Cerita Penggalangan Dana
“Saya hanya ingin bisa membahagiakan adik dan Nenek yang sudah banting tulang untuk membesarkan kami”

10th sudah mereka hidup Bersama Neneknya, semenjak Ayah mereka meninggal dunia karena sakit yang diderita, dan Ibunya meninggalkan mereka karena harus bekerja diluar kota.
“Saat ini kami hanya punya Nenek yang sudah berjuang membesarkan kami,sedangkan ibu jarang sekali bertemu”
Asrip dan Wahyudin adalah kakak beradik yang sudah yatim, sedangkan ibunya harus rela meninggalkan kedua anaknya demi merubah Nasib dan memilih bekerja sebagai Asisten Rumah tangga diluar kota, namun dari pekerjaan ibunya tidaklah bisa menjamin untuk kehidupan kedua anaknya, bahkan untuk pulang pun hanya satu tahun satu kali.
“Saat ini kami hanya punya Nenek yang sudah berjuang membesarkan kami,sedangkan ibu jarang sekali bertemu”
Asrip dan Wahyudin adalah kakak beradik yang sudah yatim, sedangkan ibunya harus rela meninggalkan kedua anaknya demi merubah Nasib dan memilih bekerja sebagai Asisten Rumah tangga diluar kota, namun dari pekerjaan ibunya tidaklah bisa menjamin untuk kehidupan kedua anaknya, bahkan untuk pulang pun hanya satu tahun satu kali.

“Ibu mengirimi uang tapi jarang, bahkan untuk pulang pun hanya 1 tahun sekali ketika lebaran”
Pilu memang melihat keadan kakak beradik ini, Asrip sebagai kakak harus rela putus sekolah karena tidak ada yang membiayai, sedangkan kini adiknya yang masih sekolah Dasar masih membutuhkan biaya untuk terus bisa melanjutkan pendidikanya, sedangkan neneknya sebagai tumpuan kini sudah mulai lemah , sedangkan Asrip sendiri harus bisa membagi waktu untuk terus bisa belajar di pesantren dan membantu neneknya untuk mencari Nafkah.
“Saya terpaksa harus tidak melanjutkan sekolah hanya sampai SD karena tidak ada biaya, saya tidak mau adik saya harus bernasib sama seperti saya, ia harus tetap bisa melanjutkan sekolah"
Pilu memang melihat keadan kakak beradik ini, Asrip sebagai kakak harus rela putus sekolah karena tidak ada yang membiayai, sedangkan kini adiknya yang masih sekolah Dasar masih membutuhkan biaya untuk terus bisa melanjutkan pendidikanya, sedangkan neneknya sebagai tumpuan kini sudah mulai lemah , sedangkan Asrip sendiri harus bisa membagi waktu untuk terus bisa belajar di pesantren dan membantu neneknya untuk mencari Nafkah.
“Saya terpaksa harus tidak melanjutkan sekolah hanya sampai SD karena tidak ada biaya, saya tidak mau adik saya harus bernasib sama seperti saya, ia harus tetap bisa melanjutkan sekolah"

Asrip harus siap menjadi pengganti neneknya sebagai tulang punggung, menjadi pengrajin pembuat sapu lidi adalah satu-satunya pilihan agar mendapatkan uang untuk membeli beras dan membeli kebutuhan sekolah adiknya dan bekal ia di pesantren , walau hasil yang didapat tidaklah menutupi kebutuhan namun demi membantu meringankan beban neneknya.
“Kasihan melihat nenek harus bekerja banting tulang mencari nafkah dengan keadaan fisik yang sudah renta dan sering sakit, jadi saya harus bisa menggantikan posisi nenek”
Setiap hari ia menyempatkan untuk pulang ke rumah dari pesantren untuk sekedar membantu neneknya mencarikan bahan sapu lidi, setelah membantu neneknya ia Kembali ke pondok untuk belajar.
“Kasihan melihat nenek harus bekerja banting tulang mencari nafkah dengan keadaan fisik yang sudah renta dan sering sakit, jadi saya harus bisa menggantikan posisi nenek”
Setiap hari ia menyempatkan untuk pulang ke rumah dari pesantren untuk sekedar membantu neneknya mencarikan bahan sapu lidi, setelah membantu neneknya ia Kembali ke pondok untuk belajar.

“Sengaja saya memilih pondok yang tidak jauh dari rumah biar tetap bisa membantu nenek, pagi saya pulang ke rumah untuk mencarikan bahan sapu lidi, kalau sudah selesai saya Kembali lagi ke pondok”
Penghasilan dari pengrajin sapu lidi tidaklah cukup untuk menutupi kebutuhan, dalam satu hari ia dan neneknya hanya mampu mengerjakan 3kg sapu lidi dengan harga jual per kilo Rp 3000 dan untuk mendapatkan bahan sapu ia harus mencari pelepah kelapa yang jatuh dari hutan dengan jarak yang cukup jauh.
“Biasanya saya cari pelepah kelapa yang jatuh, nanti saya bawa ke rumah untuk di raut hingga menjadi lidi, paling satu hari dapat 3kg , itupun tidak tiap hari pengepul datang, nanti sudah satu minggu baru datang untuk membeli”
Penghasilan dari pengrajin sapu lidi tidaklah cukup untuk menutupi kebutuhan, dalam satu hari ia dan neneknya hanya mampu mengerjakan 3kg sapu lidi dengan harga jual per kilo Rp 3000 dan untuk mendapatkan bahan sapu ia harus mencari pelepah kelapa yang jatuh dari hutan dengan jarak yang cukup jauh.
“Biasanya saya cari pelepah kelapa yang jatuh, nanti saya bawa ke rumah untuk di raut hingga menjadi lidi, paling satu hari dapat 3kg , itupun tidak tiap hari pengepul datang, nanti sudah satu minggu baru datang untuk membeli”
Penghasilan yang tidak sebanding, membuat asrip harus mengalah, untuk bekal mondok ia hanya membawa 1 liter beras untuk 1 minggu, sedangkan uang jajan sisa dari kebutuhan adik dan neneknya, tak jarang ia harus rela menahan lapar di pesantren ketika beras habis dan bekal uang tidak ada.
“Saya sering puasa kalau beras habis, sedangkan mau minta sama santri lain suka malu kalau terlalu sering, mau pulang ke rumah juga saya tahu kondisi sama”
Harapan ia bisa terus berjuang demi adik dan neneknya, agar mereka bisa makan dengan kenyang ,memiliki tempat tinggal yang nyaman dan Pendidikan adikya bisa terus berlanjut hingga kejenjang selanjutnya.
“Kalau harapan saya ingin membahagiakan nenek yang sudah membesarkan saya dan adik saya hingga saat ini, suka sedih kalau nenek sampai harus cari pinjaman untuk beli beras dan melihat adik saya sekolah sering tidak terpenuhi kebutuhanya, bahkan seragam hanya mengandalkan pemberian dari orang”
#PejuangKebaikan, yuk bantu Asrip dengan cara :
1. Klik "Donasi Sekarang"
2. Masukkan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran (GO-PAY/BNI Syariah/BRI/BCA/Mandiri/DANA/ShopeePay)
4. Kamu akan mendapatkan laporan via E-mail
5. Transfer sesuai 3 kode unik untuk memudahkan sistem dalam pencatatannya dan tepat sasaran dalam penyalurannya
Disclaimer :
Fundraising ini merupakan bagian dari penggalangan dana Rumah Yatim. Kelebihan donasi yang terhimpun akan disalurkan ke penerima manfaat program-program Rumah Yatim lainnya.
Info Selengkapnya Hubungi :
Admin (0813-1255-7811) / (0821-3211-5439)
“Saya sering puasa kalau beras habis, sedangkan mau minta sama santri lain suka malu kalau terlalu sering, mau pulang ke rumah juga saya tahu kondisi sama”
Harapan ia bisa terus berjuang demi adik dan neneknya, agar mereka bisa makan dengan kenyang ,memiliki tempat tinggal yang nyaman dan Pendidikan adikya bisa terus berlanjut hingga kejenjang selanjutnya.
“Kalau harapan saya ingin membahagiakan nenek yang sudah membesarkan saya dan adik saya hingga saat ini, suka sedih kalau nenek sampai harus cari pinjaman untuk beli beras dan melihat adik saya sekolah sering tidak terpenuhi kebutuhanya, bahkan seragam hanya mengandalkan pemberian dari orang”
#PejuangKebaikan, yuk bantu Asrip dengan cara :
1. Klik "Donasi Sekarang"
2. Masukkan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran (GO-PAY/BNI Syariah/BRI/BCA/Mandiri/DANA/ShopeePay)
4. Kamu akan mendapatkan laporan via E-mail
5. Transfer sesuai 3 kode unik untuk memudahkan sistem dalam pencatatannya dan tepat sasaran dalam penyalurannya
Disclaimer :
Fundraising ini merupakan bagian dari penggalangan dana Rumah Yatim. Kelebihan donasi yang terhimpun akan disalurkan ke penerima manfaat program-program Rumah Yatim lainnya.
Info Selengkapnya Hubungi :
Admin (0813-1255-7811) / (0821-3211-5439)
Selengkapnya
Disclaimer: Fundraising ini merupakan bagian dari penggalangan dana Rumah Yatim. Kelebihan donasi yang terhimpun akan disalurkan ke penerima manfaat program-program Rumah Yatim lainnya.