Cerita Penggalangan Dana
Setiap pulang sekolah, Hapip tak berlari mengejar waktu bermain seperti anak-anak lain. Ia justru menggenggam sebuah ember kecil berisi cipuk kering makanan sederhana dari aci lalu melangkah menyusuri kampung tempat ia tinggal di daerah Patrol Lebakwangi.

Sejak duduk di kelas 3 SD, Hapip mulai berjualan keliling. Bukan karena keinginan, tapi karena keadaan memaksanya tumbuh lebih cepat dari usianya. Ayahnya pergi dan tak pernah kembali mengurus keluarga.
Tak lama setelah itu, ibunya jatuh sakit gangguan jiwa akibat tekanan dan stres berat yang ia alami setelah ditinggalkan.

Setiap sore, Hapip berjalan kaki sejauh 2 hingga 3 kilometer, berkeliling dari rumah ke rumah di kampungnya. Ember kecil itu bukan pilihan melainkan satu-satunya wadah yang ia miliki untuk membawa dagangannya. Cipuk yang ia jual pun bukan miliknya. Ia hanya membantu menjualkan cipuk mentah milik orang lain, dengan upah Rp5.000 per hari.

Ia berjualan hingga menjelang magrib. Setelah itu, Hapip pulang untuk mengaji. Tak pernah ia keluhkan lelahnya, meski kakinya sering pegal dan perutnya kerap menahan lapar.
Hapip tinggal bersama kakek dan neneknya di rumah milik sang kakek. Kakeknya, Aep (73 tahun), menderita sakit di bagian kaki sehingga sudah tidak bisa bekerja. Neneknya, Dami (68 tahun), hanya mampu membantu menyiapkan dagangan Hapip seadanya. Mereka hidup dalam serba keterbatasan, saling menguatkan satu sama lain.
Soal makan, tak selalu pasti. Kadang dari hasil jualan Hapip, kadang dari pemberian tetangga atau saudara.

Kini Hapip menjadi satu-satunya anak yang bertahan, memikul beban keluarga seorang diri.
Penghasilan kecil Hapip digunakan untuk kebutuhan paling mendasar: biaya sekolahnya yang serba terbatas, membeli obat penenang untuk ibunya saat kambuh, serta membantu pengobatan kaki kakeknya. Beberapa perlengkapan sekolah Hapip pun sudah tidak layak pakai, namun ia tetap berangkat sekolah dengan semangat yang sama—karena pendidikan adalah satu-satunya harapan yang ia genggam.
Hapip bukan hanya berjuang untuk dirinya sendiri. Ia berjuang agar ibunya bisa kembali tenang. Ia berjuang agar kakek dan neneknya bisa bertahan di usia senja. Dan ia berjuang agar mimpinya tetap hidup: terus sekolah dan suatu hari memiliki kehidupan yang lebih baik.
Di usia yang seharusnya dipenuhi tawa, Hapip memilih bertahan.
Di tangan kecilnya, kita bisa titipkan harapan.
Karena tak seharusnya seorang anak menanggung hidup sendirian. #PejuangKebaikan bisa bantu perjuangan hapip dengan cara :
1. KLIK " Donasi Sekarang "
2. Masukan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran
4. Kamu akan mendapatkan laporan via E-mail
5. Transfer sesuai 3 kode unik untuk memudahkan sistem dalam pencatatan dan tepat sasaran dalam penyaluran nya
Info Selengkapnya Hubungi :
Admin ( 085810265406 )
Berita Penyaluran
Program Dirilis
23 Jan 2026Para #PejuangKebaikan
Marji
Hamba Allah
Nooraisyah pato
Hamba Allah
Alm bu sri dan alm pak anwar
Tengku Luthfiza Meutia
Doa-doa #PejuangKebaikan
Aamin Kan dan bantu likenya