Cerita Penggalangan Dana
Bayangkan betapa bahagianya anak-anak di bulan Ramadhan. Ada yang membayangkan baju baru, makanan hangat, dan tawa bersama keluarga. Kondisi itu tidak berlaku untuk anak yatim.
Mereka hanya memikirkan satu hal,
“Apakah hari ini saya bisa makan atau tidak ?”
Seperti Bayu (15). Remaha sebatangkara ini tinggal di rumah peninggalan neneknya. Ibunya meninggal, dan ia diterlantarkan ayahnya sendiri. Setiap hari dia mencari kepiting ebelum berangkat sekolah, dan membawa 2-4 ekor untuk dijual. Belum lagi kalau kondisi laut pasang, ia tidak bisa mencari nafkah 🥹
—
Kondisi yang sama pun dirasakan oleh Agung. Anak 11 tahun ini harus bertaruh nyawa mencari cacing di sungai demi bisa makan.
Di bulan suci Ramadhan, ketika banyak anak menghitung hari menuju Lebaran—membayangkan baju baru, makanan hangat, dan tawa bersama keluarga—masih ada anak-anak yatim yang justru sibuk memikirkan satu hal paling dasar: hari ini bisa makan atau tidak.
Bayu dan Agung adalah dua di antara mereka.
Bayu (15) tumbuh sendirian. Rumah tua peninggalan neneknya menjadi satu-satunya tempat berlindung, meski sering terendam rob dan nyaris tak layak huni. Sejak ibunya meninggal 11 tahun lalu dan ayahnya pergi tanpa kabar, Bayu belajar bertahan hidup seorang diri.
Setiap pagi, dari pukul 6 hingga 12 siang, sebelum berangkat sekolah, Bayu masuk ke hutan bakau untuk memasang bubu kepiting. Tak jarang, ia pulang hanya membawa 2–4 ekor kepiting. Bahkan sering kali, pulang dengan tangan kosong. Dari hasil itulah Bayu membeli makanan. Saat air laut pasang dan ia tak bisa bekerja, lapar menjadi teman berhari-hari.
Malam hari, Bayu belajar ditemani cahaya lilin. Token listrik adalah kemewahan yang belum bisa ia miliki.
Sementara Agung (11), setiap sore mempertaruhkan nyawanya demi satu cup kecil cacing nipah. Sepulang sekolah, ia berjalan kaki sejauh 3 kilometer menuju sungai dan hutan nipah. Agung harus berenang dan menyelam di arus sungai yang dalam dan deras, dengan ancaman ular berbisa yang mengintai.
Satu cup cacing hanya dihargai sepuluh ribu rupiah. Sering kali ia hanya mendapat setengah cup, bahkan tak membawa apa-apa saat sungai banjir. Uang itu dipakai untuk makan dan mengobati ibunya yang menderita penyakit jantung dan paru-paru. Karena keterbatasan biaya, sang ibu sudah berbulan-bulan tak bisa kontrol ke rumah sakit, hingga akhirnya harus dirawat inap. Demi menyelamatkan ibunya, Agung terpaksa berutang.
Lebaran seharusnya menjadi hari penuh harapan. Namun bagi Bayu dan Agung, hari raya hanyalah hari biasa—tanpa baju baru, tanpa hidangan istimewa, tanpa pelukan orang tua. Mereka tak pernah meminta kemewahan. Mereka hanya ingin makan dengan layak, tetap sekolah, dan merasakan bahwa mereka tidak sendirian.
Melalui Program Sandang Lebaran Yatim, mari kita hadir untuk Bayu, Agung, dan anak-anak yatim lainnya. Sepotong baju baru, sepasang sandal, atau sekadar perhatian dari kita bisa menjadi kebahagiaan yang tak ternilai bagi mereka.
Mari sisihkan rezeki terbaik di bulan Ramadhan ini. Karena kebaikan kecil dari kita, bisa menjadi harapan besar bagi masa depan mereka.
1. KLIK " Donasi Sekarang "
2. Masukan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran
4. Kamu akan mendapatkan laporan via E-mail
5. Transfer sesuai 3 kode unik untuk memudahkan sistem dalam pencatatan dan tepat sasaran dalam penyaluran nya
Info Selengkapnya Hubungi :
Admin ( 085810265406 )
Berita Penyaluran
Program Dirilis
22 Jan 2026Para #PejuangKebaikan
Hamba Allah
Doa-doa #PejuangKebaikan
Aamin Kan dan bantu likenya