Detail Program

Kemanusiaan

Bantu Selamatkan Anak Rohingya

Terkumpul
Rp 4.600.916
Target
Rp 1.000.000.000
Rp
, - 
PERIODE WAKTU:
222 hari

BERAKHIR PADA:
30 Juni 2018
Penerima Manfaat:
1.000 orang

Lingkup wilayah:
nasional
UPDATE LAPORAN TERBARU
18 April 2018

Pengungsi Rohingya Tiba di Myanmar, Rombongan Berikutnya Menyusul

Myanmar menerima rombongan pertama dari 700 ribu pengungsi Rohingya di kamp permukiman pada Sabtu 14 April 2018, setelah mereka melarikan diri ke Bangladesh dari kebrutalan militer pada Agustus tahun lalu. Rombongan berikutnya diharapkan menyusul. Kabar tersebut disampaikan ABC News setelah mengutip kantor berita Associated Press.

Menurut sebuah pernyataan di situs Facebook Komite Informasi Myanmar, lima keluarga dikirim ke kamp permukiman Taipingolemy di Rakhine pada Sabtu pagi, waktu setempat. "Lima anggota keluarga muslim tiba pusat penerimaan Taungpyoletwea di negara bagian Rakhine pada Sabtu pagi," demikian pernyataan pemerintah Myanmar, seperti dilansir Reuters pada Ahad, 15 April 2018.

Keluarga itu kemudian diperiksa oleh petugas imigrasi dan kesehatan, sebelum diberikan bantuan bahan makanan seperti beras, kelambu, selimut, pakaian dan peralatan dapur.

Pemerintah Myanmar juga memberikan Kartu Verifikasi Nasional atau NVC kepada mereka sebagai bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah untuk mendaftarkan Rohingya sebelum diakui kewarganegaraannya. Namun Kartu tersebut ditolak secara luas oleh para pemimpin komunitas Rohingya karena dianggap tidak menjamin pengakuan sebagai penduduk Myanmar seutuhnya.

Repatriasi pengungsi Myanmar dari Bangladesh berlangsung menyusul keprihatinan PBB dan lembaga kemanusiaan internasional atas kegagalan Myanmar menangani diskriminasi hukum, kemanusiaan serta masalah penganiayaan pada etnis minoritas Rohingya. Setelah rombongan pertama tiba, pemerintah Myanmar belum memberikan informasi terkait kapan pengungsi Rohingya lainnya akan dipulangkan.

Myanmar dan Bangladesh menandatangani kesepakatan pada Januari 2018 untuk menyelesaikan repatriasi sukarela para pengungsi. Untuk menampung kepulangan pengungsi rohingya, Myanmar mendirikan dua pusat penerimaan sementara di dekat perbatasan di Rakhine. Hampir 700.000 pengungsi Rohingya melarikan diri dari Myanmar dan menetap di kamp pengungsi Bangladesh. (dunia.tempo.co)


Deskripsi Program


Tak banyak orang yang peduli dengan nasib muslim Rohingya, banyaknya tragedi kemanusiaan diberbagai belahan dunia telah membuat banyak orang merasa bahwa berita di berbagai media masa hanya sekedar bagian dari halaman berita dunia di pagi hari yang di baca dingin sambil menikmati secangkir kopi panas.

Jika begitu banyak kekejaman di dunia, lantas apa yang istimewa dengan Rohingya? Mengapa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2013 melabeli Rohingya sebagai etnis paling teraniaya di dunia?

Rohingya sesungguhnya adalah keturunan Bangladesh. Meski telah tinggal menetap hingga beberapa generasi di Myanmar, mereka tidak di akui Myanmar sebagai warga negara. Demikian pula Bangladesh tidak mau mengakui mereka sebagai warga.

Itulah sebabnya julukan “etnis paling tertindas di dunia” disematkan PBB pada Rohingya. Mereka tak punya negara, tak di terima sebagai bagian dari masyarakat di tempat mereka tumbuh.

Tragedi kemanusiaan terhadap Muslim Rohingya telah terjadi puluhan tahun silam dan terus terjadi sampai saat ini. Kejadian terakhir di bulan Agustus 2017 telah kembali membuktikan kekejaman dan penindasan terhadap mereka yang tidak pernah berhenti.

Warga Rohingya yang kini hidup dalam perburuan setelah desa-desa mereka di bakar, menggelandang dan tidur tanpa atap di hutan dan gunung, di manapun belukar bisa menyembunyikan mereka.

Kondisi belasan ribu pengungsi Rohingya yang telah terjadi sungguh mengenaskan, mereka mengalami luka bakar dan luka tembak, dengan tatapan kosong menerawang.

Ribuan pengungsi yang terdiri dari kaum hawa dan anak kecil harus berjalan menelusuri sawah, gunung dan hutan menempuh jarak tidak kurang dari 20 KM menuju perbatasan Negara tentangga mereka Bangladesh, Besar harapan mereka bisa diterima dengan layak setidaknya hanya untuk sekedar berlindung, namun sayang setelah jauh berjalan kaki, sesampainya di gerbang perbatasan mereka ditolak dan disuruh kembali ke zona merah yang sedang berkobar, pemerintah Bangladesh beralasan, mereka tak bisa lagi menampung Rohingya karena sudah menerima 400.000 orang Rohingya sejak awal konflik yang bermula pada tahun 1990-an.

Saat mereka meregang nyawa ribuan doa terlantun dari mulut mereka, mengetuk belas kasihan pintu langit yang Maha Pengasih dan Perkasa. Air mata mereka bukanlah air mata buaya yang berharap belas kasihan agar dipercaya, air mata mereka adalah puncak dari penderitaan yang mereka terima.

Akankah kita terketuk hati mendengar keluh kesah mereka? 

Akankah darah dan tangisan bayi itu menggugah mata hati kita untuk bisa meringankan derita mereka ?

Mereka adalah saudara kita.. yang Rasulullah ibaratkan seperti satu tubuh…

 

UPDATE #14
18 April 2018

Pengungsi Rohingya Tiba di Myanmar, Rombongan Berikutnya Menyusul

Myanmar menerima rombongan pertama dari 700 ribu pengungsi Rohingya di kamp permukiman pada Sabtu 14 April 2018, setelah mereka melarikan diri ke Bangladesh dari kebrutalan militer pada Agustus tahun lalu. Rombongan berikutnya diharapkan menyusul. Kabar tersebut disampaikan ABC News setelah mengutip kantor berita Associated Press.

Menurut sebuah pernyataan di situs Facebook Komite Informasi Myanmar, lima keluarga dikirim ke kamp permukiman Taipingolemy di Rakhine pada Sabtu pagi, waktu setempat. "Lima anggota keluarga muslim tiba pusat penerimaan Taungpyoletwea di negara bagian Rakhine pada Sabtu pagi," demikian pernyataan pemerintah Myanmar, seperti dilansir Reuters pada Ahad, 15 April 2018.

Keluarga itu kemudian diperiksa oleh petugas imigrasi dan kesehatan, sebelum diberikan bantuan bahan makanan seperti beras, kelambu, selimut, pakaian dan peralatan dapur.

Pemerintah Myanmar juga memberikan Kartu Verifikasi Nasional atau NVC kepada mereka sebagai bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah untuk mendaftarkan Rohingya sebelum diakui kewarganegaraannya. Namun Kartu tersebut ditolak secara luas oleh para pemimpin komunitas Rohingya karena dianggap tidak menjamin pengakuan sebagai penduduk Myanmar seutuhnya.

Repatriasi pengungsi Myanmar dari Bangladesh berlangsung menyusul keprihatinan PBB dan lembaga kemanusiaan internasional atas kegagalan Myanmar menangani diskriminasi hukum, kemanusiaan serta masalah penganiayaan pada etnis minoritas Rohingya. Setelah rombongan pertama tiba, pemerintah Myanmar belum memberikan informasi terkait kapan pengungsi Rohingya lainnya akan dipulangkan.

Myanmar dan Bangladesh menandatangani kesepakatan pada Januari 2018 untuk menyelesaikan repatriasi sukarela para pengungsi. Untuk menampung kepulangan pengungsi rohingya, Myanmar mendirikan dua pusat penerimaan sementara di dekat perbatasan di Rakhine. Hampir 700.000 pengungsi Rohingya melarikan diri dari Myanmar dan menetap di kamp pengungsi Bangladesh. (dunia.tempo.co)

UPDATE #13
10 April 2018

Akankah Kaum Minoritas Terus Tertindas

Dalam beberapa bulan terakhir, media internasional tertuju pada Myanmar yang berfokus pada penderitaan orang-orang Rohingya di bagian barat negara itu. Sejak Agustus 2017, serangan brutal tentara militer terhadap minoritas etnis Muslim ini telah mengirim lebih dari 750.000 orang - 90 persen dari penduduk Rohingya yang tinggal di negara bagian Rakhine - melarikan diri melintasi perbatasan ke Bangladesh, dalam apa yang hanya bisa digambarkan sebagai kampanye genosida yang terkoordinasi. Rohingya, salah satu kelompok tanpa negara terbesar di dunia, telah lama menjadi target favorit untuk penganiayaan oleh otoritas pusat Buddha di negara itu. Rohingya memiliki agama yang berbeda, warna kulit yang berbeda, dan berbicara dengan bahasa yang berbeda dari kebanyakan tetangga mereka.

Kampanye melawan Rohingya secara radikal telah memperluas kemampuan militer untuk pembersihan etnis dan, mungkin yang lebih penting, tampaknya sebagian besar populasi tampaknya mendukung agresi tentara terhadap kelompok tersebut. Untuk memahami mengapa semua konflik ini bertahan selama ini. Enam puluh delapan persen dari populasi negara adalah Bamar (etnis Burma). Bamar terutama terkonsentrasi di sekitar Lembah Irrawaddy, jantung negeri itu. Myanmar juga 88 persen penganut Buddha, dan mayoritas dari kelompok itu menganut doktrin Theravada konservatif. Gerakan-gerakan separatis ini berasal dari fakta bahwa, segera setelah kemerdekaan, umat Buddha Bamar Theravada memenangkan kendali besar atas pemerintah dan militer dan segera mencap mereka sebagai identitas resmi negara.

Pada tahun-tahun berikutnya, sebagai suksesi kediktatoran militer yang berusaha membangun sebuah bangsa yang bersatu, mereka secara sistematis meminggirkan dan menekan agama dan etnis minoritas menggunakan berbagai tindakan yang sangat berat. Banyak kelompok yang ditolak kewarganegaraannya, melihat desa mereka dihancurkan, dan hak pernikahan mereka dibatasi. Pihak berwenang di negara bagian Rakhine telah membatasi jumlah anak-anak Muslim Rohingya diizinkan untuk memiliki - biasanya maksimum dua, tepat di bawah tingkat penggantian populasi. Dalam beberapa tahun terakhir, pertikaian antara tentara dan gerakan separatis semakin meningkat sekali lagi ketika tentara federal menemukan tekad baru.

Pada tahun 2011, pertempuran antara militer Myanmar dan Tentara Kemerdekaan Kachin separatis di utara negara itu menyebabkan hampir 100.000 orang Kachin. Tujuh tahun kemudian, para pengungsi masih tinggal di kamp-kamp pengungsi internal, dengan sedikit prospek untuk membangun kembali kehidupan mereka. Dan dalam dua tahun terakhir, tentara semakin banyak menyerang target di dalam atau di dekat kamp dan desa sipil. (foreignpolicy.com)

UPDATE #12
5 April 2018

Bangladesh Akan Relokasi 100 Ribu Rohingya ke Pulau Terpencil

Bangladesh akan mulai memindahkan sekitar 100 ribu pengungsi Rohingya ke Thengar Car, pulau terpencil di pesisir selatan negaranya pada Juni mendatang.

"Proses akan dimulai pada pekan pertama Juni. Kami membangun akomodasi untuk 100 ribu orang," ujar Menteri Manajemen Bencana Bangladesh, Shah Kamal, kepada perwakilan sejumlah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Rabu (4/4).

Kamal mengatakan bahwa saat ini Bangladesh sudah membangun tempat tinggal yang dapat menampung 50 ribu pengungsi, sisanya akan dirampungkan dalam waktu dua bulan ke depan.

Ia juga memastikan Bangladesh bakal meninggikan tanah di pulau tersebut untuk menghindari banjir. Rencana relokasi yang sebenarnya sudah diajukan sejak 2015 ini sempat tertunda karena banyak kritik, terutama mengenai kelayakan pulau tersebut.

Pulau Thengar Car pertama kali muncul ke permukaan air di lepas pantai Bangladesh sekitar 12 tahun lalu. Daratan ini biasanya terendam banjir pada Juni hingga September. 

Ketika air tenang, pulau ini kerap digunakan para pembajak untuk menyandera orang demi mendapatkan tebusan.

Bangladesh kembali mengajukan usulan ini tahun lalu, setelah gelombang pengungsi Rohingya yang menghindari kekerasan di Rakhine membanjiri negara itu sejak Agustus.

Berdasarkan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Bangladesh sudah menampung 700 ribu pengungsi Rohingya hanya dari gelombang kekerasan terakhir ini.

Pada November, Bangladesh pun mengalokasikan dana sekitar US$280 juta untuk membangun pulau tersebut.Awalnya, Bangladesh menargetkan relokasi dimulai pada akhir tahun ini, tapi proses ini dipercepat karena PBB khawatir kamp pengungsi di Bangladesh tersapu banjir saat angin muson bertiup pada pertengahan 2018. (manado.tribunnews.com)

UPDATE #11
29 Maret 2018

Pencari Fakta PBB: Myanmar Diduga Lakukan Genosida ke Rohingya

Tim Pencari Fakta Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia PBB untuk Myanmar(TPF Myanmar) meyakini bahwa pemerintah negara itu mungkin melakukan genosida -- sebuah pelanggaran HAM -- terhadap etnis Rohingya.

"Kami meyakini bahwa kejahatan yang terjadi pada 9 Oktober 2016 - 25 Agustus 2017 semakin memenuhi unsur-unsur genosida," kata Yanghee Lee salah satu Special Rapporteur TPF Myanmar memaparkan laporannya di Dewan HAM PBB Jenewa pada Senin 12 Maret 2018, seperti dikutip dari CNN (13/3/2018).

Dalam kesempatan itu, Lee juga meminta agar PBB mendorong pemeriksaan lebih lanjut yang menerapkan asas akuntabilitas tinggi demi menemukan pihak-pihak yang benar-benar bertanggungjawab atas peristiwa itu.

Ia juga mendorong agar PBB membentuk sebuah badan di Cox's Bazaar, Bangladesh -- lokasi pengungsi Rohingya saat ini -- untuk mengumpulkan bukti pelanggaran hak asasi manusia lain dalam penyelidikan lanjutan.

"Kami meminta untuk segera dilakukannya penyelidikan lanjutan yang imparsial, adil, dan independen, guna memfasilitasi proses pidana internasional yang adil dan independen di sebuah tribunal khusus," lanjut Yanghee.

Bukti yang Kredibel

Sementara itu, seperti dikutip dari BBC, laporan yang dirilis oleh TPF Myanmar merupakan hasil wawancara terhadap sekitar 600 korban dan saksi mata saat tim pencari fakta berkunjung ke Bangladesh, Malaysia, dan Thailand.

Para subjek wawancara, merupakan etnis Rohingya yang sempat tinggal di Negara Bagian Rakhine, Kachin, dan Shan, di Myanmar -- sebelum akhirnya mereka mengungsi keluar dari negara tersebut menyusul terjadinya gelombang kekerasan tahun 2016.

"Kejadian yang kami selidiki mewujudkan pola pelanggaran HAM secara sistematis dan berkesinambungan di Myanmar ... Bantahan apapun tidak berlaku ... karena kami memiliki ratusan pengakuan kredibel yang mengerikan," kata Marzuki Darusman Ketua Special Rapporteur TPF Myanmar di Dewan HAM PBB Jenewa pada kesempatan yang sama.

"Kami juga memiliki bukti lain yang menambah kredibilitas hasil wawancara, yakni berupa citra satelit yang menggambarkan desa-desa Rohingya yang dihancurkan," tambah Yanghee Lee.

Hingga berita ini turun, pihak pemerintah Myanmar belum memberikan komentar terkait hasil penyelidikan seputar pelanggaran HAM terhadap etnis Rohingya itu.(liputan6.com)

UPDATE #10
26 Maret 2018

Hari Kemerdekaan Bangladesh dan Pengungsi Rohingya

Hari ini Senin, 26 Maret 2018, biasanya warga Banglades libur karena memperingati hari kemerdekaannya. Negara ini merupakan negara termuda di Asia Selatan setelah menyatakan diri berpisah dari Pakistan. Memang pernah menjadi bagian dari Pakistan, yaitu Pakistan Timur.

Bangladesh terletak di wilayah yang dahulu bernama Bengal (Bengali) Timur, Asia Selatan. Negara ini berani memproklamasikan diri sebagai negara Islam tahun 1988. Wilayah seluas Pulau Jawa ini pernah makmur pada masa Kekaisaran Mogul, 1528-1857 yang berazakan Islam.

Tahun 1971, Liga Awami mempelopor gerakan kemerdekaan Bangladesh. Akhirnya pecah perang saudara dengan Pakistan, menelan korban satu juta jiwa dan 10 juta lainnya mengungsi ke India. Resmi berpisah dari Pakistan dan memproklamirkan negara merdeka baru Bangladesh pada tanggal 16 Desember. Pada tahun 1971 itu Sheikh Mujibur Rahman diangkat sebagai perdana menteri.

Sekarang yang menjadi Perdana Menteri Bangladesh adalah puteri sulung Sheik Mujibur Rahman tersebut, yaitu Sheikh Hasina Wazed yang sekarang sudah berusia 70 tahun. Ia paham sekali dengan situasi Bangladesh, karena ketika ayah dan keluarganya dibunuh dalam tragedi berdarah pada 15 Agustus 1975, ia mendengar tragedi itu dari Jerman Barat bersama adiknya Sheikh Rehana.

Kemudian Sheikh Hasina Wazed pindah ke Inggris dan India, akhirnya kembali kembali ke tanah airnya, Bangladesh pada 17 Mei 1981. Ia terpilih sebagai Perdana Menteri Bangladesh dari tahun 1996 hingga 2001. Kemudian tahun 2009 hingga sekarang kembali menjadi Perdana Menteri Bangladesh.

Ulang Tahun Kemerdekaan Bangladesh kali ini, menurut saya, pengungsi Rohingya di Myanmar yang melarikan diri melalui perbatasan dengan Bangladesh, sepertinya masalah pelik yang sedang dihadapi Sheikh Hasina Wazed. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, ada sekitar 146.000 pengungsi yang masuk ke Bangladesh, sehingga
Perdana Menteri Sheikh Hasina sudah memerintahkan membuat data resmi mengenai pengungsi Rohingya ini.

Negara bagian di Myanmar, Rakhine memang dekat sekali dengan perbatasan Bangladesh. Menurut Program Pangan Dunia dibutuhkan sekitar 11,3 juta dollar AS untuk membantu pengungsi Rohingya. Bagaimana pun menjadi masalah baru buat perempuan dan anak-anak. Tidak jarang mereka ditembak pasukan Myanmar di perbatasan. Belum lagi ada di antara mereka diperkosa oleh oknum militer. Yang jelas, menjadi pengungsi, baik di Myanmar atau Suriah tetap mengandung resiko bagi penduduk yang lemah (pengungsi). (wartamerdeka.net)

UPDATE #9
20 Maret 2018

Myanmar 'membuldoser' desa Rohingya di Rakhine, kata Amnesty International

Myanmar dituduh melakukan sebuah "perampasan lahan secara militer" terhadap daerah di wilayah negara bagian Rakhine yang dulu dihuni oleh etnik Rohingya, seperti disampaikan Amnesty International dalam laporan terbarunya.

Kelompok HAM itu menyebut berdasarkan gambar citra satelit dan para saksi, desa-desa tersebut telah dibuldoser untuk melancarkan proyek infrastruktur baru sejak Januari lalu.

Seorang juru bicara Amnesty mengatakan bahwa langkah militer ini "dikhawatirkan" menghilangkan bukti kejahatan terhadap Rohingya.

Pemerintah Myanmar belum memberikan respon terhadap laporan tersebut.

Sebelumnya, Myanmar meminta "bukti yang jelas" untuk mendukung tuduhan dari PBB yang menyebutkan ada dugaan "aksi genosida" terhadap Rohingya.

Amnesty mengatakan ketika gambar dalam laporan terbaru ini mewakili "hanya sebagian, situasi yang meningkatkan kepedulian mengenai implikasinya terhadap masa depan ratusan ribu Rohingya... seperti puluhan ribu orang yang masih hidup di wilayah tersebut". (bbc.com)

UPDATE #8
13 Maret 2018

Amnesty International: Myanmar Bangun Markas Militer di Desa Rohingya

Setelah mengusir hampir 700 ribu Muslim Rohingya keluar dari Myanmar, militer negara itu kini membangun basis-basis militer di lahan di mana sebagian dari rumah dan masjid Rohingya dulu berdiri, kata Amnesty International, Senin (12/3), dengan menyebutkan bukti baru dari gambar satelit, Reuters melaporkan.

Laporan Amnesty, Senin, sama dengan pemberitaan sebelumnya yaitu sebagian dari lebih 350 desa Rohingya, yang musnah terbakar dan sebagian bangunan yang tidak rusak di negara bagian Rakhine, kini sudah diratakan dengan tanah. Dalam satu kasus penduduk Rohingya yang masih bertahan di Myanmar diusir paksa supaya tempat mereka dijadikan basis militer.

Juru bicara pemerintah Myanmar tidak dapat dimintai keterangan. Pejabat-pejabat Myanmar mengatakan desa-desa tadi diratakan dengan tanah dan kemudian di situ dibangun perumahan baru bagi Rohingya yang pulang dari pengungsian.

Myanmar telah meminta bukti jelas untuk mendukung kesimpulan PBB dan lainnya bahwa di negara bagian Rakhine telah terjadi pembersihan etnis.

November lalu Myanmar dan Bangladesh mencapai kesepakatan untuk memulangkan para pengungsi Rohingya. Myanmar mengatakan perumahan sementara sudah siap untuk menampung pengungsi yang pulang, tetapi proses pemulangan belum dimulai.

Amnesty International mengatakan, perubahan yang dilakukan Myanmar di daerah Rohingya dulu tinggal tampaknya dirancang untuk menampung lebih banyak alat keamanan dan penduduk bukan Rohingya sehingga bisa mencegah Rohingya setuju untuk pulang. (voaindonesia.com)

UPDATE #7
7 Maret 2018

Krisis Rohingya: Utusan PBB mengatakan pengungsi alami 'pemaksaan kelaparan'

Myanmar masih belum menghentikan pembersihan etnis atas Rohingya di negara bagian Rakhine, seperti ditegaskan oleh pejabat tinggi PBB. Kajian utusan PBB bahwa 'upaya teror dan pemaksaan kelaparan' terus berlangsung itu diungkapkan 'enam bulan setelah operasi militer di Rakhine yang menyebabkan pengungsian besar-besaran umat Muslim Rohingya'.

"Pembersihan etnis atas Rohingya oleh Myanmar terus berlangsung," jelas asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk hak asasi manusia, Andrew Gilmour, Selasa (06/03).

Sejak Agustus 2017 lalu, diperkirakan 700.000 orang Rohingya menyeberang ke perbatasan Bangladesh. Para pengungsi mengatakan mereka menghadapi pembunuhan, pemerkosaan, sementara kampung mereka dibakar oleh tentara maupun kelompok sipil radikal. Militer Myanmar mengatakan operasi militer digelar untuk memberantas militan Rohingya -yang dituduh menyerang sejumlah pos keamanan- dan tidak menyasar warga sipil di negara bagian Rakhine.

Utusan PBB, Andrew Gilmour, mengungkapkan penilaiannya atas nasib umat Rohingya itu setelah berkunjung ke kamp pengungsi di Cox's Bazar, Bangladesh.

"Saya kira kita tidak bisa mengambil kesimpulan lain dari yang saya lihat dan dengar di Cox's Bazar," tuturnya.

"Bentuk kekerasan berubah dari membiarkan pembunuhan berdarah dingin dan pemerkosaan pada tahun lalu ke upaya dengan intensitas yang lebih rendah dalam upaya teror dan memaksa kelaparan," jelasnya kepada kantor berita AFP usai berkunjung ke kamp pengungsi yang padat.

Pihak berwenang Bangladesh dan Myanmar sudah menggelar perundingan untuk memulangkan para pengungsi Rohingya dalam waktu beberapa bulan mendatang namun pengerahan tentara Myanmar di daerah perbatasan kedua negara memicu kekhawatiran akan program pemulangan tersebut. Andrew Gilmour berpendapat 'tidak bisa dibayangkan' bahwa umat Rohingya kembali ke negara bagian Rakhine dalam waktu dekat dengan cara yang 'aman, bermartabat, dan berkesinambungan'.

"Pemerintah Myanmar sibuk mengatakan kepada dunia bahwa mereka siap menerima kembalinya Rohingya sementara pada saat yang sama pasukannya terus mengusir mereka ke Bangladesh."

Militer Myanmar menutup negara bagian Rakhine untuk wartawan, diplomat, dan sejumlah organisasi kemanusiaan kecuali untuk kunjungan singkat yang sudah diatur dan dengan pengawalan aparat pemerintah. Umat Rohingya tidak diakui sebagai warga negara oleh pemerintah Myanmar, yang menganggap mereka sebagai pendatang gelap. (www.bbc.com)

 

UPDATE #6
15 Februari 2018

Derita yang Menimpa Kaum Minoritas

Setelah Myanmar merdeka pada tahun 1948 kemudian menetapkan Undang-Undang kewarganegaraan yang tidak mencantumkan Rohingya sebagai salah satu etnis yang diakui negara. Buntutnya etnis minoritas itu tidak mendapat kewarganegaraan dan semakin rentan terhadap diskriminasi.

Sering disebut sebagai minoritas paling teraniaya di dunia, eksistensi Rohingya di Myanmar ibarat bertepuk sebelah tangan. Mereka tidak diakui sebagai warga negara, tidak punya hak sipil dan terjajah di tanah sendiri. Hingga kini ratusan ribu kaum Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Sebagian besar pengungsi Rohingya adalah perempuan dan anak-anak.

Pengungsi Rohingya di daerah Teknaf, Bangladesh yang sudah banyak menerima pengungsi. Banyak anggota keluarga yang sakit dan yang sudah tua mereka gotong dan akhirnya tiba di Teknaf. Lebih dari 200.000 bayi Rohingya kini berada di Bangladesh. Menurut UNHCR lebih dari 1.100 anak datang dari Rakhine tanpa disertai orang tua. Ini berarti korban dari konflik yang terjadi ini mengakibatkan meningkatnya angka anak-anak yatim. Rohingya yang cari perlindungan di daerah Teknaf menderita kekurangan makanan akut karena tidak tersedianya sumber makanan yang bisa dk konsumsi. Mereka hanya mengandalkan bantuan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan. Sehingga untuk mendapat makanan mereka harus berebutan. ( www.dw.id )

Tak hentinya derita yang mereka rasakan. Disaat hak mereka sebagai manusia untuk hidup dalam kebebasan, saat ini mereka justru hidup dalam ketakutan akan penindasan yang terjadi. Mari bersama membantu saudara kita disana. Semoga Allah memudahkan kita semua dalam membantu sesama.

UPDATE #5
12 Februari 2018

UNICEF: Puluhan Ribu Anak Rohingya Hidup dalam Kondisi Mirip Penjara

Lebih dari 650 ribu warga Rohingya telah lari ke Cox’s Bazaar, Bangladesh, sejak akhir Agustus untuk menyingkir dari kekerasan dan persekusi di negara bagian Rakhine. Sekitar separuh dari mereka adalah anak-anak.

Penasihat senior UNICEF, Marixie Mercado belum lama ini kembali dari kunjungan sebulan ke Myanmar. Ia mengatakan sulit untuk memperoleh gambaran sebenarnya mengenai anak-anak yang masih berada di sana, karena tidak adanya akses.

Namun, ia dapat memperoleh yang disebutnya pandangan sekilas yang merisaukan mengenai betapa menyedihkan kehidupan anak-anak yang tinggal di Rakhine Tengah. Mercado mengatakan lebih dari 60 ribu anak Rohingya masih berada di negara bagian Rakhine, hampir terlupakan dan terjebak dalam 23 kamp tempat mereka mengungsi akibat kekerasan tahun 2012. Mercado menggambarkan kondisi di dua kamp yang dikunjunginya.

"Kedua kamp berada di wilayah yang terletak di bawah permukaan laut. Hampir tidak ada pohon sama sekali. Hal pertama yang menyambut kita di kamp adalah bau yang menyengat yang membuat kita merasa mual. Bagian-bagian kamp merupakan genangan air limbah. Kemah disangga tiang-tiang, dan di bawahnya adalah sampah dan kotoran manusia. Di satu kamp, kolam tempat orang mengambil air hanya dipisahkan dari genangan air limbah dengan tanggul dari tanah,” ujar Mercado.

Mercado mengatakan anak-anak berjalan tanpa alas kaki di tanah becek dan sebagian dari mereka telah meninggal karena kecelakaan atau penyakit. Ditambahkan, sangat sulit bagi warga Rohingya itu untuk meninggalkan kamp untuk mendapat perawatan medis. Karena itu, orang minta bantuan tabib tradisional, penyedia layanan kesehatan yang tidak terlatih, atau mengobati diri sendiri.

Menurut Mercado kondisi kehidupan dan akses ke layanan yang menyelamatkan jiwa sangat perlu ditingkatkan. Ditambahkan, anak-anak juga tidak dapat memperoleh pendidikan yang layak. Mercado mengatakan pembelajaran dilakukan di ruang-ruang kelas sementara yang tidak diperlengkapi dengan layak, diajar oleh guru-guru relawan yang memiliki rasa pengabdian kuat tetapi tidak memiliki pelatihan formal. [voaindonesia.com]

UPDATE #4
2 Februari 2018

Kelangkaan Pangan yang Harus di Hadapi 650.000 Pengungsi Rohingya

Musim dingin tiba bagi lebih dari 650 ribu pengungsi Muslim-Rohingya di Bangladesh yang melarikan diri dari penumpasan brutal pasukan Myanmar. Rantai pasokan pangan dan tempat penampungan perlahan-lahan mulai teratur, tetapi antrian masih panjang, dan bahan pokok pun masih sangat kurang bagi semua pengungsi apalagi keluarga yang memiliki anggota lebih dari delapan orang.

Fatima Noor, salah satu pengungsi Rohingya yang baru tiba di Cox’s Bazaar Bangladesh mengatakan, “Mereka memberi kami 10-12 kilogram beras, tetapi itu tidak cukup. Ini yang mereka berikan kepada kami setiap bulan. Tetapi saya tidak mendapat lebih dari 10 kilogram beras.”

Program Pangan Sedunia WFP (World Food Programme) telah memberikan lebih dari 200 ribu ton beras bagi 185.000 kepala keluarga, tetapi mengakui bahwa itu tidak cukup. WFP berusaha mentargetkan keluarga yang memiliki anggota lebih banyak dengan mengupayakan peningkatan jatah pangan. Untuk keluarga dengan 4-6 orang anggota keluarga akan disesuaikan seperti biasa, sementara mereka yang memiliki anggota keluarga lebih dari 8 orang akan mendapat jatah dua kali lebih banyak.

Dengan fakta ini bisa di simpulkan betapa mereka membutuhkan bantuan dari kita semua. Saat hak nya sebagai manusia tak bisa dipenuhi inilah saatnya bagi kita untuk membantu dengan menunaikan kewajiban kita. Bersama membantu pengungsi Rohingya untuk hidup lebih baik lagi. (www.voaindonesia.com)

UPDATE #3
23 Januari 2018

Tangis Anak-anak Rohingya Saat Berdesakkan Demi Mendapatkan Makanan

Sebagaimana di ketahui saat ini, jumlah pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp-kamp pengungsian Bangladesh semakin membludak. Mereka melarikan diri dari Myanmar karena telah mengalami penindasaan, diskriminasi, dan kekerasan di negara bagian Rakhine. Tak sedikit dari mereka harus berjejalan dalam satu petak kamp pengungsian berbahankan dinding bambu dan beratapkan daun pinang berbalut terpal. Adapun lantainya hanya beralaskan tanah semata.

Tak hanya harus berbagi tempat, para pengungsi pun di buat tak berdaya dengan keterbatasan makanan untuk bertahan hidup. Demi mendapatkan bantuan makanan, pengungsi anak-anak dan lansia mesti nekat berdesak-desakan dengan pengungsi lainnya. Tangis anak-anak dan lansia saat berdesakan sudah tidak dipedulikan lagi, karena yang dipedulikan mereka hanyalah perut terisi untuk bertahan hidup.

Satu pertanyaan yang muncul, layakkah mereka di perlakukan seperti ini?Pantaskah mereka berdesakan untuk memenuhi perut kosong mereka di saat anak-anak seusia nya di belahan dunia lain sedang asyik dengan permainan mereka?Saatnya bantu meringankan beban anak-anak pengungsi Rohingya. Sudah saatnya mereka terbebas dari desak-desakkan, sudah saatnya mereka bisa bermain dan bersenang-senang di usianya yang masih kecil. Bersama mari penuhi pangan dan bantuan kebutuhan lainnya untuk meringankan beban mereka.


"Bersuci adalah separuh dari keimanan, ucapan Alhamdulillah akan memenuhi timbangan, subhanallah walhamdulillah akan memenuhi ruangan langit dan bumi, shalat adalah cahaya, dan shodaqoh (sedekah) itu merupakan bukti.” (HR. Muslim)

UPDATE #2
8 Januari 2018

50 Ribu Bayi akan Lahir dan Mulai Berjuang Untuk Hidup

Diperkirakan akan lahir 50 ribu bayi di kamp pengungsi warga Rohingya yang penuh sesak di Bangladesh tahun ini. Sebagian dari bayi ini karena korban pemerkosaan, namun semuanya lahir di pemukiman yang memiliki sanitasi buruk dimana mereka berpotensi terkena penyakit atau mengalami kekurangan gizi. Para pekerja kesehatan di kamp pengungsi itu berusaha keras membantu agar bayi-bayi bisa bertahan hidup, namun banyak diantaranya akan meninggal sebelum mereka mencapai usia lima tahun.

Sejak militer Myanmar empat bulan lalu melancarkan operasi militer sebagai balasan dari tindakan kelompok militan Rohingya menyerang pos militer dan polisi Myanmar, jumlah warga yang mengungsi dan melintas masuk ke Bangladesh mencapai angka hampir 655 ribu orang.

Sekarang diperkirakan ada 870 ribu warga Rohingya yang tinggal di kamp pengungsian dan lima persen diantara mereka sedang hamil. Rachel Cummings dari Lembaga Save the Children mengatakan hampir semua perempuan ini akan melahirkan di tenda pengungsian mereka.
Ini bukan tempat yang baik untuk melahirkan.

Cummings ditugaskan untuk mengurusi masalah kesehatan bagi para pengungsi Rohingya dan masalah kesehatan ibu menjadi salah satu hal yang paling menantang di kamp pengungsian ini. "Ini bukan tempat yang baik bagi seorang anak untuk dilahirkan. Dari awal mereka sudah akan berjuang, hidup di lingkungan yang penuh sesak, dimana semua orang berusaha bertahan hidup," katanya.

Di kalangan warga muslim Rohingya yang konservatif ini, perempuan sangat mementingkan privasi ketika melahirkan. Tidak jarang bagi seorang perempuan untuk tidak keluar rumah selama 40 hari setelah melahirkan.
Perempuan yang lebih tua kadang berperan sebagai bidan. Memang ada fasilitas kesehatan di kamp pengungsi tersebut, namun mengunjungi salah satu diantaranya tidak mudah.

Mulai 22 Januari, Myanmar akan menerima kembali pengungsi Rohingya, berdasarkan perjanjian pemulangan yang ditandatangani dengan Bangladesh November lalu.

Sikap resmi adalah pengungsi Rohingya yang melarikan diri atas kekerasan yang terjadi bulan Agustus lalu akan diterima kembali. Namun dengan belasan ribu pengungsi di sana menyebut alasan pemerkosaan, pemukulan dan tidak kekerasan lain yang dilakukan militer Myanmar, masih belum jelas apakah ada pengungsi yang akan kembali.

(REPUBLIKA.CO.ID, COX'S BAZAR Jum’at, 05 Januari 2018)


Sahabat ...Allah akan menolong seorang hamba selama hamba Nya senantiasa menolong saudaranya. Mari bersama wujudkan harapan untuk mereka hidup lebih baik.

#SaveRohingya
#SelamatkanAnakRohingya

UPDATE #1
24 November 2017

Doa Yatim Dhuafa untuk Rohingya

7 Sep 2017 17:30


Dukungan 60.000 Anak Asuhan Rumah Yatim untuk Rohingya

Sudah bayak kiranya, umat muslim di Indonesia yang telah menyaksikan penganiayaan terhadap muslim Rohingya, akibat perpecahan antar agama di Myanmar. Ditimpa ujian yang melanda seluruh kaumnya, membuat umat muslim Rohingya harus meninggalkan tempat tinggal mereka, dan mencari tempat perlindungan untuk menyelamatkan diri dari kekerasan dan teror yang tiada terperi.

Betapa tidak disamping pembantaian, 2600 pemukiman mereka pun telah hangus terbakar. Operasi militer di negara bagian Rakhine Myanmar sejauh ini menyebabkan lebih dari 120.000 orang Rohingya mengungsi ke negara - negara lain di sekitarnya.

"Sangat menakutkan ... rumah-rumah dibakar, orang-orang berlarian meninggalkan rumah mereka, anak dan orang tua terpisah, beberapa di antaranya hilang, yang lainnya tewas," kata Abdullah kepada kantor berita Reuters, hari Rabu (30/08).

Mendengar berbagai pemberitaan yang sampai hingga di tingkat anak - anak asuhan Rumah Yatim, mereka turut memberikan bantuan melalui doa yang dipanjatkan secara bersama oleh 60.000 anak yatim dan dhuafa asuhan Rumah Yatim di Indonesia.

Kegiatan doa bersama yang dilakukan anak asuh bada shalat magrib pada (6/9) secara serentak di asrama, serta masjid dan TPA binaan Rumah Yatim, menjadi bentuk solidaritas anak asuh bagi umat muslim dan anak - anak muslim Rohingya yang tidak seberuntung mereka dan sedang tertimpa musibah.

"Kami berdoa semoga kaum muslim di Rohingya khususnya sahabat-sahabat kami bisa kembali dengan keluarga yang masih ada dengan aman, bisa menggapai cita-cita mereka dan mereka bisa tersenyum bukan menangis karena menahan penderitaan."Ungkap Salma, pewakilan anak asuh dalam prosesi doa bersama untuk muslim Rohingya di Asrama Rumah Yatim.

Berikut adalah doa yang mereka panjatkan :

Ya Allah ya Rabb kami…
Kami telah menyaksikan dan merasakan penderitaan dan kesedihan saudara kami di Rohingya..
Sesungguhnya rasa sakit mereka adalah sakit kami juga, airmata mereka adalah airmata kami juga ,tangisan mereka adalah tangisan kami juga..

Ya Allah, selamatkanlah kaum Muslimin di Rohingya, Ya Allah selamatkanlah kaum muslimin di semua tempat, Ya Allah selamatkanlah kaum-kaum yang lemah dari kalangan orang-orang yang beriman.

amin ya rabbal alamin.

#RumahYatim
#SaveRohingya

Tanggal Nominal
Hamba Allah
9 Desember 2017
Rp 10.687
Hamba Allah
14 Desember 2017
Rp 100.937
Hamba Allah
20 Desember 2017
Rp 50.000
Hamba Allah
21 Desember 2017
Rp 850.143
Hamba Allah
27 Desember 2017
Rp 150.467
Hamba Allah
29 Desember 2017
Rp 50.697
Hamba Allah
29 Desember 2017
Rp 100.715
Hamba Allah
4 Januari 2018
Rp 210.000
Hamba Allah
15 Januari 2018
Rp 100.252
yosep sopyan
15 Januari 2018
Rp 25.542
Chindy
17 Januari 2018
Rp 150.805
Hamba Allah
18 Januari 2018
Rp 150.881
Hamba Allah
26 Januari 2018
Rp 200.000
Hamba Allah
31 Januari 2018
Rp 100.336
Hamba Allah
31 Januari 2018
Rp 500.351
Hamba Allah
7 Februari 2018
Rp 500.967
Hamba Allah
8 Februari 2018
Rp 200.963
Hamba Allah
18 Februari 2018
Rp 150.555
Hamba Allah
19 Februari 2018
Rp 50.219
Hamba Allah
27 Februari 2018
Rp 50.157
Hamba Allah
2 Maret 2018
Rp 50.582
Hamba Allah
6 Maret 2018
Rp 10.363
Hamba Allah
13 Maret 2018
Rp 70.321
Hamba Allah
18 Maret 2018
Rp 100.000
Hamba Allah
5 April 2018
Rp 100.505
Hamba Allah
6 April 2018
Rp 70.525
Hamba Allah
6 April 2018
Rp 50.606
Hamba Allah
11 April 2018
Rp 100.747
Hamba Allah
13 April 2018
Rp 40.978
Hamba Allah
13 April 2018
Rp 100.971
Hamba Allah
25 April 2018
Rp 200.644

Total donatur : 31 orang