Detail Program

Kesehatan

Bantu Cangkok Mata untuk Roro

Terkumpul
Rp 201.469
Target
Rp 150.000.000
Rp
, - 
PERIODE WAKTU:
41 hari

BERAKHIR PADA:
31 Desember 2017
Penerima Manfaat:
1 orang

Lingkup wilayah:
Sukabumi, Jabar
UPDATE LAPORAN TERBARU
8 Februari 2018

Roro Pengidap Glaukoma Optimalkan Terapi Audiotorik

Terapi mobilitas perdana pengidap glaukoma kongenital, Robiah Adawiyah (4)  mendapat tanggapan dari Ketua Pendidikan dan Pelatihan Usia Dini Yayasan Wyata Guna. Terapi itu dilaksanakan di Yayasan Wyata Guna, Jalan Pajajaran Kota Bandung, Senin (5/2). Terapi ini merupakan upaya untuk meningkatkan daya tangkap audiotorik Roro.

Ketua Pendidikan dan Pelatihan Usia Dini, Irham Hosni menjelaskan, proses ini merupakan tahap belajar untuk memberikan ruang gerak kepada Roro. Menurutnya, Roro harus tetap dibiarkan aktif dan bermain dengan kemauannya. Maka, dengan cara itulah, Roro akan lebih banyak mengenal suasana dan benda yang ada di sekitarnya.

Selain itu, ia menambahkan, terapi ini akan berjalan sesuai kondisi anak itu sendiri. Untuk Roro, kata dia, bisa melangsungkan terapi mobilitas ini dengan cepat. Karena, Roro terlihat sangat aktif dan berani untuk tampil. Sehingga, dia menyarankan untuk nantinya Roro bisa dimasukan ke sekolah normal. "SLB jalan terakhir, jika nanti ada kesulitan saat di sekolah normal maka gurunya yang kita edukasi," jelasnya.

Tujuan itu, kata Irham, untuk memperbanyak interaksi Roro dengan lingkuran yang normal. Sehingga Roro, bisa beradaptasi dengan lingkungan baru yang lebih mendukung pariatif motoriknya. Menurut Irham, semakin banyak konsep yang didapat Roro, maka semakin banyak ilmu untuk menunjang dirinya. "Jadi biarkan dia gerak, dan melakkukan aktivitas dengan anak normal lainnya," paparnya.

Bukan hanya itu, ia menyarankan, kedua orangtua Roro harus turut aktif dalam menunjang gerak Roro. Cara itu, bisa dilakukan kedua orangtuanya dengan menentukan titik point saat di rumah. Tujuan ini, tambah Irham, untuk mempermudah Roro mengingat posisi benda dan lokasi lainnya. "Untuk menentukan sebaiknya dimulai dari kamar dia sendiri," ujarnya.

Irham berharap, dengan aktifnya Roro dalam keseharian bisa mempercepat pengusaan lingkungan. Tetapi dia menambahkan, segala hal yang berdekatan dengan Roro harus dijelaskan secara konkret. Sehingga, tidak ada anggapan magic dalam persepsi diri Roro.

"Usahakan jelaskan serinci mungkin, apalagi jika Roro minta air jangan langsung dikasih. Coba jelaskan dari mana air itu diambil," tutup Irham.


Deskripsi Program


“Mah..pak.. kapan beli mata buat Roro, Roro pengen bisa lihat.” Ungkapan ini kerap diucapkan bocah malang bernama Roro kepada kedua orang tuanya.

Bocah malang yang tinggal di kampung Cisarua RT 01 RW 06 Giri Jaya, Sukabumi ini mempunyai nama lengkap Robiah Adawiyah (3), ia sudah menjadi seorang tunanetra sejak lahir karena penyakit glaukoma yang dideritanya. Selain merenggut penglihatan Roro, penyakit ini pun mengakibatkan bola mata kanan Roro mengempes dan mengakibatkan mata kiri roro mengalami katarak mata babi.

Entah Abdul Fatah, ayah Roro yang bekerja sebagai serabutan hanya bisa pasrah dengan kondisi putri bungsunya, berbagai upaya sudah dilakukan Entah dan istrinya, sampai-sampai ia berhutang kesana kemari untuk membiayai pengobatan Roro.

Hati Entah selalu merasa sakit ketika putri bungsunya merengek meminta dibelikan mata, namun Entah hanya bisa menenangkan putrinya dengan mengatakan, “Doakan bapak ya nak biar bisa ngumpulin uang buat beli mata Roro.”

Cangkok Mata untuk Roro

Entah mengatakan, satu-satunya cara yang bisa dilakukan agar putri kecilnya bisa melihat adalah dengan cangkok mata. Namun hanya mata kanan Roro yang bisa dicangkok, karena mata kiri Roro yang menderita katarak mata babi tidak bisa untuk melakukan cangkok mata.

Untuk operasi cangkok mata bisa dilakukan di RS. Mata Cicendo, namun tidak sedikit biaya yang dibutuhkan untuk melakukan operasi tersebut. Sebagai bentuk perhatiannya Rumah Yatim berinisiatif membantu biaya operasi dengan cara melakukan penggalangan dana untuk cangkok mata Roro.

Berikan bantuan terbaik anda untuk mencerahkan masa depan roro,

UPDATE #5
8 Februari 2018

Roro Pengidap Glaukoma Optimalkan Terapi Audiotorik

Terapi mobilitas perdana pengidap glaukoma kongenital, Robiah Adawiyah (4)  mendapat tanggapan dari Ketua Pendidikan dan Pelatihan Usia Dini Yayasan Wyata Guna. Terapi itu dilaksanakan di Yayasan Wyata Guna, Jalan Pajajaran Kota Bandung, Senin (5/2). Terapi ini merupakan upaya untuk meningkatkan daya tangkap audiotorik Roro.

Ketua Pendidikan dan Pelatihan Usia Dini, Irham Hosni menjelaskan, proses ini merupakan tahap belajar untuk memberikan ruang gerak kepada Roro. Menurutnya, Roro harus tetap dibiarkan aktif dan bermain dengan kemauannya. Maka, dengan cara itulah, Roro akan lebih banyak mengenal suasana dan benda yang ada di sekitarnya.

Selain itu, ia menambahkan, terapi ini akan berjalan sesuai kondisi anak itu sendiri. Untuk Roro, kata dia, bisa melangsungkan terapi mobilitas ini dengan cepat. Karena, Roro terlihat sangat aktif dan berani untuk tampil. Sehingga, dia menyarankan untuk nantinya Roro bisa dimasukan ke sekolah normal. "SLB jalan terakhir, jika nanti ada kesulitan saat di sekolah normal maka gurunya yang kita edukasi," jelasnya.

Tujuan itu, kata Irham, untuk memperbanyak interaksi Roro dengan lingkuran yang normal. Sehingga Roro, bisa beradaptasi dengan lingkungan baru yang lebih mendukung pariatif motoriknya. Menurut Irham, semakin banyak konsep yang didapat Roro, maka semakin banyak ilmu untuk menunjang dirinya. "Jadi biarkan dia gerak, dan melakkukan aktivitas dengan anak normal lainnya," paparnya.

Bukan hanya itu, ia menyarankan, kedua orangtua Roro harus turut aktif dalam menunjang gerak Roro. Cara itu, bisa dilakukan kedua orangtuanya dengan menentukan titik point saat di rumah. Tujuan ini, tambah Irham, untuk mempermudah Roro mengingat posisi benda dan lokasi lainnya. "Untuk menentukan sebaiknya dimulai dari kamar dia sendiri," ujarnya.

Irham berharap, dengan aktifnya Roro dalam keseharian bisa mempercepat pengusaan lingkungan. Tetapi dia menambahkan, segala hal yang berdekatan dengan Roro harus dijelaskan secara konkret. Sehingga, tidak ada anggapan magic dalam persepsi diri Roro.

"Usahakan jelaskan serinci mungkin, apalagi jika Roro minta air jangan langsung dikasih. Coba jelaskan dari mana air itu diambil," tutup Irham.

UPDATE #4
12 Januari 2018

Konsultasi Tindak Lanjut Penanganan Roro Pengidap Glaukoma

Hampir enam jam lamanya perjalanan tim Rumah Yatim Jawa Barat menuju ke kediaman Robiah Adawiyah (4) di Kampung Cisarua RT 01/06, Desa Giri Jaya, Kecamatan Warung Kiara, Kabupaten Sukabumi, Rabu (10/1). 

Kedatangan tim Rumah Yatim disambut rasa gembira Roro -sapaan akrabnya. Roro merupakan putri bungsu pasangan Entah Abdul Fatah (42) dan Rini (35). Sejak balita Roro mengidap penyakit Glaukoma Kongenital. Penyakit yang merenggut penglihatannya.

Ia merupakan anak yang aktif dan ceria. Sehari-hari dirinya melakukan aktivitas layaknya anak normal seusianya. Ayah dan ibunya hanya sesekali mengarahkan anaknya. Selebihnya Roro lah yang mengingat setiap ajaran yang diberikan orang tuanya.

Kedatangan tim Rumah Yatim Jabar ini bukan kali pertama. Kunjungan kali ini merupakan bentuk tindak lanjut dalam upaya membantu kesembuhan Roro. Akan tetapi kedatangan tim kali ini untuk memberikan penjelasan kepada orang tua Roro rencana pemberian konseling dan terapi untuk mereka.

Menurut pemaparan Kasie Pemberdayaan Rumah Yatim Jabar, Solehudin, kedatangan tim untuk memberikan penjelasan terkait upaya untuk menunjang keseharian Roro. Nantinya, sambung dia, orang tua Roro akan mendapatkan edukasi dan konseling untuk menunjang aktivitas Roro sehari-hari.

"Nantinya kita akan bawa orangtua Roro ke salah satu yayasan di Kota Bandung, yang memang ahli dalam penanganan anak yang tuna netra," paparnya.

Rencananya, sambung Solehudin, kedua orang tua Roro akan mendapatkan edukasi. Edukasi tersebut meliputi Observasi Mobilitas (OM), serta kelas inklusi menuju SLB.

Niat baik Rumah Yatim ini, rencananya akan direalisasikan minggu depan. Sehingga pemenuhan kebutuhan untuk Roro bisa terlaksana lebih cepat.

"Rencananya kita akan membawa orangtua Roro ke Bandung untuk konsultasi awal dengan Low Vision di Yayasan Wyata Guna Bandung,"  pungkas Solehudin.


Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. – (Q.S Al-Zalzalah: 7)


#SedekahRefleksikanIman

 

UPDATE #3
11 Januari 2018

Upaya Lanjutan Pengobatan Mata Roro

Rumah Yatim melakukan upaya pengobatan lanjutan kepada Roro Adawiyah (4). Pengobatan lanjutan ini dilakukan di beberapa rumah sakit yang ada di Jakarta. Salah satunya ke RS Cipto Mangunkusumo, Jalan Pangeran Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (28/12). Upaya ini merupakan bukti kepedulian Rumah Yatim terhadap kesembuhan Roro. 

Menurut penjelasan tim kesehatan Rumah Yatim, Zulfa, usaha kedua ini merupakan bentuk perbandingan dari hasil pemeriksaan yang sebelumnya. 

Menurut Zulfa, kedatangannya ke dua rumah sakit yang ada di Jakarta ini hanya ingin mengetahui perbandingan lain. Namun, hasil yang didapatkan ialah kondisi Roro sudah tidak bisa melihat lagi.

"Kita ikhtiar sudah, yang penting sekarang kita akan memaksimalkan terapi untuk Roro," papar Zulfa.

Dalam hal ini dokter yang menangani Roro menyarankan tidak usah dilakukan operasi. Karena resiko terhadap anak terlalu besar. Sehingga Roro dianjurkan untuk terapi agar anak mandiri.

"Untuk ke depannya ada pemantauan khusus aja untuk orang tuanya, karena harus ada kontrol lanjutan mengatasi pembengkakan lanjutan," ujar Zulfa.


Dan ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu beriringan dengan kesabaran. Jalan keluar beriringan dengan kesukaran. Dan sesudah kesulitan pasti akan datang kemudahan. (HR. Tirmidzi)

#JanganKenalLelahSaatAllahMemberiKitaKekuatanUntukBerikhtiar

UPDATE #2
18 Desember 2017

Langkah Pertama Rumah Yatim dalam Penyembuhan Penyakit Roro

Dia begitu ceria saat disapa, langkah riangnya membising di lantai dua kantor Rumah Yatim, Jalan Buah Batu No. 296, Kota Bandung, Senin (18/11) pagi. Kedatangan dia sudah ditunggu haru dan gembira oleh tim Rumah Yatim. Saat kantor masih sepi dia telah berlari kesana kemari.

Robiah Adawiyah (4), putri bungsu pasangan Entah Abdul Fatah dan Rini datang berkunjung. Kecerian terpancar saat Roro, -sapaan akrabnya, berbincang dengan jurnalis Rumah Yatim. Hari ini Roro akan mengunjungi RS Cicendo, untuk memeriksakan kondisi matanya.

"Dari rumah jam 5 sore kemarin, sampai sini (kantor Rumah Yatim) jam 10 malam," jelas Abdul Fatah.

Roro sejak lahir divonis mengidap penyakit Glaukoma Kongenital atau disebut juga Glaukoma Infantil Primer, terjadi pada bayi dan anak-anak yang masih kecil. Glaukoma sendiri ialah penyakit mata dimana tekanan cairan dalam bola mata menjadi terlalu tinggi. Sehingga merusak serat lembut saraf optik (mata) yang membawa sinyal penglihatan dari mata ke otak.

Sejak lahir, menurut pemaparan sang Ayah, Putri bungsunya ini sudah tidak bisa melihat. Keceriaan Roro terenggut dengan ganasnya penyakit yang semakin menjadi. Penanganan pertama Roro ialah saat umurnya menginjak lima bulan. Upaya ini diambil dengan pertimbangan yang berat.

"Selama lahir hingga umur tiga tahun Roro terus keluar-masuk rumah sakit," papar Ayah dari tiga orang anak ini.

Roro merupakan anak yang aktif, tingkahnya yang manja dan ceria membuat sang ibu terus bersemangat untuk kesembuhan anaknya. Roro lahir dengan kondisi prematur tujuh bulan dikandungan, dengan kondisi berat badan hanya 1,3 kilogram.

Abdul Fatah berharap, dibawanya Roro ke Kota Kembang bisa menemukan titik terang bagi putri bungsunya ini. Kondisi ekonomi yang kurang, membuat Roro mendapat pengobatan seadanya.

"Alhamdulillah Rumah Yatim membantu kami untuk pengobatan lanjutan ke rumah sakit khusus mata disini (Cicendo)," tutup Abdul Fatah.

UPDATE #1
16 Desember 2017

Glaukoma Renggut Penglihatan Roro

Senyum riang terpancar dari wajah manis Robiah Adawiyah (4), saat dikunjungi Tim Kesehatan Rumah Yatim di Kampung Cisarua, RT 01/06, Desa Giri Jaya, kecamatan Warung Kiara, Kabupaten Sukabumi, Kamis (14/12). Kunjungan ini merupakan kali kedua tim kesehatan Rumah Yatim ke kediaman Roro.

Empat tahun sudah Roro -sapaan akrabnya, anak dari pasangan Entah Abdul Fatah dan Rini, menahan sakit yang sudah ia derita sejak lahir. Roro sebenarnya mengidap penyakit Glaukoma, ialah penyakit mata dimana tekanan cairan dalam bola mata menjadi terlalu tinggi. Sehingga merusak serat lembut saraf optik (mata) yang membawa sinyal penglihatan dari mata ke otak.

"Rencana kami (Rumah Yatim) akan membawa Roro ke Rumah Sakit Cicendo nanti hari Senin untuk pengobatan selanjutnya," jelas Zulfa Hakimah, salah seorang Tim Kesehatan Rumah Yatim.

Menurut, Zulfa, penyakit ini merupakan salah satu kedaruratan dalam bagian mata dimana harus ditangani secara segera. Namun pasca operasi, sambung Zulfa, mata Roro menjadi tidak bisa melihat.

"Karena doker hanya bisa mampu untuk mengurangi tekanan cairan dalam bola mata nya dengan cara membuat saluran dalam bola mata Roro untuk mengurangi tekanan cairannya," papar Zulfa.

Hingga kini Roro hanya mendapatkan pengobatan seadanya. Kondisi ekonomi yang kurang, membuat keluarga pasrah. Namun, sambung Zulfa, Rumah Yatim akan terus mendampingi Roro dalam proses penyembuhannya.

Kini, Roro hanya bisa tersenyum tanpa melihat keadaan sekitar. Senyumannya yang polos menyejukkan hati orangtua nya. Tim kesehatan Rumah Yatim akan selalu memberikan yang terbaik kepada Roro.

"Kita akan pantau dan menemani sampai pengobatan selesai," tutup Zulfa.

Tanggal Nominal
Hamba Allah
10 Desember 2017
Rp 50.744
Hamba Allah
12 Januari 2018
Rp 100.580
Hamba Allah
15 Januari 2018
Rp 50.145

Total donatur : 3 orang