat sambutan yang antusias dari para pengungsi mengingat selama ini mereka hidup hanya dari bantuan-bantuan dari lembaga Nasional dan Internasional.

Alhamdulillah berkat 1.402 donatur yang ikut berbagi rejekinya untuk terwujudnya program Ifthar ini dan terkumpul lebih dari 523 juta ada sekitar 6700 anak yatim dan dhuafa pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Ucapan terimakasih tak berhenti mengalir dari para penerima manfaat yang telah merasakan kepedulian dan perhatian dari para donatur.

Terimakasih kepada para donatur, semoga dengan bantuan yang telah diberikan menjadikannya keberkahan dan di lapangkan selalu untuk rejeki dan usaha nya.

UPDATE #28
14 Juni 2018

Kamp Pengungsian Cox's Bazar Di Landa Badai Munson

Sejak 9 Juni lalu, Bangladesh diterjang badai Munson. Tak pelak kamp-kamp pengungsian yang berada di daerah Cox's Bazar pun terkena dampaknya. Hujan yang disertai angin kencang dari badai Munson ini telah mengakibatkan banjir, tanah longsor, tanggul jebol serta hanyutnya beberapa jembatan yang berada di daerah pengungsian tersebut.

Sekitar 9000 jiwa pengungsi yang berada di Cox's Bazar terkena dampak dari badai ini. Kamp Balukhali merupakan lokasi tempat pengungsian yang paling parah terkena dampaknya. Menurut perwakilan Organisasi Migrasi PBB, Manuel Pereirakondisi, kondisi di dalam Kamp pengungsian saat ini begitu memprihatinkan.

Beberapa upaya yang dilakukan oleh lembaga nasional maupun internasional adalah fokus pada pengevakuasian para pengungsi yang kamp nya telah terendam banjir. Di khawatirkan akan adanya badai susulan yang akan merendam lebih banyak lagi kamp pengungsian di Cox's Bazar.

Dalam kondisi cuaca normal saja mereka disana begitu kesulitan, baik dalam hal mencari sesuap nasi hingga kebanyakan anak-anaknya tidak memakai pakaian yang layak. Anak-anak pengungsi Rohingya hanya dapat memakai celana tanpa memakai baju atasan atau kaos. Hal ini karena mereka tidak memiliki pakaian yang cukup untuk mereka pakai.

Tak terbayangkan bagaimana keadaan anak-anak Rohingya di musin badai ini mereka hanya memakai pakaian tipis dan bahkan ada yang hanya bertelanjang dada. Dengan ini Rumah Yatim pun tergerak untuk dapat mengajak masyarakat Idonesia dalam membantu saudara muslim kita yang hanya bisa hidup mengandalkan bantuan dan uluran tangan kita.

Tunjukkan kepedulian dan perhatian anda dengan berkontribusi bagi 1,5 juta pengungsi yang menanti "kemerdekaan" sesungguhnya.

UPDATE #27
19 Mei 2018

Rumah Yatim dan Small Kindness Targetkan Program Jangka Panjang

Relawan Rumah Yatim melakukan koordinasi akhir dengan jajaran pengurus lembaga kemanusiaan, Small Kindness, di Dhaka, Bangladesh, Kamis (17/5) malam. Koordinasi ini ditempuh untuk membahas tindak lanjut program lainnya di waktu yang akan datang.

Menurut pemaparan relawan kemanusiaan Rumah Yatim, Abdurrahman, dirinya beserta Sinu Tontori bertemu dengan pimpinan Small Kindness Bangladesh, Ridwan. Pada pertemuan tersebut sejumlah program lanjutan dibicarakan. Program-program tersebut nantinya akan diperuntukan bagi warga Rohingya di pengungsian Bangladesh.

"Kami juga membicarakan tentang beberapa proyek ke depan," papar Abdurrahman.

Sejumlah proyek yang dibahas dalam pertemuan tersebut, di antaranya ialah program Ramadhan, program sarana dan prasarana pendidikan bagi anak Rohingya, program pangan, serta program kesehatan. Selain itu, program yang akan dilaksanakan ialah bantuan untuk kegiatan keagamaan.

"Program ini untuk membantu para pengungsi Rohingya di Bangladesh," lanjutnya.

Selain itu, dalam kesempatan tersebut Ridwan menyampaikan ucapan terima kasih dan juga apresiasi atas bantuan yang diberikan Rumah Yatim. Dia juga mengucapkan rasa syukur atas bantuan dan dukungan para donatur Rumah Yatim serta masyarakat Indonesia.

Sejauh ini menurut data yang diterima jurnalis Rumah Yatim, ada sekitar 1,5 juta warga Rohingya yang tinggal di pengungsian Bangladesh. Seluruh pengungsi hidup dengan kondisi yang memprihatinkan. Bahkan 30 persen di antaranya merupakan anak-anak dan balita yang masih membutuhkan bantuan.

"Harapan dia ke depan Rumah Yatim bisa terus bekerjasama untuk menuntaskan permasalahan Rohingya yang ada di Bangladesh," kata Abdurrahman.

Selama satu pekan berada di pengungsian Bangladesh sejumlah program telah direalisasikan. Program tersebut diterima langsung oleh para pengungsi Rohingya yang tersebar di sejumlah group camp yang berada di Cox's Bazar Bangladesh. Di antaranya program bantuan pangan, program bentuan perlengkapan pendidikan, program bantuan kebutuhan kesehatan anak, program pemenuhan gizi anak, serta bantuan masjid.

"Masih banyak program yang ketika tim relawan melihat langsung ke lokasi pengungsian yang harus dibantu terutama MCK," ungkapnya.

Bahkan, kebutuhan yang lebih utama ialah bagi masa depan anak Rohingya. Bantuan tersebut merupakan sarana belajar untuk anak. Di pengungsian sendiri terdapat home care yang masih banyak kekurangan. Bahkan, lokasi belajar tersebut tidak mampu menampung seluruh anak Rohingya.

"Bahkan ribuan anak terlantar yang ada di sana. Mudah-mudahan Rumah Yatim bisa berkontribusi di program-program yang masih belum menyentuh para pengungsi Rohingya yang ada di Bangladesh," tutup Abdurrahman.

 

UPDATE #26
18 Mei 2018

Masjid di Pengungsian Warga Rohingya Dapat Bantuan Renovasi Rumah Yatim

Rumah Yatim memberikan bantuan renovasi masjid di pengungsian Jamtoli, Cox's Bazar, Bangladesh, Kamis (17/5). Masjid tersebut terletak di tengah-tengah pengungsian, yang mampu menampung 300 jamaah setiap harinya.

Menurut pemaparan relawan kemanusiaan Rumah Yatim, Abdurrahman, bantuan tersebut diberikan karena di masjid tersebut masih banyak kekurangan fasilitas pendukung ibadah. Bantuan yang diberikan Rumah Yatim meliputi pengecatan masjid, santunan da'i, pengadaan karpet, serta Alquran.

"Masjid tersebut masih banyak memiliki kekurangan. Sangat membutuhkan peralatan untuk melengkapi sarana beribadah," paparnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini juga bekerjasama dengan salah satu lembaga sosial di Bangladesh, We Dreamer. Salah seorang pimpinan We Dreamer mengatakan kepada Abdurrahman, bahwa keberadaan masjid tersebut sangat dibutuhkan oleh para pengungsi Rohingya. Di lokasi tersebut juga kurang lebih terdapat 141 ribu warga Rohingya.

Selain itu, masjid tersebut juga digunakan sebagai sarana musyawarah warga Rohingya. Di samping itu juga digunakan sebagai tempat belajar memperdalam ilmu agama bagi para pengungsi. Diharapkan, kata Abdurrahman, bantuan yang diberikan bisa memotivasi para pengungsi untuk lebih meningkatkan ibadahnya.

Pimpinan We Dreamer, Brother Kutubh menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Rumah Yatim dan masyarakat Indonesia yang telah memberikan bantuan. Apalagi, bantuan tersebut merupakan perlengkapan dan renovasi masjid di pengungsian. Selain itu, Abdurahman berharap, kepedulian masyarakat Indonesia mampu memenuhi kebutuhan sarana umum yang ada di pengungsian.

"Ini juga untuk memberikan semangat kepada para pengungsi agar lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT," ungkapnya.

UPDATE #25
17 Mei 2018

Bantuan 1000 Paket Alat Pendidikan bagi Anak Rohingya

Rumah Yatim menyalurkan bantuan paket alat pendidikan kepada 1000 anak-anak pengungsi Rohingya di daerah Jamtholi, Cox's Bazar Bangladesh, Kamis (17/05). Bantuan diberikan langsung di 2 tempat, yaitu di Kamp Jamtholi blok E dan F. Masing-masing kamp berisi 500 anak yang di tampung di Child's Home Care yang dimana disini mereka belajar setiap hari.

Mereka diberikan pendidikan agama dan juga formal sesuai dengan kurikulum yang pernah mereka dapatkan di Myanmar. Sebagian besar tenaga pengajarnya pun berasal dari Myanmar.

Selain itu, anak-anak ini juga mendapatkan Trauma Healing sehingga diharapkan mereka bisa mengendalikan emosional dan trauma mereka akibat menyaksikan langsung kekerasan yang terjadi dulu.

Antusiasme anak-anak Rohingya dalam menimba ilmu sangat luar biasa dan sangat semangat. Meskipun dengan sarana seadanya, mereka belajar di atas tikar di 1 Home Care dengan ukuran sekitar 10x10 meter. Usia anak-anak mulai dari 5 tahun sampai 12 tahun dan terlihat begitu bersemangat dalam belajar.

Sebelum diberikan bantuan berupa paket pendidikan dari Rumah Yatim, anak-anak menggunakkan kantong kresek atau tas yang terbuat dari kain sarung buatan mereka sendiri. Dengan adanya bantuan ini anak-anak semakin bersemangat dan ceria.

"Bantuan seperti ini akan terus berlanjut Rumah Yatim berikan untuk mendukung pendidikan dan masa depan yati Rohingya yang berada di Kamp pengungsian," ujar Abdurahman, salah satu relawan yang saat ini masih berada di Bangladesh.

UPDATE #24
16 Mei 2018

Sahid Menjadi Yatim Piatu Karena Kekejaman Tentara Myanmar

Muhammad Sahid (5) adalah anak yatim piatu Rohingya. Kedua orangtuanya meninggal akibat kekejaman tentara Myanmar. Saat ini Syahid di asuh oleh bibinya beserta beberapa anak lainnya. Syahid setiap harinya bermain di lapangan sekitar kamp pengungsian tanpa mengenakan sehelai kain yang menutupi bagian atas tubuhnya. Hal ini mereka sangat membutuhkan bantuan seperti sandang dan pangan serta kebutuhan lainnya dari kita semua.

Muhammad Syahid merupakan anak tunggal dari satu keluarga kecil yang ayah dan ibunya dibantai oleh tentara Myanmar saat Syahid berusia 1 tahun. Kemudian Syahid pun diselamatkkan oleh Bibinya dan dibawa menyelamatkan diri ke Bangladesh. Syahid dan bibinya tinggal di kamp pengungsian Jamtholi yang di huni lebih dari 141.000 pengungsi lainnya.

Sahid merupakan satu dari ribuan pengungsi yang Rumah Yatim temui. Kita semua juga berdo’a mudah-mudahan Muhammad Syahid lainnya yang Yatim, serta Yatim piatu agar mereka bisa tetap bertahan hidup untuk meneruskan cita-citanya. Harapannya juga agar mereka dapat membangun Negeri yang makmur di kemudian hari. Tidak seperti saat ini yang harus memaksa mereka untuk tinggal bersama belasan penghuni lainnya dalam 1 rumah sementara.

Tanpa ada pengawasan dari siapapun, anak seusia Sahid bermain dan kembali kerumah, sesampainya dirumah Ia tak bisa memanggil Ayah dan Ibunya karena mereka telah tiada. Bisa dibayangkan bagaimana anak seusia Sahid tanpa adanya pengawasan dan perhatian dari kita semua tentunya Ia takkan bisa bermimpi untuk mencapai masa depan yang lebih cerah suatu hari nanti.

UPDATE #23
15 Mei 2018

500 Pengungsi Rohingya Dapat Bantuan Makanan Cepat Saji

Wajah ceria itu terpancar dari ratusan anak yang mengantri makanan cepat saji. Berbaris dengan rapih dan tersenyum saat menerima makanan, menjadi pemandangan yang luar biasa. Berlokasi di camp wilayah Cox's Bazar, Bangladesh, Senin (14/5) siang, Rumah Yatim bersama Small Kindness Bangladesh memberikan 500 paket makanan cepat saji kepada para pengungsi Rohingya.

Menurut informasi yang didapat dari relawan kemanusiaan Rumah Yatim yang berada di Bangladesh, makan cepat saji ini merupakan daging sapi yang sudah diolah. Kebutuhan makanan bergizi bagi anak menjadi salah satu permasalahan yang ada di pengungsian warga Rohingya di Bangladesh. Penyaluran makanan cepat saji ini diberikan ke satu titik pengungsian di Ghundum Camp 3.

Di lokasi tersebut, kurang lebih terdapat 10 ribu pengungsi yang membutuhkan bantuan. Bahkan 30 persen di antaranya merupakan anak-anak dan balita, yang harus bertahan dari kurang layaknya camp dan asupan makanan bagi diri mereka. 

"Tempat ini dipilih sesaui arahan dari para petugas relawan dari Bangladesh, dan di kawal oleh para militer yang ada di sana untuk mengatur pembagian," papar relawan kemanusiaan Rumah Yatim Abdurrahman, kepada jurnalis Rumah Yatim melului pesan singkat.

Ia mengatakan, rasa syukur terpancar dari salah seorang relawan, Rafidoh. Rafidoh merupakan ibu dari lima anak, yang sejak beberapa pekan tidak mendapatkan bantuan makanan cepat saji. Kepada Abdurrahman, Rafidoh menyampaikan ucapan terima kasih kepada masyarakat Indonesia dan Rumah Yatim yang telah membantu mereka mendapatkan makanan cepat saji.

Abdurrahman juga menambahkan, semoga masyarakat internasional bisa lebih peduli melihat kondisi para pengungsi di Rohingya. Karena, keberadaan warga Rohingya di pengungsian sangat terbatas untuk bergerak. Sehingga yang mereka lakukan hanya mencari bantuan dari para relawan yang datang untuk bertahan hidup di pengungsian.

UPDATE #22
14 Mei 2018

Penyaluran Bantuan Alat Kesehatan Bagi 500 Anak Rohingya

Rumah Yatim kembali melakukan kegiatan penyalurannya di Kamp pengungsian warga Rohingya yang berada di Bangladesh, Minggu (13/05). Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka kunjungan sekaligus penyaluran bantuan bagi para pengungsi Rohingya yang berada di Bangladesh. Kegiatan penyaluran kali ini berupa penyaluran alat kesehatan dasar bagi anak-anak pengugsi Rohingya yang berada di dua kamp pengungsian khusus Child’s Care.

Dua tempat yang penyaluran bantuan ini adalah Kamp Jamtholi 2 dan Kamp Gundhum 2 di daerah Cox’s Bazar Bangladesh. Sekitar 500 paket bantuan di berikan kepada anak-anak di kedua Kamp ini. Jumlah pengungsi yang ada di 2 kamp pengungsian ini mencapai 140.000 jiwa dan sekitar 30.000 jiwa nya terdiri dari anak-anak. 500 anak yang menjadi penerima manfaat berupa alat kesehatan ini.

Paket bantuan alat kesehatan ini terdiri dari handuk, kelambu anti nyamuk, pasta gigi, sikat gigi, sabun mandi, sabun cuci, minyak telon dan minyak rambut untuk bayi. Selama ini mereka hanya bisa mengandalkan bantuan dari para donatur serta dari organisasi kemanusiaan lokal Bangladesh, Internasional dan lembaga kemanusiaan lainnya.

“Harapan dari kegiatan penyaluran ini pastinya agar mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka. Agar kesehatan mereka dapat terjaga dengan menjaga kebersihan mereka.” Ujar Sinu Tontori, salah satu relawan Rumah Yatim.

Masih banyak anak yang berada di pengungsian ini yang amat membutuhkan berbagai bantuan kebutuhan dasar, tak hanya berupa alat kesehatan tetapi juga berbagai kebutuhan dasar lainnya seperti makanan, pakaian, obat-obatan, rumah tinggal yang layak serta MCK. Bantuan dari para donatur masih amat dibutuhkan oleh mereka. Mari bantu memenuhi kebutuhan anak-anak Yatim dan dhuafa pengungsi Rohingya dengan menyalurkan donasi terbaik anda.

“Terimakasih untuk para donatur yang telah membantu Rumah Yatim dengan konstribusi nya selama ini sehingga para pengungsi Rohingya dapat sedikit terbantu dengan kedatangan tim relawan ke Bangladesh,” lanjut Sinu Tontori.

UPDATE #21
14 Mei 2018

Sembelih Lima Ekor Sapi, Upaya Rumah Yatim Penuhi Gizi Pengungsi Rohingya

Kebutuhan akan gizi dan pangan menjadi salah satu permasalahan utama saat relawan Rumah Yatim mengunjungi camp pengungsi Rohingya di wilayah Cox's Bazar, Bangladesh. Kedatangan Rumah Yatim tersebut untuk merealisasikan sejumlah program yang bekerjasama dengan lembaga kemanusiaan Small Kindness Bangladesh untuk para pengungsi Rohingya.

Salah satu program yang direalisasikan ialah memberikan makanan untuk memenuhi gizi anak dan orang tua pengungsi Rohingya. Minggu (13/5) malam waktu setempat, relawan Rumah Yatim beserta Small Kindness Bangladesh menyembelih lima ekor sapi. Nantinya, daging sapi tersebut akan disalurkan bagi para pengungsi yang ada di Jamtoli Camp, Cox's Bazar, Bangladesh.

Menurut informasi yang didapat oleh jurnalis Rumah Yatim, prosesi penyembelihan sapi dilakukan pukul 01.30 dini hari waktu setempat. Selain itu, penyembelihan ini juga disaksikan oleh Direktur Utama Small Kindness, Ridwan. Serta, hadir pula sejumlah jajaran staf pusat Small Kindness.

"Lima sapi tersebut akan didistribusikan di salah satu camp di Jamtoli untuk 500 kepala keluarga," papar relawan kemanusiaan Rumah Yatim, Abdurrahman, melalui pesan singkat.

Penyaluran bantuan tersebut dilaksanakan pada Senin (14/5). Penyaluran tersebut dilakukan dalam bentuk makanan cepat saji. Hal ini, agar memudahkan para pengungsi, khususnya anak-anak untuk mengonsumsi secara langsung. Bantuan makanan ini juga, merupakan upaya dalam memenuhi kebutuhan gizi anak di pengungsian.

"Makanan tersebut sebagai tambahan gizi bagi anak anak dan keluarga di sana," tambahnya.

Abdurrahman mengungkapkan, bantuan yang diberikan Rumah Yatim tentunya tidak mencukupi seluruh kebutuhan para pengungsi. Namun, kata dia, masih dibutuhkan ratusan bahkan ribuan sapi dan bahan pokok lainnya untuk memenuhi para pengungsi yang ada di wilayah Cox's Bazar.

"Bantuan ini juga sebenarnya belum memenuhi kebutuhan pokok para pengungsi seluruhnya. Sehingga bantuan makanan dan bantuan lainnya masih dibutuhkan para pengungsi yang ada di Bangladesh," tutupnya.

UPDATE #20
14 Mei 2018

Sembelih Lima Ekor Sapi, Upaya Rumah Yatim Penuhi Gizi Pengungsi Rohingya

Kebutuhan akan gizi dan pangan menjadi salah satu permasalahan utama saat relawan Rumah Yatim mengunjungi camp pengungsi Rohingya di wilayah Cox's Bazar, Bangladesh. Kedatangan Rumah Yatim tersebut untuk merealisasikan sejumlah program yang bekerjasama dengan lembaga kemanusiaan Small Kindness Bangladesh untuk para pengungsi Rohingya.

Salah satu program yang direalisasikan ialah memberikan makanan untuk memenuhi gizi anak dan orang tua pengungsi Rohingya. Minggu (13/5) malam waktu setempat, relawan Rumah Yatim beserta Small Kindness Bangladesh menyembelih lima ekor sapi. Nantinya, daging sapi tersebut akan disalurkan bagi para pengungsi yang ada di Jamtoli Camp, Cox's Bazar, Bangladesh.

Menurut informasi yang didapat oleh jurnalis Rumah Yatim, prosesi penyembelihan sapi dilakukan pukul 01.30 dini hari waktu setempat. Selain itu, penyembelihan ini juga disaksikan oleh Direktur Utama Small Kindness, Ridwan. Serta, hadir pula sejumlah jajaran staf pusat Small Kindness.

"Lima sapi tersebut akan didistribusikan di salah satu camp di Jamtoli untuk 500 kepala keluarga," papar relawan kemanusiaan Rumah Yatim, Abdurrahman, melalui pesan singkat.

Penyaluran bantuan tersebut dilaksanakan pada Senin (14/5). Penyaluran tersebut dilakukan dalam bentuk makanan cepat saji. Hal ini, agar memudahkan para pengungsi, khususnya anak-anak untuk mengonsumsi secara langsung. Bantuan makanan ini juga, merupakan upaya dalam memenuhi kebutuhan gizi anak di pengungsian.

"Makanan tersebut sebagai tambahan gizi bagi anak anak dan keluarga di sana," tambahnya.

Abdurrahman mengungkapkan, bantuan yang diberikan Rumah Yatim tentunya tidak mencukupi seluruh kebutuhan para pengungsi. Namun, kata dia, masih dibutuhkan ratusan bahkan ribuan sapi dan bahan pokok lainnya untuk memenuhi para pengungsi yang ada di wilayah Cox's Bazar.

"Bantuan ini juga sebenarnya belum memenuhi kebutuhan pokok para pengungsi seluruhnya. Sehingga bantuan makanan dan bantuan lainnya masih dibutuhkan para pengungsi yang ada di Bangladesh," tutupnya.

UPDATE #19
13 Mei 2018

Rumah Yatim Salurkan 500 Paket Sembako Bagi Pengungsi Rohingya

Di hari ketiga, relawan kemanusiaan Rumah Yatim mengunjungi Ghundum dan Bhalukali Camp di Cox's Bazar Bangladesh. Di dua camp tersebut terdapat sekitar 19.496 keluarga serta ada 14.123 rumah tinggal yang terbuat dari bambu dengan ukuran sekitar 3X4 meter yang rata-rata dihuni oleh 6-10 anggota keluarga.

"Tentu ini bukan tempat yang layak untuk kehidupan berkeluarga," kata salah satu relawan, Abdurrahman.

Selain akan membangun home shelter bagi para pengungsi, Rumah Yatim pun memberikan bahan pangan pokok. Dalam kondisi becek karena semalam turun hujan, tim relawan Rumah Yatim mendistribusikan 500 paket sembako di Bhalukali Camp, Sabtu (12/5).

Abdurrahman mengatakan, bahan pangan itu berisi beras sekitar 25 kg, kentang, minyak, kue untuk anak, dan bahan makanan lainnya. "Lima ratus paket sembako ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi 3500 orang atau 500 kepala keluarga," ungkapnya.

Penyaluran paket sembako tersebut, tim relawan Rumah Yatim didampingi mitra dan dikawal ketat oleh tentara militer Bangladesh. Karena pernah terjadi situasi di lapangan tidak terkendali di akibatkan karena jumlah pengungsi yang lebih banyak dibandingkan jumlah bantuannya. Sehingga biasanya para pengungsi berebut, dan tidak jarang petugas keamanan bertindak tegas pada pengungsi yang kurang disiplin.

"Tapi Alhamdulillah penyaluran berjalan lancar sesuai harapan, walaupun ada sedikit insiden," ujar Abdurrahman.

Ia menjelaskan, di Bhalukali Camp terdapat sekitar 12.000 keluarga yang masih menunggu bantuan pangan, pakaian, alat kesehatan, dan tempat tinggal. Masih banyak pengungsi yang mengharapkan bantuan dari masyarakat Indonesia khususnya, dan masyarakat dunia umumnya.

"Mudah-mudahan para donatur Indonesia tidak henti memberikan kontribusinya, dan semoga ke depannya Rumah Yatim dapat menyalurkan bantuan bagi para pengungsi Rohingya," tuturnya.

UPDATE #18
12 Mei 2018

Tim Relawan Rumah Yatim Kunjungi Kamp Pengungsian

Tim relawan Rumah Yatim melakukan kunjungan sekaligus survei lapangan untuk melihat langsung kondisi disana. Daerah yang di kunjungi pada Jum’at (11/05) adalah Jamatholi yang merupakan daerah bagian dari Cox’s Bazar yang berada di pinggir laut. Tempat pertama yang di kunjungi yaitu kamp pengungsian yang terdapat sekitar 10.000 kepala keluarga. Keadaan mereka sungguh memprihatinkan, mereka harus bertahan hidup terkena panas terik matahari bahkan guyuran hujan. Hal ini karena para pengungsi tinggal di rumah yang tidak cukup layak untuk di huni.

Rumah-rumah mereka terbuat dari bambu, beratap terpal dan berlantai tanah. Bahkan sebagian rumah tidak beratap, sehingga saat matahari sedang terik mereka harus merasakan panas dan pengap di dalam rumah mereka. Dengan ukuran rumah sekitar 3x4 dengan di tempati satu keluarga yang rata-rata terdiri dari 5-6 orang.

Kunjungan berikutnya yaitu ke Masjid dan Madrasah yang berada di kawasan kamp pengungsian di Jamatholi. Tak lupa pula tim Rumah Yatim mengunjungi tempat Trauma Healing yang mana ada sekitar 250 anak yatim yang menjadi korban kekerasan tentara Myanmar dibina. Menurut guru mereka disana, kebanyakan anak disana memang mengalami trauma akibat kekerasan yang pernah mereka lihat bahkan mereka alami sendiri.

Kunjungan terakhir adalah melihat dapur umum yang mana di dapur ini lah tempat produksi dan pendistribusian makanan bagi para pengungsi Rohingya yang jumlahnya ribuan jiwa. Keadaan yang amat memprihatinkan adalah saat satu keluarga harus berjuang bergantian dalam meminta pertolongan agar dapat menyambung hidup. Saat kita hidup dalam serba ada, mereka justru hidup dalam segala keterbatasan. Kondisi yang terlihat disana menjadi alasan kuat bagi Rumah Yatim mengajak seluruh donatur untuk membantu mengurangi beban mereka.

“Kami berharap dengan hasil survei ini bisa memberi gambaran yang konkrit terhadap program-program yang akan di implementasikan disini dan juga kepada para masyarakat Indonesia diharapkn dapat lebih peduli pada saudara kita disini, “ ujar Abdurahman di tanyai via sambungan Whats App.

UPDATE #17
11 Mei 2018

Dukung Cita-Cita Yatim Rohingya, Rumah Yatim Beri Bantuan Pendidikan

Relawan kemanusiaan Rumah Yatim, Sinu Tontori, menyerahkan simbolis bantuan pendidikan kepada Lembaga Small Kindness di Kota Dhaka, Bangladesh, Rabu (9/5). Bantuan pendidikan tersebut akan diserahkan kepada anak-anak yatim Rohingya di pengungsian Kota Cox's Bazar, Bangladesh. 

Menurut pemaparan salah satu relawan kemanusiaan Rumah Yatim, Abdurrahman, pemberian alat tulis tersebut guna mendukung proses pendidikan yang ada di pengungsian. Karena, keterbatasan perlengkapan sekolah menjadi salah satu permasalahan utama yang ada di pengungsian. Pemberian alat tulis ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Rumah Yatim untuk mendukung anak yatim di pengungsian agar bisa tetap belajar.

"Terutama anak-anak bisa belajar dan meraih cita-cita mereka di masa yang akan datang," jelasnya.

Selain itu, Rumah Yatim berencana akan memberikan bantuan pembangunan home shelter sementara bagi keluarga yatim di pengungsian. Pembangunan ini, kata dia, belum memenuhi kesempurnaan. Karena persoalan membangun rumah di tempat pengungsian belum mendapat otoritas penguasa setempat. Sehingga, rumah yang dibangun adalah rumah sementara yang hanya bisa melindungi para pengungsi dari hujan dan panas.

"Rumah Yatim berencana akan membangun beberapa unit rumah," ungkap Abdurrahman.

Di samping itu, para pengungsi masih memerlukan bantuan lainnya berupa keperluan rumah tangga, tempat tidur, pakaian, dan alat penerangan. Apalagi, kondisi tempat tinggal sementara yang saat ini dihuni para pengungsi jauh dari kata layak. 

"Banyak cara yang dilakukan untuk membantu para pengungsi. Mudah-mudahan masyarakat Indonesia bisa terus membantu menyelesaikan permasalahan sosial yang ada di sana," pungkasnya.

UPDATE #16
9 Mei 2018

Tim Relawan Rumah Yatim Kunjungi Small Kindness Bangladesh

Tim relawan Rumah Yatim mengunjungi salah satu Lembaga Kemanusiaan yaitu Small Kidness Bangladesh yang berada di Ibukota Dhaka, Rabu (09/05). Small Kidness Bangladesh merupakan salah satu lembaga kemanusiaan yang fokus terhadap anak-anak Yatim di Bangladesh. Lembaga ini juga membantu para pengungsi Rohingya yang berada di Bangladesh. Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk melakukan koordinasi serta untuk mengetahui koondisi terkini dari para pengungsi Rohingya yang berada di sana, khususnya di salah satu kota yang bernama Cox’s Bazar.

Menurut Mr. Abu Hurairah dan Mr. Sofwan selaku pengurus dari Small Kidness Bangladesh pada kesempatan ini menyebutkan bahwa para pengungsi Rohingya masih membutuhkan banyak bantuan baik berupa bahan pokok makanan, tempat tinggal dan juga kebutuhan hidup lainnya.

“Memasuki musim penghujan di Bangladesh, para pengungsi Rohingya yang berada di tenda-tenda pengungsian mengalami masalah kesehatan karena kondisi tenda yang mereka tempati jauh dari kata layak”, ujar Mr. Abu Hurairah.
Dari hasil kunjungan ini, tim relawan Rumah Yatim dan Small Kidness Bangladesh bersepakat untuk merealisasikan beberapa program di lapangan.

Yang pertama adalah program bantuan berupa bahan pokok makanan yang akan diberikan kepada lebih dari 1000 kepala keluarga yang berada di pengungsian Cox’s Bazar. Selain itu bantuan kedua yang akan diberikan berupa makanan siap saji yang InsyaaAllah tim Rumah Yatim akan menyembelih 5 ekor Sapi untuk di distribusikan kepada 500 kepala keluarga sebagai tambahan Gizi bagi mereka khususnya anak-anak Yatim Rohingya.

Bantuan selanjutnya yang akan diberikan adalah berupa peralatan tulis yang dibutuhkan untuk prosesi belajar mengajar anak-anak Rohingya di tenda pengungsian atau Shelter House yang telah dibangun oleh beberapa lembaga. Kemudian adalah program pembangunan beberapa rumah yang diperuntukkan bagi para pengungsi khususnya keluarga Yatim.

Semoga Allah memberikan kelancaran dan kemudahan, mohon do’a dari para donatur untuk kelancaran tim Rumah Yatim di Bangladesh dan tak lupa kami ucapkan terima kasih banyak atas kontribusinya selama ini.

UPDATE #15
8 Mei 2018

Bantu Pengungsi Rohingya, Rumah Yatim Berangkatkan Dua Relawan ke Bangladesh

Rumah Yatim akan memberangkatkan relawan kemanusiaan dari Bandara Internasional Soekarno Hatta menuju Dhaka, Bangladesh, Selasa (8/5) siang. Dua relawan yang diberangkatkan Rumah Yatim, yakni Abdurrahman dan Sinu Tontori. Keberangkatan ini bermaksud untuk menyerahkan secara langsung bantuan bagi para pengungsi Rohingya yang berada di Bangladesh.

Abdurrahman mengatakan, sejak kesuruhan pada 5 Agustus 2017 sampai dengan saat ini, terdapat sekitar 400 ribu lebih pengungsi yang berada di perbatasan Banglasdesh dan negara Myanmar.

Atas kejadian itu, Rumah Yatim akan memberikan beberapa jenis bantuan. Antara lain, bantuan sarana pendidikan, termasuk alat-alat tulis yang akan diberikan kepada anak-anak pengungsi. Bantuan berupa sarana pendidikan ini diharapkan dapat memfasilitasi anak-anak, agar bisa tetap belajar.

"Supaya mereka tetap belajar, walaupun di pengungsian. Mereka bisa terus menimba ilmu untuk masa depan mereka dan negaranya," ungkap Abdurrahman.

Kemudian, bantuan sarana ibadah pun diberikan, berupa sarana prasarana masjid, bantuan untuk para imam dan marbot masjid yang ada di pengungsian. Selain itu, Rumah Yatim juga akan memberikan bantuan berupa bahan pokok bagi para pengungsi.

"Kami berharap bantuan pada tahap awal ini bisa membantu lebih dari 2500 pengungsi di sana. Kami harap ke depannya bantuan ini akan terus diberikan sesuai kebutuhan mereka di sana. Bantuan ini diberikan sebagai bentuk kepedulian umat Islam khususnya bangsa Indonesia kepada saudara-saudaranya yang menjadi korban kekerasan di Myanmar yang kini mengungsi di Bangladesh," paparnya.

Rencananya, relawan Rumah Yatim akan berada di Bangladesh sekitar 7-10 hari untuk melakukan kegiatan kemanusiaan. "Mohon doa dari semuanya, dan kami ucapkan terima kasih kepada para donatur di Indonesia yang telah berkontribusi memberikan bantuan kepada para pengungsi Rohingya di Bangladesh," tuturnya.

UPDATE #14
18 April 2018

Pengungsi Rohingya Tiba di Myanmar, Rombongan Berikutnya Menyusul

Myanmar menerima rombongan pertama dari 700 ribu pengungsi Rohingya di kamp permukiman pada Sabtu 14 April 2018, setelah mereka melarikan diri ke Bangladesh dari kebrutalan militer pada Agustus tahun lalu. Rombongan berikutnya diharapkan menyusul. Kabar tersebut disampaikan ABC News setelah mengutip kantor berita Associated Press.

Menurut sebuah pernyataan di situs Facebook Komite Informasi Myanmar, lima keluarga dikirim ke kamp permukiman Taipingolemy di Rakhine pada Sabtu pagi, waktu setempat. "Lima anggota keluarga muslim tiba pusat penerimaan Taungpyoletwea di negara bagian Rakhine pada Sabtu pagi," demikian pernyataan pemerintah Myanmar, seperti dilansir Reuters pada Ahad, 15 April 2018.

Keluarga itu kemudian diperiksa oleh petugas imigrasi dan kesehatan, sebelum diberikan bantuan bahan makanan seperti beras, kelambu, selimut, pakaian dan peralatan dapur.

Pemerintah Myanmar juga memberikan Kartu Verifikasi Nasional atau NVC kepada mereka sebagai bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah untuk mendaftarkan Rohingya sebelum diakui kewarganegaraannya. Namun Kartu tersebut ditolak secara luas oleh para pemimpin komunitas Rohingya karena dianggap tidak menjamin pengakuan sebagai penduduk Myanmar seutuhnya.

Repatriasi pengungsi Myanmar dari Bangladesh berlangsung menyusul keprihatinan PBB dan lembaga kemanusiaan internasional atas kegagalan Myanmar menangani diskriminasi hukum, kemanusiaan serta masalah penganiayaan pada etnis minoritas Rohingya. Setelah rombongan pertama tiba, pemerintah Myanmar belum memberikan informasi terkait kapan pengungsi Rohingya lainnya akan dipulangkan.

Myanmar dan Bangladesh menandatangani kesepakatan pada Januari 2018 untuk menyelesaikan repatriasi sukarela para pengungsi. Untuk menampung kepulangan pengungsi rohingya, Myanmar mendirikan dua pusat penerimaan sementara di dekat perbatasan di Rakhine. Hampir 700.000 pengungsi Rohingya melarikan diri dari Myanmar dan menetap di kamp pengungsi Bangladesh. (dunia.tempo.co)

UPDATE #13
10 April 2018

Akankah Kaum Minoritas Terus Tertindas

Dalam beberapa bulan terakhir, media internasional tertuju pada Myanmar yang berfokus pada penderitaan orang-orang Rohingya di bagian barat negara itu. Sejak Agustus 2017, serangan brutal tentara militer terhadap minoritas etnis Muslim ini telah mengirim lebih dari 750.000 orang - 90 persen dari penduduk Rohingya yang tinggal di negara bagian Rakhine - melarikan diri melintasi perbatasan ke Bangladesh, dalam apa yang hanya bisa digambarkan sebagai kampanye genosida yang terkoordinasi. Rohingya, salah satu kelompok tanpa negara terbesar di dunia, telah lama menjadi target favorit untuk penganiayaan oleh otoritas pusat Buddha di negara itu. Rohingya memiliki agama yang berbeda, warna kulit yang berbeda, dan berbicara dengan bahasa yang berbeda dari kebanyakan tetangga mereka.

Kampanye melawan Rohingya secara radikal telah memperluas kemampuan militer untuk pembersihan etnis dan, mungkin yang lebih penting, tampaknya sebagian besar populasi tampaknya mendukung agresi tentara terhadap kelompok tersebut. Untuk memahami mengapa semua konflik ini bertahan selama ini. Enam puluh delapan persen dari populasi negara adalah Bamar (etnis Burma). Bamar terutama terkonsentrasi di sekitar Lembah Irrawaddy, jantung negeri itu. Myanmar juga 88 persen penganut Buddha, dan mayoritas dari kelompok itu menganut doktrin Theravada konservatif. Gerakan-gerakan separatis ini berasal dari fakta bahwa, segera setelah kemerdekaan, umat Buddha Bamar Theravada memenangkan kendali besar atas pemerintah dan militer dan segera mencap mereka sebagai identitas resmi negara.

Pada tahun-tahun berikutnya, sebagai suksesi kediktatoran militer yang berusaha membangun sebuah bangsa yang bersatu, mereka secara sistematis meminggirkan dan menekan agama dan etnis minoritas menggunakan berbagai tindakan yang sangat berat. Banyak kelompok yang ditolak kewarganegaraannya, melihat desa mereka dihancurkan, dan hak pernikahan mereka dibatasi. Pihak berwenang di negara bagian Rakhine telah membatasi jumlah anak-anak Muslim Rohingya diizinkan untuk memiliki - biasanya maksimum dua, tepat di bawah tingkat penggantian populasi. Dalam beberapa tahun terakhir, pertikaian antara tentara dan gerakan separatis semakin meningkat sekali lagi ketika tentara federal menemukan tekad baru.

Pada tahun 2011, pertempuran antara militer Myanmar dan Tentara Kemerdekaan Kachin separatis di utara negara itu menyebabkan hampir 100.000 orang Kachin. Tujuh tahun kemudian, para pengungsi masih tinggal di kamp-kamp pengungsi internal, dengan sedikit prospek untuk membangun kembali kehidupan mereka. Dan dalam dua tahun terakhir, tentara semakin banyak menyerang target di dalam atau di dekat kamp dan desa sipil. (foreignpolicy.com)

UPDATE #12
5 April 2018

Bangladesh Akan Relokasi 100 Ribu Rohingya ke Pulau Terpencil

Bangladesh akan mulai memindahkan sekitar 100 ribu pengungsi Rohingya ke Thengar Car, pulau terpencil di pesisir selatan negaranya pada Juni mendatang.

"Proses akan dimulai pada pekan pertama Juni. Kami membangun akomodasi untuk 100 ribu orang," ujar Menteri Manajemen Bencana Bangladesh, Shah Kamal, kepada perwakilan sejumlah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Rabu (4/4).

Kamal mengatakan bahwa saat ini Bangladesh sudah membangun tempat tinggal yang dapat menampung 50 ribu pengungsi, sisanya akan dirampungkan dalam waktu dua bulan ke depan.

Ia juga memastikan Bangladesh bakal meninggikan tanah di pulau tersebut untuk menghindari banjir. Rencana relokasi yang sebenarnya sudah diajukan sejak 2015 ini sempat tertunda karena banyak kritik, terutama mengenai kelayakan pulau tersebut.

Pulau Thengar Car pertama kali muncul ke permukaan air di lepas pantai Bangladesh sekitar 12 tahun lalu. Daratan ini biasanya terendam banjir pada Juni hingga September. 

Ketika air tenang, pulau ini kerap digunakan para pembajak untuk menyandera orang demi mendapatkan tebusan.

Bangladesh kembali mengajukan usulan ini tahun lalu, setelah gelombang pengungsi Rohingya yang menghindari kekerasan di Rakhine membanjiri negara itu sejak Agustus.

Berdasarkan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Bangladesh sudah menampung 700 ribu pengungsi Rohingya hanya dari gelombang kekerasan terakhir ini.

Pada November, Bangladesh pun mengalokasikan dana sekitar US$280 juta untuk membangun pulau tersebut.Awalnya, Bangladesh menargetkan relokasi dimulai pada akhir tahun ini, tapi proses ini dipercepat karena PBB khawatir kamp pengungsi di Bangladesh tersapu banjir saat angin muson bertiup pada pertengahan 2018. (manado.tribunnews.com)

UPDATE #11
29 Maret 2018

Pencari Fakta PBB: Myanmar Diduga Lakukan Genosida ke Rohingya

Tim Pencari Fakta Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia PBB untuk Myanmar(TPF Myanmar) meyakini bahwa pemerintah negara itu mungkin melakukan genosida -- sebuah pelanggaran HAM -- terhadap etnis Rohingya.

"Kami meyakini bahwa kejahatan yang terjadi pada 9 Oktober 2016 - 25 Agustus 2017 semakin memenuhi unsur-unsur genosida," kata Yanghee Lee salah satu Special Rapporteur TPF Myanmar memaparkan laporannya di Dewan HAM PBB Jenewa pada Senin 12 Maret 2018, seperti dikutip dari CNN (13/3/2018).

Dalam kesempatan itu, Lee juga meminta agar PBB mendorong pemeriksaan lebih lanjut yang menerapkan asas akuntabilitas tinggi demi menemukan pihak-pihak yang benar-benar bertanggungjawab atas peristiwa itu.

Ia juga mendorong agar PBB membentuk sebuah badan di Cox's Bazaar, Bangladesh -- lokasi pengungsi Rohingya saat ini -- untuk mengumpulkan bukti pelanggaran hak asasi manusia lain dalam penyelidikan lanjutan.

"Kami meminta untuk segera dilakukannya penyelidikan lanjutan yang imparsial, adil, dan independen, guna memfasilitasi proses pidana internasional yang adil dan independen di sebuah tribunal khusus," lanjut Yanghee.

Bukti yang Kredibel

Sementara itu, seperti dikutip dari BBC, laporan yang dirilis oleh TPF Myanmar merupakan hasil wawancara terhadap sekitar 600 korban dan saksi mata saat tim pencari fakta berkunjung ke Bangladesh, Malaysia, dan Thailand.

Para subjek wawancara, merupakan etnis Rohingya yang sempat tinggal di Negara Bagian Rakhine, Kachin, dan Shan, di Myanmar -- sebelum akhirnya mereka mengungsi keluar dari negara tersebut menyusul terjadinya gelombang kekerasan tahun 2016.

"Kejadian yang kami selidiki mewujudkan pola pelanggaran HAM secara sistematis dan berkesinambungan di Myanmar ... Bantahan apapun tidak berlaku ... karena kami memiliki ratusan pengakuan kredibel yang mengerikan," kata Marzuki Darusman Ketua Special Rapporteur TPF Myanmar di Dewan HAM PBB Jenewa pada kesempatan yang sama.

"Kami juga memiliki bukti lain yang menambah kredibilitas hasil wawancara, yakni berupa citra satelit yang menggambarkan desa-desa Rohingya yang dihancurkan," tambah Yanghee Lee.

Hingga berita ini turun, pihak pemerintah Myanmar belum memberikan komentar terkait hasil penyelidikan seputar pelanggaran HAM terhadap etnis Rohingya itu.(liputan6.com)

UPDATE #10
26 Maret 2018

Hari Kemerdekaan Bangladesh dan Pengungsi Rohingya

Hari ini Senin, 26 Maret 2018, biasanya warga Banglades libur karena memperingati hari kemerdekaannya. Negara ini merupakan negara termuda di Asia Selatan setelah menyatakan diri berpisah dari Pakistan. Memang pernah menjadi bagian dari Pakistan, yaitu Pakistan Timur.

Bangladesh terletak di wilayah yang dahulu bernama Bengal (Bengali) Timur, Asia Selatan. Negara ini berani memproklamasikan diri sebagai negara Islam tahun 1988. Wilayah seluas Pulau Jawa ini pernah makmur pada masa Kekaisaran Mogul, 1528-1857 yang berazakan Islam.

Tahun 1971, Liga Awami mempelopor gerakan kemerdekaan Bangladesh. Akhirnya pecah perang saudara dengan Pakistan, menelan korban satu juta jiwa dan 10 juta lainnya mengungsi ke India. Resmi berpisah dari Pakistan dan memproklamirkan negara merdeka baru Bangladesh pada tanggal 16 Desember. Pada tahun 1971 itu Sheikh Mujibur Rahman diangkat sebagai perdana menteri.

Sekarang yang menjadi Perdana Menteri Bangladesh adalah puteri sulung Sheik Mujibur Rahman tersebut, yaitu Sheikh Hasina Wazed yang sekarang sudah berusia 70 tahun. Ia paham sekali dengan situasi Bangladesh, karena ketika ayah dan keluarganya dibunuh dalam tragedi berdarah pada 15 Agustus 1975, ia mendengar tragedi itu dari Jerman Barat bersama adiknya Sheikh Rehana.

Kemudian Sheikh Hasina Wazed pindah ke Inggris dan India, akhirnya kembali kembali ke tanah airnya, Bangladesh pada 17 Mei 1981. Ia terpilih sebagai Perdana Menteri Bangladesh dari tahun 1996 hingga 2001. Kemudian tahun 2009 hingga sekarang kembali menjadi Perdana Menteri Bangladesh.

Ulang Tahun Kemerdekaan Bangladesh kali ini, menurut saya, pengungsi Rohingya di Myanmar yang melarikan diri melalui perbatasan dengan Bangladesh, sepertinya masalah pelik yang sedang dihadapi Sheikh Hasina Wazed. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, ada sekitar 146.000 pengungsi yang masuk ke Bangladesh, sehingga
Perdana Menteri Sheikh Hasina sudah memerintahkan membuat data resmi mengenai pengungsi Rohingya ini.

Negara bagian di Myanmar, Rakhine memang dekat sekali dengan perbatasan Bangladesh. Menurut Program Pangan Dunia dibutuhkan sekitar 11,3 juta dollar AS untuk membantu pengungsi Rohingya. Bagaimana pun menjadi masalah baru buat perempuan dan anak-anak. Tidak jarang mereka ditembak pasukan Myanmar di perbatasan. Belum lagi ada di antara mereka diperkosa oleh oknum militer. Yang jelas, menjadi pengungsi, baik di Myanmar atau Suriah tetap mengandung resiko bagi penduduk yang lemah (pengungsi). (wartamerdeka.net)

UPDATE #9
20 Maret 2018

Myanmar 'membuldoser' desa Rohingya di Rakhine, kata Amnesty International

Myanmar dituduh melakukan sebuah "perampasan lahan secara militer" terhadap daerah di wilayah negara bagian Rakhine yang dulu dihuni oleh etnik Rohingya, seperti disampaikan Amnesty International dalam laporan terbarunya.

Kelompok HAM itu menyebut berdasarkan gambar citra satelit dan para saksi, desa-desa tersebut telah dibuldoser untuk melancarkan proyek infrastruktur baru sejak Januari lalu.

Seorang juru bicara Amnesty mengatakan bahwa langkah militer ini "dikhawatirkan" menghilangkan bukti kejahatan terhadap Rohingya.

Pemerintah Myanmar belum memberikan respon terhadap laporan tersebut.

Sebelumnya, Myanmar meminta "bukti yang jelas" untuk mendukung tuduhan dari PBB yang menyebutkan ada dugaan "aksi genosida" terhadap Rohingya.

Amnesty mengatakan ketika gambar dalam laporan terbaru ini mewakili "hanya sebagian, situasi yang meningkatkan kepedulian mengenai implikasinya terhadap masa depan ratusan ribu Rohingya... seperti puluhan ribu orang yang masih hidup di wilayah tersebut". (bbc.com)

UPDATE #8
13 Maret 2018

Amnesty International: Myanmar Bangun Markas Militer di Desa Rohingya

Setelah mengusir hampir 700 ribu Muslim Rohingya keluar dari Myanmar, militer negara itu kini membangun basis-basis militer di lahan di mana sebagian dari rumah dan masjid Rohingya dulu berdiri, kata Amnesty International, Senin (12/3), dengan menyebutkan bukti baru dari gambar satelit, Reuters melaporkan.

Laporan Amnesty, Senin, sama dengan pemberitaan sebelumnya yaitu sebagian dari lebih 350 desa Rohingya, yang musnah terbakar dan sebagian bangunan yang tidak rusak di negara bagian Rakhine, kini sudah diratakan dengan tanah. Dalam satu kasus penduduk Rohingya yang masih bertahan di Myanmar diusir paksa supaya tempat mereka dijadikan basis militer.

Juru bicara pemerintah Myanmar tidak dapat dimintai keterangan. Pejabat-pejabat Myanmar mengatakan desa-desa tadi diratakan dengan tanah dan kemudian di situ dibangun perumahan baru bagi Rohingya yang pulang dari pengungsian.

Myanmar telah meminta bukti jelas untuk mendukung kesimpulan PBB dan lainnya bahwa di negara bagian Rakhine telah terjadi pembersihan etnis.

November lalu Myanmar dan Bangladesh mencapai kesepakatan untuk memulangkan para pengungsi Rohingya. Myanmar mengatakan perumahan sementara sudah siap untuk menampung pengungsi yang pulang, tetapi proses pemulangan belum dimulai.

Amnesty International mengatakan, perubahan yang dilakukan Myanmar di daerah Rohingya dulu tinggal tampaknya dirancang untuk menampung lebih banyak alat keamanan dan penduduk bukan Rohingya sehingga bisa mencegah Rohingya setuju untuk pulang. (voaindonesia.com)

UPDATE #7
7 Maret 2018

Krisis Rohingya: Utusan PBB mengatakan pengungsi alami 'pemaksaan kelaparan'

Myanmar masih belum menghentikan pembersihan etnis atas Rohingya di negara bagian Rakhine, seperti ditegaskan oleh pejabat tinggi PBB. Kajian utusan PBB bahwa 'upaya teror dan pemaksaan kelaparan' terus berlangsung itu diungkapkan 'enam bulan setelah operasi militer di Rakhine yang menyebabkan pengungsian besar-besaran umat Muslim Rohingya'.

"Pembersihan etnis atas Rohingya oleh Myanmar terus berlangsung," jelas asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk hak asasi manusia, Andrew Gilmour, Selasa (06/03).

Sejak Agustus 2017 lalu, diperkirakan 700.000 orang Rohingya menyeberang ke perbatasan Bangladesh. Para pengungsi mengatakan mereka menghadapi pembunuhan, pemerkosaan, sementara kampung mereka dibakar oleh tentara maupun kelompok sipil radikal. Militer Myanmar mengatakan operasi militer digelar untuk memberantas militan Rohingya -yang dituduh menyerang sejumlah pos keamanan- dan tidak menyasar warga sipil di negara bagian Rakhine.

Utusan PBB, Andrew Gilmour, mengungkapkan penilaiannya atas nasib umat Rohingya itu setelah berkunjung ke kamp pengungsi di Cox's Bazar, Bangladesh.

"Saya kira kita tidak bisa mengambil kesimpulan lain dari yang saya lihat dan dengar di Cox's Bazar," tuturnya.

"Bentuk kekerasan berubah dari membiarkan pembunuhan berdarah dingin dan pemerkosaan pada tahun lalu ke upaya dengan intensitas yang lebih rendah dalam upaya teror dan memaksa kelaparan," jelasnya kepada kantor berita AFP usai berkunjung ke kamp pengungsi yang padat.

Pihak berwenang Bangladesh dan Myanmar sudah menggelar perundingan untuk memulangkan para pengungsi Rohingya dalam waktu beberapa bulan mendatang namun pengerahan tentara Myanmar di daerah perbatasan kedua negara memicu kekhawatiran akan program pemulangan tersebut. Andrew Gilmour berpendapat 'tidak bisa dibayangkan' bahwa umat Rohingya kembali ke negara bagian Rakhine dalam waktu dekat dengan cara yang 'aman, bermartabat, dan berkesinambungan'.

"Pemerintah Myanmar sibuk mengatakan kepada dunia bahwa mereka siap menerima kembalinya Rohingya sementara pada saat yang sama pasukannya terus mengusir mereka ke Bangladesh."

Militer Myanmar menutup negara bagian Rakhine untuk wartawan, diplomat, dan sejumlah organisasi kemanusiaan kecuali untuk kunjungan singkat yang sudah diatur dan dengan pengawalan aparat pemerintah. Umat Rohingya tidak diakui sebagai warga negara oleh pemerintah Myanmar, yang menganggap mereka sebagai pendatang gelap. (www.bbc.com)

 

UPDATE #6
15 Februari 2018

Derita yang Menimpa Kaum Minoritas

Setelah Myanmar merdeka pada tahun 1948 kemudian menetapkan Undang-Undang kewarganegaraan yang tidak mencantumkan Rohingya sebagai salah satu etnis yang diakui negara. Buntutnya etnis minoritas itu tidak mendapat kewarganegaraan dan semakin rentan terhadap diskriminasi.

Sering disebut sebagai minoritas paling teraniaya di dunia, eksistensi Rohingya di Myanmar ibarat bertepuk sebelah tangan. Mereka tidak diakui sebagai warga negara, tidak punya hak sipil dan terjajah di tanah sendiri. Hingga kini ratusan ribu kaum Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Sebagian besar pengungsi Rohingya adalah perempuan dan anak-anak.

Pengungsi Rohingya di daerah Teknaf, Bangladesh yang sudah banyak menerima pengungsi. Banyak anggota keluarga yang sakit dan yang sudah tua mereka gotong dan akhirnya tiba di Teknaf. Lebih dari 200.000 bayi Rohingya kini berada di Bangladesh. Menurut UNHCR lebih dari 1.100 anak datang dari Rakhine tanpa disertai orang tua. Ini berarti korban dari konflik yang terjadi ini mengakibatkan meningkatnya angka anak-anak yatim. Rohingya yang cari perlindungan di daerah Teknaf menderita kekurangan makanan akut karena tidak tersedianya sumber makanan yang bisa dk konsumsi. Mereka hanya mengandalkan bantuan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan. Sehingga untuk mendapat makanan mereka harus berebutan. ( www.dw.id )

Tak hentinya derita yang mereka rasakan. Disaat hak mereka sebagai manusia untuk hidup dalam kebebasan, saat ini mereka justru hidup dalam ketakutan akan penindasan yang terjadi. Mari bersama membantu saudara kita disana. Semoga Allah memudahkan kita semua dalam membantu sesama.

UPDATE #5
12 Februari 2018

UNICEF: Puluhan Ribu Anak Rohingya Hidup dalam Kondisi Mirip Penjara

Lebih dari 650 ribu warga Rohingya telah lari ke Cox’s Bazaar, Bangladesh, sejak akhir Agustus untuk menyingkir dari kekerasan dan persekusi di negara bagian Rakhine. Sekitar separuh dari mereka adalah anak-anak.

Penasihat senior UNICEF, Marixie Mercado belum lama ini kembali dari kunjungan sebulan ke Myanmar. Ia mengatakan sulit untuk memperoleh gambaran sebenarnya mengenai anak-anak yang masih berada di sana, karena tidak adanya akses.

Namun, ia dapat memperoleh yang disebutnya pandangan sekilas yang merisaukan mengenai betapa menyedihkan kehidupan anak-anak yang tinggal di Rakhine Tengah. Mercado mengatakan lebih dari 60 ribu anak Rohingya masih berada di negara bagian Rakhine, hampir terlupakan dan terjebak dalam 23 kamp tempat mereka mengungsi akibat kekerasan tahun 2012. Mercado menggambarkan kondisi di dua kamp yang dikunjunginya.

"Kedua kamp berada di wilayah yang terletak di bawah permukaan laut. Hampir tidak ada pohon sama sekali. Hal pertama yang menyambut kita di kamp adalah bau yang menyengat yang membuat kita merasa mual. Bagian-bagian kamp merupakan genangan air limbah. Kemah disangga tiang-tiang, dan di bawahnya adalah sampah dan kotoran manusia. Di satu kamp, kolam tempat orang mengambil air hanya dipisahkan dari genangan air limbah dengan tanggul dari tanah,” ujar Mercado.

Mercado mengatakan anak-anak berjalan tanpa alas kaki di tanah becek dan sebagian dari mereka telah meninggal karena kecelakaan atau penyakit. Ditambahkan, sangat sulit bagi warga Rohingya itu untuk meninggalkan kamp untuk mendapat perawatan medis. Karena itu, orang minta bantuan tabib tradisional, penyedia layanan kesehatan yang tidak terlatih, atau mengobati diri sendiri.

Menurut Mercado kondisi kehidupan dan akses ke layanan yang menyelamatkan jiwa sangat perlu ditingkatkan. Ditambahkan, anak-anak juga tidak dapat memperoleh pendidikan yang layak. Mercado mengatakan pembelajaran dilakukan di ruang-ruang kelas sementara yang tidak diperlengkapi dengan layak, diajar oleh guru-guru relawan yang memiliki rasa pengabdian kuat tetapi tidak memiliki pelatihan formal. [voaindonesia.com]

UPDATE #4
2 Februari 2018

Kelangkaan Pangan yang Harus di Hadapi 650.000 Pengungsi Rohingya

Musim dingin tiba bagi lebih dari 650 ribu pengungsi Muslim-Rohingya di Bangladesh yang melarikan diri dari penumpasan brutal pasukan Myanmar. Rantai pasokan pangan dan tempat penampungan perlahan-lahan mulai teratur, tetapi antrian masih panjang, dan bahan pokok pun masih sangat kurang bagi semua pengungsi apalagi keluarga yang memiliki anggota lebih dari delapan orang.

Fatima Noor, salah satu pengungsi Rohingya yang baru tiba di Cox’s Bazaar Bangladesh mengatakan, “Mereka memberi kami 10-12 kilogram beras, tetapi itu tidak cukup. Ini yang mereka berikan kepada kami setiap bulan. Tetapi saya tidak mendapat lebih dari 10 kilogram beras.”

Program Pangan Sedunia WFP (World Food Programme) telah memberikan lebih dari 200 ribu ton beras bagi 185.000 kepala keluarga, tetapi mengakui bahwa itu tidak cukup. WFP berusaha mentargetkan keluarga yang memiliki anggota lebih banyak dengan mengupayakan peningkatan jatah pangan. Untuk keluarga dengan 4-6 orang anggota keluarga akan disesuaikan seperti biasa, sementara mereka yang memiliki anggota keluarga lebih dari 8 orang akan mendapat jatah dua kali lebih banyak.

Dengan fakta ini bisa di simpulkan betapa mereka membutuhkan bantuan dari kita semua. Saat hak nya sebagai manusia tak bisa dipenuhi inilah saatnya bagi kita untuk membantu dengan menunaikan kewajiban kita. Bersama membantu pengungsi Rohingya untuk hidup lebih baik lagi. (www.voaindonesia.com)

UPDATE #3
23 Januari 2018

Tangis Anak-anak Rohingya Saat Berdesakkan Demi Mendapatkan Makanan

Sebagaimana di ketahui saat ini, jumlah pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp-kamp pengungsian Bangladesh semakin membludak. Mereka melarikan diri dari Myanmar karena telah mengalami penindasaan, diskriminasi, dan kekerasan di negara bagian Rakhine. Tak sedikit dari mereka harus berjejalan dalam satu petak kamp pengungsian berbahankan dinding bambu dan beratapkan daun pinang berbalut terpal. Adapun lantainya hanya beralaskan tanah semata.

Tak hanya harus berbagi tempat, para pengungsi pun di buat tak berdaya dengan keterbatasan makanan untuk bertahan hidup. Demi mendapatkan bantuan makanan, pengungsi anak-anak dan lansia mesti nekat berdesak-desakan dengan pengungsi lainnya. Tangis anak-anak dan lansia saat berdesakan sudah tidak dipedulikan lagi, karena yang dipedulikan mereka hanyalah perut terisi untuk bertahan hidup.

Satu pertanyaan yang muncul, layakkah mereka di perlakukan seperti ini?Pantaskah mereka berdesakan untuk memenuhi perut kosong mereka di saat anak-anak seusia nya di belahan dunia lain sedang asyik dengan permainan mereka?Saatnya bantu meringankan beban anak-anak pengungsi Rohingya. Sudah saatnya mereka terbebas dari desak-desakkan, sudah saatnya mereka bisa bermain dan bersenang-senang di usianya yang masih kecil. Bersama mari penuhi pangan dan bantuan kebutuhan lainnya untuk meringankan beban mereka.


"Bersuci adalah separuh dari keimanan, ucapan Alhamdulillah akan memenuhi timbangan, subhanallah walhamdulillah akan memenuhi ruangan langit dan bumi, shalat adalah cahaya, dan shodaqoh (sedekah) itu merupakan bukti.” (HR. Muslim)

UPDATE #2
8 Januari 2018

50 Ribu Bayi akan Lahir dan Mulai Berjuang Untuk Hidup

Diperkirakan akan lahir 50 ribu bayi di kamp pengungsi warga Rohingya yang penuh sesak di Bangladesh tahun ini. Sebagian dari bayi ini karena korban pemerkosaan, namun semuanya lahir di pemukiman yang memiliki sanitasi buruk dimana mereka berpotensi terkena penyakit atau mengalami kekurangan gizi. Para pekerja kesehatan di kamp pengungsi itu berusaha keras membantu agar bayi-bayi bisa bertahan hidup, namun banyak diantaranya akan meninggal sebelum mereka mencapai usia lima tahun.

Sejak militer Myanmar empat bulan lalu melancarkan operasi militer sebagai balasan dari tindakan kelompok militan Rohingya menyerang pos militer dan polisi Myanmar, jumlah warga yang mengungsi dan melintas masuk ke Bangladesh mencapai angka hampir 655 ribu orang.

Sekarang diperkirakan ada 870 ribu warga Rohingya yang tinggal di kamp pengungsian dan lima persen diantara mereka sedang hamil. Rachel Cummings dari Lembaga Save the Children mengatakan hampir semua perempuan ini akan melahirkan di tenda pengungsian mereka.
Ini bukan tempat yang baik untuk melahirkan.

Cummings ditugaskan untuk mengurusi masalah kesehatan bagi para pengungsi Rohingya dan masalah kesehatan ibu menjadi salah satu hal yang paling menantang di kamp pengungsian ini. "Ini bukan tempat yang baik bagi seorang anak untuk dilahirkan. Dari awal mereka sudah akan berjuang, hidup di lingkungan yang penuh sesak, dimana semua orang berusaha bertahan hidup," katanya.

Di kalangan warga muslim Rohingya yang konservatif ini, perempuan sangat mementingkan privasi ketika melahirkan. Tidak jarang bagi seorang perempuan untuk tidak keluar rumah selama 40 hari setelah melahirkan.
Perempuan yang lebih tua kadang berperan sebagai bidan. Memang ada fasilitas kesehatan di kamp pengungsi tersebut, namun mengunjungi salah satu diantaranya tidak mudah.

Mulai 22 Januari, Myanmar akan menerima kembali pengungsi Rohingya, berdasarkan perjanjian pemulangan yang ditandatangani dengan Bangladesh November lalu.

Sikap resmi adalah pengungsi Rohingya yang melarikan diri atas kekerasan yang terjadi bulan Agustus lalu akan diterima kembali. Namun dengan belasan ribu pengungsi di sana menyebut alasan pemerkosaan, pemukulan dan tidak kekerasan lain yang dilakukan militer Myanmar, masih belum jelas apakah ada pengungsi yang akan kembali.

(REPUBLIKA.CO.ID, COX'S BAZAR Jum’at, 05 Januari 2018)


Sahabat ...Allah akan menolong seorang hamba selama hamba Nya senantiasa menolong saudaranya. Mari bersama wujudkan harapan untuk mereka hidup lebih baik.

#SaveRohingya
#SelamatkanAnakRohingya

UPDATE #1
24 November 2017

Doa Yatim Dhuafa untuk Rohingya

7 Sep 2017 17:30


Dukungan 60.000 Anak Asuhan Rumah Yatim untuk Rohingya

Sudah bayak kiranya, umat muslim di Indonesia yang telah menyaksikan penganiayaan terhadap muslim Rohingya, akibat perpecahan antar agama di Myanmar. Ditimpa ujian yang melanda seluruh kaumnya, membuat umat muslim Rohingya harus meninggalkan tempat tinggal mereka, dan mencari tempat perlindungan untuk menyelamatkan diri dari kekerasan dan teror yang tiada terperi.

Betapa tidak disamping pembantaian, 2600 pemukiman mereka pun telah hangus terbakar. Operasi militer di negara bagian Rakhine Myanmar sejauh ini menyebabkan lebih dari 120.000 orang Rohingya mengungsi ke negara - negara lain di sekitarnya.

"Sangat menakutkan ... rumah-rumah dibakar, orang-orang berlarian meninggalkan rumah mereka, anak dan orang tua terpisah, beberapa di antaranya hilang, yang lainnya tewas," kata Abdullah kepada kantor berita Reuters, hari Rabu (30/08).

Mendengar berbagai pemberitaan yang sampai hingga di tingkat anak - anak asuhan Rumah Yatim, mereka turut memberikan bantuan melalui doa yang dipanjatkan secara bersama oleh 60.000 anak yatim dan dhuafa asuhan Rumah Yatim di Indonesia.

Kegiatan doa bersama yang dilakukan anak asuh bada shalat magrib pada (6/9) secara serentak di asrama, serta masjid dan TPA binaan Rumah Yatim, menjadi bentuk solidaritas anak asuh bagi umat muslim dan anak - anak muslim Rohingya yang tidak seberuntung mereka dan sedang tertimpa musibah.

"Kami berdoa semoga kaum muslim di Rohingya khususnya sahabat-sahabat kami bisa kembali dengan keluarga yang masih ada dengan aman, bisa menggapai cita-cita mereka dan mereka bisa tersenyum bukan menangis karena menahan penderitaan."Ungkap Salma, pewakilan anak asuh dalam prosesi doa bersama untuk muslim Rohingya di Asrama Rumah Yatim.

Berikut adalah doa yang mereka panjatkan :

Ya Allah ya Rabb kami…
Kami telah menyaksikan dan merasakan penderitaan dan kesedihan saudara kami di Rohingya..
Sesungguhnya rasa sakit mereka adalah sakit kami juga, airmata mereka adalah airmata kami juga ,tangisan mereka adalah tangisan kami juga..

Ya Allah, selamatkanlah kaum Muslimin di Rohingya, Ya Allah selamatkanlah kaum muslimin di semua tempat, Ya Allah selamatkanlah kaum-kaum yang lemah dari kalangan orang-orang yang beriman.

amin ya rabbal alamin.

#RumahYatim
#SaveRohingya

Tanggal Nominal
Hamba Allah
9 Desember 2017
Rp 10.687
Hamba Allah
14 Desember 2017
Rp 100.937
Hamba Allah
20 Desember 2017
Rp 50.000
Hamba Allah
21 Desember 2017
Rp 850.143
Hamba Allah
27 Desember 2017
Rp 150.467
Hamba Allah
29 Desember 2017
Rp 50.697
Hamba Allah
29 Desember 2017
Rp 100.715
Hamba Allah
4 Januari 2018
Rp 210.000
Hamba Allah
15 Januari 2018
Rp 100.252
yosep sopyan
15 Januari 2018
Rp 25.542
Chindy
17 Januari 2018
Rp 150.805
Hamba Allah
18 Januari 2018
Rp 150.881
Hamba Allah
26 Januari 2018
Rp 200.000
Hamba Allah
31 Januari 2018
Rp 100.336
Hamba Allah
31 Januari 2018
Rp 500.351
Hamba Allah
7 Februari 2018
Rp 500.967
Hamba Allah
8 Februari 2018
Rp 200.963
Hamba Allah
18 Februari 2018
Rp 150.555
Hamba Allah
19 Februari 2018
Rp 50.219
Hamba Allah
27 Februari 2018
Rp 50.157
Hamba Allah
2 Maret 2018
Rp 50.582
Hamba Allah
6 Maret 2018
Rp 10.363
Hamba Allah
13 Maret 2018
Rp 70.321
Hamba Allah
18 Maret 2018
Rp 100.000
Hamba Allah
5 April 2018
Rp 100.505
Hamba Allah
6 April 2018
Rp 70.525
Hamba Allah
6 April 2018
Rp 50.606
Hamba Allah
11 April 2018
Rp 100.747
Hamba Allah
13 April 2018
Rp 40.978
Hamba Allah
13 April 2018
Rp 100.971
Hamba Allah
25 April 2018
Rp 200.644
Hamba Allah
30 April 2018
Rp 50.395
Hamba Allah
2 Mei 2018
Rp 200.523
Hamba Allah
11 Mei 2018
Rp 500.922
Hamba Allah
14 Mei 2018
Rp 150.931
Hamba Allah
16 Mei 2018
Rp 300.806
Hamba Allah
17 Mei 2018
Rp 38.241
Hamba Allah
18 Mei 2018
Rp 1.000.534
Hamba Allah
18 Mei 2018
Rp 100.146
Hamba Allah
21 Mei 2018
Rp 115.726
Hamba Allah
21 Mei 2018
Rp 506.327
Hamba Allah
24 Mei 2018
Rp 300.543
Hamba Allah
25 Mei 2018
Rp 200.000
Hamba Allah
25 Mei 2018
Rp 50.589
Hamba Allah
26 Mei 2018
Rp 150.915
Hamba Allah
26 Mei 2018
Rp 100.244
Hamba Allah
27 Mei 2018
Rp 100.812
Hamba Allah
27 Mei 2018
Rp 50.206
Hamba Allah
30 Mei 2018
Rp 10.475
Hamba Allah
3 Juni 2018
Rp 50.117
Hamba Allah
3 Juni 2018
Rp 200.755
Hamba Allah
4 Juni 2018
Rp 50.429
Hamba Allah
6 Juni 2018
Rp 10.358
Hamba Allah
7 Juni 2018
Rp 200.616
Hamba Allah
7 Juni 2018
Rp 100.502
Hamba Allah
8 Juni 2018
Rp 20.589
Hamba Allah
8 Juni 2018
Rp 1.000.243
Hamba Allah
9 Juni 2018
Rp 250.800
Hamba Allah
9 Juni 2018
Rp 100.602
Hamba Allah
9 Juni 2018
Rp 200.287
Hamba Allah
10 Juni 2018
Rp 500.795
Hamba Allah
10 Juni 2018
Rp 50.600
Hamba Allah
11 Juni 2018
Rp 50.433
Hamba Allah
14 Juni 2018
Rp 500.310
Hamba Allah
22 Juni 2018
Rp 100.777
Hamba Allah
22 Juni 2018
Rp 250.735
Hamba Allah
29 Juni 2018
Rp 50.907
Hamba Allah
1 Juli 2018
Rp 800.790
Hamba Allah
2 Juli 2018
Rp 100.484
joni
3 Juli 2018
Rp 500.652
Hamba Allah
3 Juli 2018
Rp 200.704
Hamba Allah
5 Juli 2018
Rp 40.237
Hamba Allah
5 Juli 2018
Rp 50.501
Hamba Allah
5 Juli 2018
Rp 250.276
Hamba Allah
6 Juli 2018
Rp 125.881
Hamba Allah
6 Juli 2018
Rp 50.144
Hamba Allah
8 Juli 2018
Rp 100.984
Hamba Allah
9 Juli 2018
Rp 100.642
Hamba Allah
10 Juli 2018
Rp 75.345
Hamba Allah
11 Juli 2018
Rp 100.192
Hamba Allah
11 Juli 2018
Rp 600.524
Hamba Allah
12 Juli 2018
Rp 150.723
ifan
12 Juli 2018
Rp 1.700.238
Hamba Allah
12 Juli 2018
Rp 50.494
Hamba Allah
13 Juli 2018
Rp 100.264
Hamba Allah
13 Juli 2018
Rp 50.242
Hamba Allah
13 Juli 2018
Rp 50.514
Hamba Allah
13 Juli 2018
Rp 100.900
Hamba Allah
14 Juli 2018
Rp 500.432
Hamba Allah
14 Juli 2018
Rp 50.670
Hamba Allah
14 Juli 2018
Rp 100.696
Hamba Allah
15 Juli 2018
Rp 15.000
Hamba Allah
17 Juli 2018
Rp 200.276
Hamba Allah
17 Juli 2018
Rp 250.433
Hamba Allah
20 Juli 2018
Rp 50.883
Hamba Allah
20 Juli 2018
Rp 100.988

Total donatur : 96 orang