Detail Program

Kemanusiaan

Bantu krisis air di Gaza

Terkumpul
Rp 362.757
Target
Rp 392.500.000
Rp
, - 
PERIODE WAKTU:
120 hari

BERAKHIR PADA:
15 Mei 2018
Penerima Manfaat:
7.500 orang

Lingkup wilayah:
nasional
UPDATE LAPORAN TERBARU
12 Februari 2018

Blokade Hitam di Gaza Renggut Bayi Berusia 4 Hari

Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza menyebutkan, bayi bernama Karam Abu Awad yang berusia 4 hari di Beit Lahia akhirnya meninggal dunia. Masuk dalam rentetan daftar korban karena kurangnya obat-obatan di Jalur Gaza.

Dalam pernyataannya, Kamis (8/2) Kementerian Kesehatan menjelaskan, bayi Abu Awad meninggal karena habisnya obat Calfactant yang berfungsi untuk pertukaran gas dalam sistem pernapasan buatan. Ia meninggal setelah empat hari lahir kedunia melalui operasi caesar.

Sementara itu, Kepala Departemen perawatan Medis Al-Shifa, Nasser Belbul meminta pihak-pihak berwenang untuk menyediakan obat-obatan khusus untuk anak-anak yang lahir secara prematur seperti obat Calfactant dengan cara menyuntikkannya ke dalam paru-paru mereka.

Di Rumah sakit yang sama telah terjadi lima kali kematian bayi prematur karena tidak tersedianya obat tersebut. "Pengobatan ini disuntikkan ke paru-paru untuk membantu bayi prematur bernafas karena tidak memiliki sistem pernafasan yang baik," kata Bulbul.

Dalam kasus yang sama, bagian Inkubasi di Rumah Sakit Bulan Sabit UEA dilaporkan terjadinya kasus kematian bayi kecil Hadia Abu Hilal pada pertengahan Januari lalu yang berusia 5 hati, karena kurangnya perawatan dan kurangnya ketersediaan obat-obatan di rumah sakit tersebut.

Tidak adanya ketersediaan 230 jenis obat-obatan di semua Rumah Sakit di Jalur Gaza membuag kasus serupa berulang kali terjadi. Padahal 46% saja dari ketersediaan obat-obatan menunjukan sudah sangat berbahaya bagi suatu rumah sakit. Hal ini terjadi sejak pemblokadean yang terjadi di Jalur Gaza. (source:melayu.palinfo.com)

Mari segera bantu masyarakat Palestina khususnya anak-anak di Gaza agar mempunyai kehidupan yang lebih layak dengan menyalurkan bantuan terbaik yang kita miliki. Bersama membangun dan menciptakan kehidupan mereka yang lebih baik.


Deskripsi Program


Rakyat Palestina menjalani hidup dengan penuh kesulitan akibat pendudukan Israel pada seluruh wilayah Palestina, dan pemberlakuan blokade secara khusus pada Jalur Gaza yang telah berlalu beberapa tahun.

Hidup dalam pengawasan penuh dan kontrol ketat Israel ini, cukup mempengaruhi kebebasan dan kenyamanan hidup rakyat Palestina, terkhusus mereka yang hidup di Jalur Gaza.

Sejumlah masalah dan krisis kemanusiaan terjadi, mulai dari krisis listrik, krisis air bersih, pembangunan infrastruktur yang lamban, hingga kesulitan bagi warga Palestina untuk bepergian ke luar negeri.

Lebih dari 90% dari ketersediaan air bersih di Jalur Gaza, tidak layak dikomsumsi atau diminum karena sudah terkontaminasi zat beracun yang dikenal dengan zat nitrat, bahkan badan kemanusiaan dunia WHO pun beberapa tahun lalu telah merilis berita dari hasil riset terkait kandungan air di Gaza tak layak dikonsumsi, akibat terkontaminasi zat kimia berbahaya bagi kesehatan manusia.

Musim panas yang cukup ekstrim sejak 30 tahun terakhir ini membuat kebutuhan terhadap air minum cukup tinggi. Namun jika air yang tersedia ini langsung diminum, maka akan menyebabkan sejumlah penyakit berbahaya seperti sedimentasi (penyakit urin) dan gagal ginjal.

Karena itu, setiap masyarakat Gaza jika ingin mendapatkan air bersih, air layak dikonsumsi adalah mereka harus membelinya dari depot atau pusat pengolahan secara filterisasi proses melalui laboratorium, ini pun tentu tidak semua warga Gaza mampu membelinya, karena dari 2 juta jiwa penduduk Gaza 1,5 juta masih berada dibawah garis kemiskinan.

Atas alasan diatas, Rumah Yatim mengajak semua pihak untuk bersama memberikan dukungan dan bantuan secara nyata, berupa  Pembuatan Sumur Bor bagi rakyat Palestina yang mengalami krisis air bersih, yang berkepanjangan terutama di wilayah Gaza.

Bantuan ini di prioritaskan untuk daerah  kurang mampu dan padat penduduk terutama mereka yang tidak memiliki tempat tinggal dan juga untuk beberapa masjid di daerah jalur Gaza (Utara dan Selatan)

Program ini ditargetkan bisa membangun minimal 5 Sumur bor dan bisa Memberikan manfaat kepada lebih dari 7.500 orang di Gaza.

UPDATE #3
12 Februari 2018

Blokade Hitam di Gaza Renggut Bayi Berusia 4 Hari

Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza menyebutkan, bayi bernama Karam Abu Awad yang berusia 4 hari di Beit Lahia akhirnya meninggal dunia. Masuk dalam rentetan daftar korban karena kurangnya obat-obatan di Jalur Gaza.

Dalam pernyataannya, Kamis (8/2) Kementerian Kesehatan menjelaskan, bayi Abu Awad meninggal karena habisnya obat Calfactant yang berfungsi untuk pertukaran gas dalam sistem pernapasan buatan. Ia meninggal setelah empat hari lahir kedunia melalui operasi caesar.

Sementara itu, Kepala Departemen perawatan Medis Al-Shifa, Nasser Belbul meminta pihak-pihak berwenang untuk menyediakan obat-obatan khusus untuk anak-anak yang lahir secara prematur seperti obat Calfactant dengan cara menyuntikkannya ke dalam paru-paru mereka.

Di Rumah sakit yang sama telah terjadi lima kali kematian bayi prematur karena tidak tersedianya obat tersebut. "Pengobatan ini disuntikkan ke paru-paru untuk membantu bayi prematur bernafas karena tidak memiliki sistem pernafasan yang baik," kata Bulbul.

Dalam kasus yang sama, bagian Inkubasi di Rumah Sakit Bulan Sabit UEA dilaporkan terjadinya kasus kematian bayi kecil Hadia Abu Hilal pada pertengahan Januari lalu yang berusia 5 hati, karena kurangnya perawatan dan kurangnya ketersediaan obat-obatan di rumah sakit tersebut.

Tidak adanya ketersediaan 230 jenis obat-obatan di semua Rumah Sakit di Jalur Gaza membuag kasus serupa berulang kali terjadi. Padahal 46% saja dari ketersediaan obat-obatan menunjukan sudah sangat berbahaya bagi suatu rumah sakit. Hal ini terjadi sejak pemblokadean yang terjadi di Jalur Gaza. (source:melayu.palinfo.com)

Mari segera bantu masyarakat Palestina khususnya anak-anak di Gaza agar mempunyai kehidupan yang lebih layak dengan menyalurkan bantuan terbaik yang kita miliki. Bersama membangun dan menciptakan kehidupan mereka yang lebih baik.

UPDATE #2
6 Februari 2018

Kondisi Anak Yatim di Jalur Gaza

Hari demi hari, waktu demi waktu jumlah anak yatim di jalur Gaza meningkat karena serangan berulang dari Israel terhadap warga sipil yang tidak berdosa yang kemudian terus berlanjut perang di Gaza terutama perang baru-baru ini di Gaza 2014 yang menghasilkan lebih dari 2200 kesyahidan, khususnya di wilayah Jalur Gaza utara. Angka yatim piatu di jalur Gaza mencapai jumlah besar, kurang lebih 20.000 anak yatim.

Fenomena anak yatim merupakan hal yang amat memprihatinkan. Berkurangnya sumber daya manusia akibat kematian yang terjadi mengganggu pengembangan sehingga perlunya penyelesaian masalah ini secara tepat waktu. Dan perlu diketahui pula, hal yang benar-benar dibutuhkan oleh mereka saat ini adalah, memberi anak yatim lebih banyak perhatian dan perawatan sosial, psikologis, kesehatan dan pendidikan. Melalui cara merawat mereka dengan menyediakan segala kebutuhan mereka.

Anak yatim adalah kategori paling penting di masyarakat Palestina karena banyaknya jumlah yang terus meningkat yang di akibatkan karena agresi dan perang yang berkelanjutan sehingga berakibat banyak dari masyarakat terluka bahkan meninggal. Akibatnya banyak anak yang kehilangan ayah yang berperan penting untuk bertanggung jawab dalam merawat mereka dan memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Anak-anak yatim piatu di Gaza sangat membutuhkan hal-hal berikut;
1. Mendukung anak yatim dan keluarga mereka dengan proyek bantuan berulang seperti paket makanan.
2. Mendukung anak yatim dengan pakaian musim dingin dan selimut musim dingin terutama pada musim dingin.
3. Biaya untuk penggalian sumur atau sumber air yang amat penting dan di butuhkan dalam menunjang keseharian mereka.

Mari bersama menunaikan kewajiban dalam membantu mewujudkan masyarakat Gaza khususnya anak-anak yatim disana untuk mempunyai sarana air bersih yang menunjang keseharian mereka. Mereka layak untuk bisa hidup sehat dengan bantuan dari semua pihak yang wajib pula untuk mewujudkannya.

UPDATE #1
29 Januari 2018

Kondisi Kesediaan Air bersih di Jalur Gaza

Suplai air di Gaza dari produsen atau yang kita kenal dengan depot air perhari nya hanya mencapai 4 sampai 6 jam saja. Hal ini pun tergantung dengan kesediaan listrik yang saat ini memang menjadi salah satu masalah yang cukup membuat warga Gaza kesulitan dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Ini terjadi di sebabkan karena adanya kerusakan pada saluran air yang rusak akibat peperangan yang berlangsung sejak lama.

Suplai air dari produsen pun mempunyai kapasitas sekitar 110 L air per hari dengan ketentuan yang pasti. Yaitu 4 - 6 jam sesuai dengan ketersediaan listrik perhari nya yang artinya adalah 3 - 5 jam perhari ketersediaan air per lima hari. Yang berarti juga bahwa hanya sekitar 66 rumah tangga saja yang bisa terjangkau oleh produsen air di Gaza.

Sebesar 30 % saluran air yang tersedia pun terputus karena adanya kebocoran. Hal ini semakin menyebabkan pasokan air untuk warga Gaza amat berkurang. Inilah alasan kami untuk mengajak semua lapisan masyarakat untu membantu menyediakan sumur untuk saudara kita di Gaza agar bisa merasakan kembali bagaimana rasa nya mempunyai sumber air sendiri.

Tanggal Nominal
Hamba Allah
17 Januari 2018
Rp 100.238
Hamba Allah
18 Januari 2018
Rp 50.818
Hamba allah
22 Januari 2018
Rp 10.344
Hamba Allah
22 Januari 2018
Rp 100.811
Hamba Allah
31 Januari 2018
Rp 100.546

Total donatur : 5 orang