Cerita Penggalangan Dana
Parel Aprianto Padli (12) berubah jadi anak yang murung ketika ditinggalkan kedua orangtuanya. Ia berusaha tegar tak menangis tatkala menceritakan kedua orang tua nya yang meninggal dunia secara beriringan dalam waktu 1 minggu.
Sebuah kenyataan pahit yang membuatnya hingga depresi. Sang ibu meninggal dunia karena demam tinggi. Selang 4 hari, ayah menyusul kepergian ibu menghadap sang pencipta karena sakit yang hebat di bagian perut.
Seminggu sebelum meninggal, ayah dan ibu parel merantau untuk bekerja sebagai buruh di pabrik air mineral di Lombok Barat. Lalu mereka bertiga pulang ke Desa nya karena orang tuanya di PHK akibat pandemi. Seminggu setelah pulang, ibu menderita demam tinggi dan ayah menderita sakit yang hebat dibagian perut.
“karena keterbatasan ekonomi kami tidak bisa pergi kedokter uang yang dikasih oleh pabrik hanya cukup buat kami makan sehari-hari. Akhirnya nyawa ibu tak tertolong dan keadaan bapak semakin buruk dan bapak gak bisa menyaksikan pemakaman ibu,” Cerita Farel
“Bapak sempet gak sadarkan diri waktu ibu meninggal, betapa pilu nya kami harus menerima kenyataan ini. Akhirnya tepat 4 hari setelah ibu pergi, Bapak pun ikut menyusul kepergian ibu,” lirih Parel sambil meneteskan air matanya
**
Ia tak bisa menahan tangisnya, betapa ia sangat merindukan kenangan terindah bersama ayah dan ibu nya. Kerinduan itu ia hanya bisa curahkan dalam doa.
Kini Parel tinggal bersama kakek dan nenek nya yang sudah renta. kakek dan nenek pun sudah sering sakit-sakitan, ditambah rumah yang ditempati jauh dari kata layak, tak ada kasur empuk dan perabotan dapur alakadarnya.
Dulu Kakek bekerja sebagai buruh tani tapi sekarang sudah tidak kuat bekerja dan nenek hanya memelihara bebek sebagai satu-satu nya sumber pendapatan. Dari hasil beternak bebek nenek mendapatkan telur yang kemudian beliau jual perhari bisa mendapatkan 10 ribu dari 5 butir telur yang dihasilkan dari beternak bebek.
“saya kasian dengan keadaan kakek nenek. Setiap pulang sekolah saya selalu membantu nenek untuk memberi pakan bebek. sewaktu-waktu nenek lagi sakit saya harus rela tidak masuk sekolah demi merawat nenek di rumah.”
Dengan keadaan ekonomi yang terbatas parel juga harus dengan berat hati tidak bisa membeli beberapa seragam sekolah. Jangankan untuk membeli seragam, kakek dan nenek pun harus terpaksa berhemat demi terpenuhi kebutuhan setiap hari. tidak jarang kami hanya makan dengan nasi putih tanpa lauk.
Parel bersyukur masih memiliki kakek dan nenek yang merawatnya dengan tulus. Sahabat, Kisah parel mungkin hanya salah satu potret anak yang harus rela ditinggalkan kedua nya.
Maukah Kamu berikan kehidupan yang layak untuk parel dan yatim piatu lainnya ? Disclaimer:
Fundraising ini merupakan bagian dari program bantuan biaya hidup yang mana penghimpunannya akan disalurkan untuk pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat dhuafa. Dana yang terhimpun akan disalurkan untuk Parel dan keluarga dhuafa lainnya.
WA/SMS/CALL : Admin (0813-1255-7811) / (0821-3211-5439)
Selengkapnya
Disclaimer: Fundraising ini merupakan bagian dari penggalangan dana Rumah Yatim. Kelebihan donasi yang terhimpun akan disalurkan ke penerima manfaat program-program Rumah Yatim lainnya.