Detail Program

Kemanusiaan

Bantu Selamatkan Anak Rohingya

Terkumpul
Rp 3.654.517
Target
Rp 1.000.000.000
Rp
, - 
PERIODE WAKTU:
131 hari

BERAKHIR PADA:
31 Maret 2018
Penerima Manfaat:
1.000 orang

Lingkup wilayah:
nasional
UPDATE LAPORAN TERBARU
15 Februari 2018

Derita yang Menimpa Kaum Minoritas

Setelah Myanmar merdeka pada tahun 1948 kemudian menetapkan Undang-Undang kewarganegaraan yang tidak mencantumkan Rohingya sebagai salah satu etnis yang diakui negara. Buntutnya etnis minoritas itu tidak mendapat kewarganegaraan dan semakin rentan terhadap diskriminasi.

Sering disebut sebagai minoritas paling teraniaya di dunia, eksistensi Rohingya di Myanmar ibarat bertepuk sebelah tangan. Mereka tidak diakui sebagai warga negara, tidak punya hak sipil dan terjajah di tanah sendiri. Hingga kini ratusan ribu kaum Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Sebagian besar pengungsi Rohingya adalah perempuan dan anak-anak.

Pengungsi Rohingya di daerah Teknaf, Bangladesh yang sudah banyak menerima pengungsi. Banyak anggota keluarga yang sakit dan yang sudah tua mereka gotong dan akhirnya tiba di Teknaf. Lebih dari 200.000 bayi Rohingya kini berada di Bangladesh. Menurut UNHCR lebih dari 1.100 anak datang dari Rakhine tanpa disertai orang tua. Ini berarti korban dari konflik yang terjadi ini mengakibatkan meningkatnya angka anak-anak yatim. Rohingya yang cari perlindungan di daerah Teknaf menderita kekurangan makanan akut karena tidak tersedianya sumber makanan yang bisa dk konsumsi. Mereka hanya mengandalkan bantuan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan. Sehingga untuk mendapat makanan mereka harus berebutan. ( www.dw.id )

Tak hentinya derita yang mereka rasakan. Disaat hak mereka sebagai manusia untuk hidup dalam kebebasan, saat ini mereka justru hidup dalam ketakutan akan penindasan yang terjadi. Mari bersama membantu saudara kita disana. Semoga Allah memudahkan kita semua dalam membantu sesama.


Deskripsi Program


Tak banyak orang yang peduli dengan nasib muslim Rohingya, banyaknya tragedi kemanusiaan diberbagai belahan dunia telah membuat banyak orang merasa bahwa berita di berbagai media masa hanya sekedar bagian dari halaman berita dunia di pagi hari yang di baca dingin sambil menikmati secangkir kopi panas.

Jika begitu banyak kekejaman di dunia, lantas apa yang istimewa dengan Rohingya? Mengapa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2013 melabeli Rohingya sebagai etnis paling teraniaya di dunia?

Rohingya sesungguhnya adalah keturunan Bangladesh. Meski telah tinggal menetap hingga beberapa generasi di Myanmar, mereka tidak di akui Myanmar sebagai warga negara. Demikian pula Bangladesh tidak mau mengakui mereka sebagai warga.

Itulah sebabnya julukan “etnis paling tertindas di dunia” disematkan PBB pada Rohingya. Mereka tak punya negara, tak di terima sebagai bagian dari masyarakat di tempat mereka tumbuh.

Tragedi kemanusiaan terhadap Muslim Rohingya telah terjadi puluhan tahun silam dan terus terjadi sampai saat ini. Kejadian terakhir di bulan Agustus 2017 telah kembali membuktikan kekejaman dan penindasan terhadap mereka yang tidak pernah berhenti.

Warga Rohingya yang kini hidup dalam perburuan setelah desa-desa mereka di bakar, menggelandang dan tidur tanpa atap di hutan dan gunung, di manapun belukar bisa menyembunyikan mereka.

Kondisi belasan ribu pengungsi Rohingya yang telah terjadi sungguh mengenaskan, mereka mengalami luka bakar dan luka tembak, dengan tatapan kosong menerawang.

Ribuan pengungsi yang terdiri dari kaum hawa dan anak kecil harus berjalan menelusuri sawah, gunung dan hutan menempuh jarak tidak kurang dari 20 KM menuju perbatasan Negara tentangga mereka Bangladesh, Besar harapan mereka bisa diterima dengan layak setidaknya hanya untuk sekedar berlindung, namun sayang setelah jauh berjalan kaki, sesampainya di gerbang perbatasan mereka ditolak dan disuruh kembali ke zona merah yang sedang berkobar, pemerintah Bangladesh beralasan, mereka tak bisa lagi menampung Rohingya karena sudah menerima 400.000 orang Rohingya sejak awal konflik yang bermula pada tahun 1990-an.

Saat mereka meregang nyawa ribuan doa terlantun dari mulut mereka, mengetuk belas kasihan pintu langit yang Maha Pengasih dan Perkasa. Air mata mereka bukanlah air mata buaya yang berharap belas kasihan agar dipercaya, air mata mereka adalah puncak dari penderitaan yang mereka terima.

Akankah kita terketuk hati mendengar keluh kesah mereka? 

Akankah darah dan tangisan bayi itu menggugah mata hati kita untuk bisa meringankan derita mereka ?

Mereka adalah saudara kita.. yang Rasulullah ibaratkan seperti satu tubuh…

 

UPDATE #6
15 Februari 2018

Derita yang Menimpa Kaum Minoritas

Setelah Myanmar merdeka pada tahun 1948 kemudian menetapkan Undang-Undang kewarganegaraan yang tidak mencantumkan Rohingya sebagai salah satu etnis yang diakui negara. Buntutnya etnis minoritas itu tidak mendapat kewarganegaraan dan semakin rentan terhadap diskriminasi.

Sering disebut sebagai minoritas paling teraniaya di dunia, eksistensi Rohingya di Myanmar ibarat bertepuk sebelah tangan. Mereka tidak diakui sebagai warga negara, tidak punya hak sipil dan terjajah di tanah sendiri. Hingga kini ratusan ribu kaum Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Sebagian besar pengungsi Rohingya adalah perempuan dan anak-anak.

Pengungsi Rohingya di daerah Teknaf, Bangladesh yang sudah banyak menerima pengungsi. Banyak anggota keluarga yang sakit dan yang sudah tua mereka gotong dan akhirnya tiba di Teknaf. Lebih dari 200.000 bayi Rohingya kini berada di Bangladesh. Menurut UNHCR lebih dari 1.100 anak datang dari Rakhine tanpa disertai orang tua. Ini berarti korban dari konflik yang terjadi ini mengakibatkan meningkatnya angka anak-anak yatim. Rohingya yang cari perlindungan di daerah Teknaf menderita kekurangan makanan akut karena tidak tersedianya sumber makanan yang bisa dk konsumsi. Mereka hanya mengandalkan bantuan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan. Sehingga untuk mendapat makanan mereka harus berebutan. ( www.dw.id )

Tak hentinya derita yang mereka rasakan. Disaat hak mereka sebagai manusia untuk hidup dalam kebebasan, saat ini mereka justru hidup dalam ketakutan akan penindasan yang terjadi. Mari bersama membantu saudara kita disana. Semoga Allah memudahkan kita semua dalam membantu sesama.

UPDATE #5
12 Februari 2018

UNICEF: Puluhan Ribu Anak Rohingya Hidup dalam Kondisi Mirip Penjara

Lebih dari 650 ribu warga Rohingya telah lari ke Cox’s Bazaar, Bangladesh, sejak akhir Agustus untuk menyingkir dari kekerasan dan persekusi di negara bagian Rakhine. Sekitar separuh dari mereka adalah anak-anak.

Penasihat senior UNICEF, Marixie Mercado belum lama ini kembali dari kunjungan sebulan ke Myanmar. Ia mengatakan sulit untuk memperoleh gambaran sebenarnya mengenai anak-anak yang masih berada di sana, karena tidak adanya akses.

Namun, ia dapat memperoleh yang disebutnya pandangan sekilas yang merisaukan mengenai betapa menyedihkan kehidupan anak-anak yang tinggal di Rakhine Tengah. Mercado mengatakan lebih dari 60 ribu anak Rohingya masih berada di negara bagian Rakhine, hampir terlupakan dan terjebak dalam 23 kamp tempat mereka mengungsi akibat kekerasan tahun 2012. Mercado menggambarkan kondisi di dua kamp yang dikunjunginya.

"Kedua kamp berada di wilayah yang terletak di bawah permukaan laut. Hampir tidak ada pohon sama sekali. Hal pertama yang menyambut kita di kamp adalah bau yang menyengat yang membuat kita merasa mual. Bagian-bagian kamp merupakan genangan air limbah. Kemah disangga tiang-tiang, dan di bawahnya adalah sampah dan kotoran manusia. Di satu kamp, kolam tempat orang mengambil air hanya dipisahkan dari genangan air limbah dengan tanggul dari tanah,” ujar Mercado.

Mercado mengatakan anak-anak berjalan tanpa alas kaki di tanah becek dan sebagian dari mereka telah meninggal karena kecelakaan atau penyakit. Ditambahkan, sangat sulit bagi warga Rohingya itu untuk meninggalkan kamp untuk mendapat perawatan medis. Karena itu, orang minta bantuan tabib tradisional, penyedia layanan kesehatan yang tidak terlatih, atau mengobati diri sendiri.

Menurut Mercado kondisi kehidupan dan akses ke layanan yang menyelamatkan jiwa sangat perlu ditingkatkan. Ditambahkan, anak-anak juga tidak dapat memperoleh pendidikan yang layak. Mercado mengatakan pembelajaran dilakukan di ruang-ruang kelas sementara yang tidak diperlengkapi dengan layak, diajar oleh guru-guru relawan yang memiliki rasa pengabdian kuat tetapi tidak memiliki pelatihan formal. [voaindonesia.com]

UPDATE #4
2 Februari 2018

Kelangkaan Pangan yang Harus di Hadapi 650.000 Pengungsi Rohingya

Musim dingin tiba bagi lebih dari 650 ribu pengungsi Muslim-Rohingya di Bangladesh yang melarikan diri dari penumpasan brutal pasukan Myanmar. Rantai pasokan pangan dan tempat penampungan perlahan-lahan mulai teratur, tetapi antrian masih panjang, dan bahan pokok pun masih sangat kurang bagi semua pengungsi apalagi keluarga yang memiliki anggota lebih dari delapan orang.

Fatima Noor, salah satu pengungsi Rohingya yang baru tiba di Cox’s Bazaar Bangladesh mengatakan, “Mereka memberi kami 10-12 kilogram beras, tetapi itu tidak cukup. Ini yang mereka berikan kepada kami setiap bulan. Tetapi saya tidak mendapat lebih dari 10 kilogram beras.”

Program Pangan Sedunia WFP (World Food Programme) telah memberikan lebih dari 200 ribu ton beras bagi 185.000 kepala keluarga, tetapi mengakui bahwa itu tidak cukup. WFP berusaha mentargetkan keluarga yang memiliki anggota lebih banyak dengan mengupayakan peningkatan jatah pangan. Untuk keluarga dengan 4-6 orang anggota keluarga akan disesuaikan seperti biasa, sementara mereka yang memiliki anggota keluarga lebih dari 8 orang akan mendapat jatah dua kali lebih banyak.

Dengan fakta ini bisa di simpulkan betapa mereka membutuhkan bantuan dari kita semua. Saat hak nya sebagai manusia tak bisa dipenuhi inilah saatnya bagi kita untuk membantu dengan menunaikan kewajiban kita. Bersama membantu pengungsi Rohingya untuk hidup lebih baik lagi. (www.voaindonesia.com)

UPDATE #3
23 Januari 2018

Tangis Anak-anak Rohingya Saat Berdesakkan Demi Mendapatkan Makanan

Sebagaimana di ketahui saat ini, jumlah pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp-kamp pengungsian Bangladesh semakin membludak. Mereka melarikan diri dari Myanmar karena telah mengalami penindasaan, diskriminasi, dan kekerasan di negara bagian Rakhine. Tak sedikit dari mereka harus berjejalan dalam satu petak kamp pengungsian berbahankan dinding bambu dan beratapkan daun pinang berbalut terpal. Adapun lantainya hanya beralaskan tanah semata.

Tak hanya harus berbagi tempat, para pengungsi pun di buat tak berdaya dengan keterbatasan makanan untuk bertahan hidup. Demi mendapatkan bantuan makanan, pengungsi anak-anak dan lansia mesti nekat berdesak-desakan dengan pengungsi lainnya. Tangis anak-anak dan lansia saat berdesakan sudah tidak dipedulikan lagi, karena yang dipedulikan mereka hanyalah perut terisi untuk bertahan hidup.

Satu pertanyaan yang muncul, layakkah mereka di perlakukan seperti ini?Pantaskah mereka berdesakan untuk memenuhi perut kosong mereka di saat anak-anak seusia nya di belahan dunia lain sedang asyik dengan permainan mereka?Saatnya bantu meringankan beban anak-anak pengungsi Rohingya. Sudah saatnya mereka terbebas dari desak-desakkan, sudah saatnya mereka bisa bermain dan bersenang-senang di usianya yang masih kecil. Bersama mari penuhi pangan dan bantuan kebutuhan lainnya untuk meringankan beban mereka.


"Bersuci adalah separuh dari keimanan, ucapan Alhamdulillah akan memenuhi timbangan, subhanallah walhamdulillah akan memenuhi ruangan langit dan bumi, shalat adalah cahaya, dan shodaqoh (sedekah) itu merupakan bukti.” (HR. Muslim)

UPDATE #2
8 Januari 2018

50 Ribu Bayi akan Lahir dan Mulai Berjuang Untuk Hidup

Diperkirakan akan lahir 50 ribu bayi di kamp pengungsi warga Rohingya yang penuh sesak di Bangladesh tahun ini. Sebagian dari bayi ini karena korban pemerkosaan, namun semuanya lahir di pemukiman yang memiliki sanitasi buruk dimana mereka berpotensi terkena penyakit atau mengalami kekurangan gizi. Para pekerja kesehatan di kamp pengungsi itu berusaha keras membantu agar bayi-bayi bisa bertahan hidup, namun banyak diantaranya akan meninggal sebelum mereka mencapai usia lima tahun.

Sejak militer Myanmar empat bulan lalu melancarkan operasi militer sebagai balasan dari tindakan kelompok militan Rohingya menyerang pos militer dan polisi Myanmar, jumlah warga yang mengungsi dan melintas masuk ke Bangladesh mencapai angka hampir 655 ribu orang.

Sekarang diperkirakan ada 870 ribu warga Rohingya yang tinggal di kamp pengungsian dan lima persen diantara mereka sedang hamil. Rachel Cummings dari Lembaga Save the Children mengatakan hampir semua perempuan ini akan melahirkan di tenda pengungsian mereka.
Ini bukan tempat yang baik untuk melahirkan.

Cummings ditugaskan untuk mengurusi masalah kesehatan bagi para pengungsi Rohingya dan masalah kesehatan ibu menjadi salah satu hal yang paling menantang di kamp pengungsian ini. "Ini bukan tempat yang baik bagi seorang anak untuk dilahirkan. Dari awal mereka sudah akan berjuang, hidup di lingkungan yang penuh sesak, dimana semua orang berusaha bertahan hidup," katanya.

Di kalangan warga muslim Rohingya yang konservatif ini, perempuan sangat mementingkan privasi ketika melahirkan. Tidak jarang bagi seorang perempuan untuk tidak keluar rumah selama 40 hari setelah melahirkan.
Perempuan yang lebih tua kadang berperan sebagai bidan. Memang ada fasilitas kesehatan di kamp pengungsi tersebut, namun mengunjungi salah satu diantaranya tidak mudah.

Mulai 22 Januari, Myanmar akan menerima kembali pengungsi Rohingya, berdasarkan perjanjian pemulangan yang ditandatangani dengan Bangladesh November lalu.

Sikap resmi adalah pengungsi Rohingya yang melarikan diri atas kekerasan yang terjadi bulan Agustus lalu akan diterima kembali. Namun dengan belasan ribu pengungsi di sana menyebut alasan pemerkosaan, pemukulan dan tidak kekerasan lain yang dilakukan militer Myanmar, masih belum jelas apakah ada pengungsi yang akan kembali.

(REPUBLIKA.CO.ID, COX'S BAZAR Jum’at, 05 Januari 2018)


Sahabat ...Allah akan menolong seorang hamba selama hamba Nya senantiasa menolong saudaranya. Mari bersama wujudkan harapan untuk mereka hidup lebih baik.

#SaveRohingya
#SelamatkanAnakRohingya

UPDATE #1
24 November 2017

Doa Yatim Dhuafa untuk Rohingya

7 Sep 2017 17:30


Dukungan 60.000 Anak Asuhan Rumah Yatim untuk Rohingya

Sudah bayak kiranya, umat muslim di Indonesia yang telah menyaksikan penganiayaan terhadap muslim Rohingya, akibat perpecahan antar agama di Myanmar. Ditimpa ujian yang melanda seluruh kaumnya, membuat umat muslim Rohingya harus meninggalkan tempat tinggal mereka, dan mencari tempat perlindungan untuk menyelamatkan diri dari kekerasan dan teror yang tiada terperi.

Betapa tidak disamping pembantaian, 2600 pemukiman mereka pun telah hangus terbakar. Operasi militer di negara bagian Rakhine Myanmar sejauh ini menyebabkan lebih dari 120.000 orang Rohingya mengungsi ke negara - negara lain di sekitarnya.

"Sangat menakutkan ... rumah-rumah dibakar, orang-orang berlarian meninggalkan rumah mereka, anak dan orang tua terpisah, beberapa di antaranya hilang, yang lainnya tewas," kata Abdullah kepada kantor berita Reuters, hari Rabu (30/08).

Mendengar berbagai pemberitaan yang sampai hingga di tingkat anak - anak asuhan Rumah Yatim, mereka turut memberikan bantuan melalui doa yang dipanjatkan secara bersama oleh 60.000 anak yatim dan dhuafa asuhan Rumah Yatim di Indonesia.

Kegiatan doa bersama yang dilakukan anak asuh bada shalat magrib pada (6/9) secara serentak di asrama, serta masjid dan TPA binaan Rumah Yatim, menjadi bentuk solidaritas anak asuh bagi umat muslim dan anak - anak muslim Rohingya yang tidak seberuntung mereka dan sedang tertimpa musibah.

"Kami berdoa semoga kaum muslim di Rohingya khususnya sahabat-sahabat kami bisa kembali dengan keluarga yang masih ada dengan aman, bisa menggapai cita-cita mereka dan mereka bisa tersenyum bukan menangis karena menahan penderitaan."Ungkap Salma, pewakilan anak asuh dalam prosesi doa bersama untuk muslim Rohingya di Asrama Rumah Yatim.

Berikut adalah doa yang mereka panjatkan :

Ya Allah ya Rabb kami…
Kami telah menyaksikan dan merasakan penderitaan dan kesedihan saudara kami di Rohingya..
Sesungguhnya rasa sakit mereka adalah sakit kami juga, airmata mereka adalah airmata kami juga ,tangisan mereka adalah tangisan kami juga..

Ya Allah, selamatkanlah kaum Muslimin di Rohingya, Ya Allah selamatkanlah kaum muslimin di semua tempat, Ya Allah selamatkanlah kaum-kaum yang lemah dari kalangan orang-orang yang beriman.

amin ya rabbal alamin.

#RumahYatim
#SaveRohingya

Tanggal Nominal
Hamba Allah
9 Desember 2017
Rp 10.687
Hamba Allah
14 Desember 2017
Rp 100.937
Hamba Allah
20 Desember 2017
Rp 50.000
Hamba Allah
21 Desember 2017
Rp 850.143
Hamba Allah
27 Desember 2017
Rp 150.467
Hamba Allah
29 Desember 2017
Rp 50.697
Hamba Allah
29 Desember 2017
Rp 100.715
Hamba Allah
4 Januari 2018
Rp 210.000
Hamba Allah
15 Januari 2018
Rp 100.252
yosep sopyan
15 Januari 2018
Rp 25.542
Chindy
17 Januari 2018
Rp 150.805
Hamba Allah
18 Januari 2018
Rp 150.881
Hamba Allah
26 Januari 2018
Rp 200.000
Hamba Allah
31 Januari 2018
Rp 100.336
Hamba Allah
31 Januari 2018
Rp 500.351
Hamba Allah
7 Februari 2018
Rp 500.967
Hamba Allah
8 Februari 2018
Rp 200.963
Hamba Allah
18 Februari 2018
Rp 150.555
Hamba Allah
19 Februari 2018
Rp 50.219

Total donatur : 19 orang