Detail Program

Kemanusiaan

Kampung Pemulung Butuh MCK dan Sarana Air Bersih

Terkumpul
Rp 4.321.098
Target
Rp 37.500.000
Rp
, - 
PERIODE WAKTU:
118 hari

BERAKHIR PADA:
15 Mei 2018
Penerima Manfaat:
135 orang

Lingkup wilayah:
Kabupaten Bandung, Jabar
UPDATE LAPORAN TERBARU
19 Januari 2018

Bekas TPS yang Terpaksa di Jadikan Pemukiman Warga

Sebuah papan bertuliskan 'Tanah ini milik PD (Perusahaan Daerah) Kebersihan Kota Bandung' menjadi sambutan awal tim Rumah Yatim Area Jawa Barat ketika berkunjung ke Kampung Mekarsari Cieunteung, Kabupaten Bandung. Kumuh dan kotor itulah kesan yang pertama  terpikirkan setelah tim melihat tumpukan sampah yang menggunung bercampur tanah. Rata-rata bangunan yang terbuat dari bilik kayu nan reot menjadi tempat tinggal bagi warga setempat. 

“Sebenernya kan ini tanah PD, bukan tanah pribadi, jadi dipake berteduh dulu untuk sementara waktu,” papar salah satu warga, Entin.

Kampung Mekarsari, merupakan bekas tempat pembuangan sampah Kota Bandung ini menjadi pemukiman warga setempat. Dasar tanah dipenuhi tumpukan sampah dengan ketinggian sekitar 15-20 meter itu hingga ingga detik ini masih dihuni warga Kampung Mekarsari Cieunteung.

Kurangnya air bersih menjadi kendala paling utama yang dihadapi warga setempat. Tidak adanya sumber air bersih atau sumur pribadi menjadi hambatannya. Entin mengungkapkan dasar tanah yang berisi 15-20 meter tumpukan sampah, membuat warga tidak bisa mengebor tanah untuk mendapatkan air bersih. Sehingga, untuk mendapatkan air bersih, warga terpaksa minta dari pabrik kayu lingkungan setempat. 

“Keadaan masyarakat di sini mah kebanyakan tidak mampu. Kalau mau nyuci pakai air umum, dapet dari pabrik,” terangnya.

Tidak adanya sarana MCK (mandi cuci kakus), Entin mengaku air yang diberikan oleh pabrik kayu pun terbatas. Adanya pembagian waktu pengaliran air ke lingkungan setempat, membuat warga tidak bisa menggunakan air setiap waktu. Selain itu, hal tersebut membuat dirinya bersama warga lain harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan air bersih, yang akan digunakan untuk mandi, memasak dan kebutuhan lainnya. 

“Ngantri dan berebutan, kadang kalau sedikit suka ada yang gak kebagian,” imbuh wanita 40 tahun itu. 

Di samping itu tidak adanya saluran pembuangan juga menjadi kendala sehingga bila hujan tiba aroma bau tak sedap menghinggapi pemukiman warga. Namun warga sudah terbiasa dengan keadaan tersebut.

“Air sulit, karena ini kan tempat pembuangan sampah. Kalo hujan suka kecium baunya, bahkan tidak ada saluran pembuangan, jadi ke mana aja air ngalirnya, jadinya bau,” ungkapnya.  

Mayoritas pekerjaan warga setempat adalah sebagai kuli bangunan dan pemulung. Warga yang tinggal di wilayah tersebut, sudah mendapat ijin dari PD Kebersihan Kota Bandung untuk menempati lahan tersebut. Namun, Entin bersama warga lainnya mengaku khawatir bila suatu saat lahannya itu digusur oleh pemerintah. Ia berharap ke depannya dapat direlokasi ke tempat yang layak huni dengan sarana MCK yang memadai.

#SaatnyaBersamaMèwujudkanHidupSehatDenganMenyediakanAirBersihUntukMereka

“Tidak ada hari yang disambut oleh para hamba melainkan di sana ada dua malaikat yang turun, sala satunya berkata: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang-orang yang berinfaq.” Sedangkan (malaikat) yang lainnya berkata: “Ya Allah berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang menahan (hartanya).” (H.R. Bukhari – Muslim)


Deskripsi Program


Kampung Mekarsari Cieunteung Kabupaten Bandung,merupakan sebuah kawasan pemukiman yang terbentuk dari komunitas pemulung pendatang yang menetap disana sejak puluhan tahun yang lalu.

Kawasan bekas pembuangan sampah akhir kota bandung ini dihuni tidak kuran dari 30 kepala keluarga pra sejahtera yang sebagian besar mereka saat ini berprofesi  sebagai pemulung dan buruh tukang bangunan.

Kemiskinan berantai sejak mereka tinggal disana menyebabkan sebagian anak tidak bisa melanjutkan sekolah dan memilih bekerja di usia belia untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Pijakan tanah yang sebenarnya adalah  tumpukan sampah padat yang tertimbun selama puluhan tahun  itu memiliki ketinggian tidak kurang dari 15 meter menyebabkan bangunan rumah mereka yang terbuat dari triplek sebagian besarnya telah miring dan hampir roboh.

Kondisi kehidupan mereka yang tidak lepas dari bau dan debu sampah diperparah dengan sulitnya mendapatkan air bersih selain karena jumlah air yang terbatas juga tidak layak konsumsi.

 

UPDATE #1
19 Januari 2018

Bekas TPS yang Terpaksa di Jadikan Pemukiman Warga

Sebuah papan bertuliskan 'Tanah ini milik PD (Perusahaan Daerah) Kebersihan Kota Bandung' menjadi sambutan awal tim Rumah Yatim Area Jawa Barat ketika berkunjung ke Kampung Mekarsari Cieunteung, Kabupaten Bandung. Kumuh dan kotor itulah kesan yang pertama  terpikirkan setelah tim melihat tumpukan sampah yang menggunung bercampur tanah. Rata-rata bangunan yang terbuat dari bilik kayu nan reot menjadi tempat tinggal bagi warga setempat. 

“Sebenernya kan ini tanah PD, bukan tanah pribadi, jadi dipake berteduh dulu untuk sementara waktu,” papar salah satu warga, Entin.

Kampung Mekarsari, merupakan bekas tempat pembuangan sampah Kota Bandung ini menjadi pemukiman warga setempat. Dasar tanah dipenuhi tumpukan sampah dengan ketinggian sekitar 15-20 meter itu hingga ingga detik ini masih dihuni warga Kampung Mekarsari Cieunteung.

Kurangnya air bersih menjadi kendala paling utama yang dihadapi warga setempat. Tidak adanya sumber air bersih atau sumur pribadi menjadi hambatannya. Entin mengungkapkan dasar tanah yang berisi 15-20 meter tumpukan sampah, membuat warga tidak bisa mengebor tanah untuk mendapatkan air bersih. Sehingga, untuk mendapatkan air bersih, warga terpaksa minta dari pabrik kayu lingkungan setempat. 

“Keadaan masyarakat di sini mah kebanyakan tidak mampu. Kalau mau nyuci pakai air umum, dapet dari pabrik,” terangnya.

Tidak adanya sarana MCK (mandi cuci kakus), Entin mengaku air yang diberikan oleh pabrik kayu pun terbatas. Adanya pembagian waktu pengaliran air ke lingkungan setempat, membuat warga tidak bisa menggunakan air setiap waktu. Selain itu, hal tersebut membuat dirinya bersama warga lain harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan air bersih, yang akan digunakan untuk mandi, memasak dan kebutuhan lainnya. 

“Ngantri dan berebutan, kadang kalau sedikit suka ada yang gak kebagian,” imbuh wanita 40 tahun itu. 

Di samping itu tidak adanya saluran pembuangan juga menjadi kendala sehingga bila hujan tiba aroma bau tak sedap menghinggapi pemukiman warga. Namun warga sudah terbiasa dengan keadaan tersebut.

“Air sulit, karena ini kan tempat pembuangan sampah. Kalo hujan suka kecium baunya, bahkan tidak ada saluran pembuangan, jadi ke mana aja air ngalirnya, jadinya bau,” ungkapnya.  

Mayoritas pekerjaan warga setempat adalah sebagai kuli bangunan dan pemulung. Warga yang tinggal di wilayah tersebut, sudah mendapat ijin dari PD Kebersihan Kota Bandung untuk menempati lahan tersebut. Namun, Entin bersama warga lainnya mengaku khawatir bila suatu saat lahannya itu digusur oleh pemerintah. Ia berharap ke depannya dapat direlokasi ke tempat yang layak huni dengan sarana MCK yang memadai.

#SaatnyaBersamaMèwujudkanHidupSehatDenganMenyediakanAirBersihUntukMereka

“Tidak ada hari yang disambut oleh para hamba melainkan di sana ada dua malaikat yang turun, sala satunya berkata: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang-orang yang berinfaq.” Sedangkan (malaikat) yang lainnya berkata: “Ya Allah berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang menahan (hartanya).” (H.R. Bukhari – Muslim)

Tanggal Nominal
Ayi Karmilah
22 Januari 2018
Rp 20.727
Fifit Fitrotul Fatimah
22 Januari 2018
Rp 20.582
Caseneeds
31 Januari 2018
Rp 250.603
Hamba Allah
2 Februari 2018
Rp 50.925
Hamba Allah
2 Februari 2018
Rp 500.840
Hamba Allah
9 Februari 2018
Rp 50.671
Hamba Allah
9 Februari 2018
Rp 200.281
Hamba Allah
6 Maret 2018
Rp 500.982
Hamba Allah
6 Maret 2018
Rp 195.000
Hamba Allah
16 Maret 2018
Rp 150.509
Hamba Allah
17 Maret 2018
Rp 20.885
Hamba Allah
26 Maret 2018
Rp 500.564
Hamba Allah
28 Maret 2018
Rp 50.368
Hamba Allah
28 Maret 2018
Rp 195.000
Hamba Allah
2 April 2018
Rp 100.459
Hamba Allah
7 April 2018
Rp 1.000.749
Hamba Allah
9 April 2018
Rp 10.543
Hamba Allah
12 April 2018
Rp 300.480
Hamba Allah
12 April 2018
Rp 200.930

Total donatur : 19 orang