Detail Program

Kemanusiaan

Bantuan Obat-obatan Bagi Ribuan Pasien Di GAZA

Terkumpul
Rp 28.204.171
Target
Rp 180.000.000
BERAKHIR PADA:
31 Maret 2019
Penerima Manfaat:
13.000 orang

Lingkup wilayah:
nasional
UPDATE LAPORAN TERBARU
26 Februari 2019

Minimnya pasokan obat pasien kanker di Gaza

Lembaga kesehatan PBB, WHO menyatakan, "Setelah didiagnosis menderita kanker, pasien di Gaza mungkin harus menunggu selama berbulan-bulan sebelum dapat menerima pengobatan."Selama dekade terakhir, Israel telah mengendalikan dan membatasi pengiriman obat-obatan ke Gaza. Kekurangan obat-obatan di rumah sakit di Gaza pun tak bisa dihindari.

"Saya datang ke rumah sakit untuk menerima perawatan dan saya terkejut sebab tidak ada perawatan," Sabreen al-Najjar (40) menuturkan kepada The Electronic Intifada. Al-Najjar adalah salah satu dari banyak pasien kanker di Gaza yang ditolak oleh rumah sakit karena minimnya pasokan obat. Dengan ketersediaan obat yang tidak dapat diandalkan, banyak pasien mencoba mencari pengobatan di luar Gaza.

Namun Israel menolak Izin dari pasien untukmengakses perawatan kesehatan yang diperlukan di luar (Gaza). Pada tahun 2018, Israel menolak lebih dari 1.800 izin pasien untuk melewati pos pemeriksaan Erez guna perawatan kesehatan, menurut Organisasi Kesehatan Dunia. Sedangkan pada tahun 2017, penolakan terjadi kepada sekitar 700 pasien. Pasien Gaza sangat membutuhkan uluran tangan saudara yang ada di seluruh belahan bumi untuk membantu baik doa maupun materi, karena bantuan kita sangat berarti untuk mereka.

 


Deskripsi Program


Adi Akram Abu Kholil (15 tahun), salah satu remaja Palestina asal Ramallah yang akhirnya meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya akibat bentrokan dengan tentara Zionis Israel. Sebelum meninggal Akram sempat dilarikan ke RS setempat, tetapi karena peralatan serta obat-obatan yang tidak memadai akhirnya Akram dirujuk ke rumah sakit Anl-Najah di Nablus. Namun karena luka-lukanya parah, akhirnya ia meninggal di sana.

Sudah lebih dari 1 dekade wilayah Gaza berada dibawah blokade Israel. Akses dari luar pun tertutup sehingga bantuan kemanusiaan sulit sampai ke Gaza.

Sejak aksi Great March Return atau Masirah Alawda kubra hingga penolakan pemindahan KEDUBES Amerika ke Jerusalem, hingga kini warga Gaza tetap berkomitmen melakukan aksi di Timur wilayah Jalur Gaza. Aksi yang dilakukan oleh warga Gaza ini dihadang oleh militer Israel dengan menembaki warga Gaza hingga eksekusi ditempat. Sampai saat ini terhitung lebih dari 150 lebih warga Gaza gugur saat melakukan aksi di timur wilayah Gaza tersebut.

Sejak 28 Mei 2018, Israel kembali melakukan serangan ke Gaza dengan melontarkan roket artileri ke beberapa titik wilayah di Gaza dengan sasaran kamp militer para pejuang Palestina.

Serangan ini berawal pada 27 Mei 2018, militer Israel melontarkan roket tanpa sebab ke wilayah Gaza. Sehingga akibatnya roket Israel ini menewaskan 4 warga Gaza dan 1 diantaranya pejuang Palestina. Serentak pejuang Palestina di Gaza pun melontarkan roket serangan balasan ke wilayah Israel. Tak pelak, tabuh genderang perang pun dimulai kembali antara militer Israel dengan pejuang Palestina di Gaza.

Ribuan pasien dilarikan ke rumah sakit salah satunya di pusat rujukan terbesar di Palestina yaitu di Rumah Sakit Shifa Gaza City. Tetapi lagi-lagi pihak RS kewalahan dikarenakan persediaan obat-obatan yang kian menipis. Setiap harinya pasien korban tembakan berdatangan silih berganti untuk menerima pengobatan.

GAZA BUTUH BANTUAN OBAT-OBATAN SEGERA, di antaranya cairan infus, obat bius, obat-obatan lainnya hingga kain kasa dan plester.

Mari buktikan kepedulian serta perhatian kita untuk saudara kita di Palestina.

UPDATE #4
26 Februari 2019

Minimnya pasokan obat pasien kanker di Gaza

Lembaga kesehatan PBB, WHO menyatakan, "Setelah didiagnosis menderita kanker, pasien di Gaza mungkin harus menunggu selama berbulan-bulan sebelum dapat menerima pengobatan."Selama dekade terakhir, Israel telah mengendalikan dan membatasi pengiriman obat-obatan ke Gaza. Kekurangan obat-obatan di rumah sakit di Gaza pun tak bisa dihindari.

"Saya datang ke rumah sakit untuk menerima perawatan dan saya terkejut sebab tidak ada perawatan," Sabreen al-Najjar (40) menuturkan kepada The Electronic Intifada. Al-Najjar adalah salah satu dari banyak pasien kanker di Gaza yang ditolak oleh rumah sakit karena minimnya pasokan obat. Dengan ketersediaan obat yang tidak dapat diandalkan, banyak pasien mencoba mencari pengobatan di luar Gaza.

Namun Israel menolak Izin dari pasien untukmengakses perawatan kesehatan yang diperlukan di luar (Gaza). Pada tahun 2018, Israel menolak lebih dari 1.800 izin pasien untuk melewati pos pemeriksaan Erez guna perawatan kesehatan, menurut Organisasi Kesehatan Dunia. Sedangkan pada tahun 2017, penolakan terjadi kepada sekitar 700 pasien. Pasien Gaza sangat membutuhkan uluran tangan saudara yang ada di seluruh belahan bumi untuk membantu baik doa maupun materi, karena bantuan kita sangat berarti untuk mereka.

 

UPDATE #3
9 Februari 2019

Rumah Sakit di Gaza krisis Obat-obatan

Jalur Gaza adalah wilayah selatan Palestina yang terisoliasi akibat blokade Israel selama lebih dari 12 tahun.  Blokade berhasil melumpuhkan seluruh lini kehidupan Gaza. Tidak hanya ekonomi, Gaza juga mengalami krisis air bersih, listrik, dan alat-alat medis. 

Bulan lalu, Kementerian Kesehatan Gaza dalam konferensi pers di  Rumah Sakit Spesialis anak di Naser City  , Minggu (20/01/2018) memperingatkan bahwa sejumlah rumah sakit Gaza terancam berhenti beroperasi akibat mandeknya pasokan listrik.

Melihat situasi Gaza yang carut marut akibat blokade, Sekjen PBB, Antonio Guterres tahun 2018 lalu telah memperingatkan bahwa wilayah yang memiliki luas 365 persegi tersebut akan menjadi wilayah tak layak huni pada tahun 2020 mendatang. Disebabkan berlakunya tragedi kemanusiaan sejak tahun 1948.

Blokade Israel sejak 12 tahun lalu adalah penyebab utama krisis perlalatan medis, obat-obatan,air bersih,dan bahan bakar di Jalur Gaza. Bantu selamatkan nyawa pasien terutama pasien anak-anak di Gaza.

UPDATE #2
31 Januari 2019

Krisis Obat-obatan,Pangan dan BBM di R.S Asy-syifa Gaza

Rumah sakit As-Syifa Gaza tidak mampu memberikan pelayanan makanan kepada pasien akibat krisis pangan, obat-obatan dan BBM. Blokade Israel telah melumpuhkan semua sektor terutama sektor ekonomi.

Selain krisis obat dan makanan, pihak rumah sakit pun mengalami krisis bahan makar minyak untuk mengaktifkan generator, masing-masing rumah sakit di Gaza terutama rumah sakit khusus anak dan rumah sakit Syifa membutuhkan BBM 8.000 Liter Solar ( Harga Rp. 150.000.000)

Seorang karyawan Rumah Sakit Asy-Syifa, DR.Mukhlis Al-Adham, mengatakan bahwa pihak rumah sakit tidak mampu menyediakan makanan akibat krisis keuangan yang dihadapi Rumah Sakit Asy-Syifa dan rumah sakit lainnya di Gaza telah berlangsung selama 12tahun akibat blokade Israel, puncak krisis awal tahun 2018 hingga memasuki tahun ajaran 2019.

Ratusan kasus pasien terpaksa tidak dapat melaksanakan tindakan operasi karena tidak ada listri, sedangkan pihak rumah sakit mengalami krisis BBM.Dalam satu hari Rumah Sakit Asy-Syifa perlu mempersiapkan 3000 porsi makanan untuk sarapan pagi, siang dan malam. Karena terdapat sekitar seribu warga Gaza yang sedang dirawat di rumah sakit tersebut.

UPDATE #1
28 Januari 2019

Satu orang meninggal dan puluhan luka-luka dalam demonstrasi perbatasan

Kementrian kesehetan Palestina melaporkan, Militer israel menembak mati seorang pemuda palestina yang terlibat dalam aksi unjuk rasa perbatasan yang ke-44. Penembakan terjadi pada hari Jum’at sore ( 25/01/2019). Selain satu orang meninggal terdapat pula puluhan warga yang mengalami luka-luka.

Asyraf Al-Qudri, juru bicara kementerian kesehatan Palestina menyampaikan bahwa Ihab Athaillah Husein Abid (25 tahun) meninggal akibat tembakan militer israel di timur Rafah, selatan Gaza. Ia menambahkan, 22 warga Palestina, termasuk 14 anak-anak, mengalami luka-luka akibat tembakan militer israel pada jum’at ke-44 dalam demonstrasi the Great March of Return.

Selain menembak warga, militer israel juga menembakan gas air mata ke arah ambulans Palestina sehingga 6 tenaga medis mengalami luka-luka.

Sejak akhir maret 2018 lalu, warga Palestina melakukan demonstrasi damai di dekat pagar perbatasan Israel. Demo tersebut dilakukan untuk menuntut pengembalian tanah yang di rebut israel pada 1948 lalu dan mengecam blokade Gaza. Masyarakat Gaza membutuhkan perawatan termasuk obat-obatan karena banyak sekali korban yang terkena serangan militer israel.

Tanggal Nominal
Hamba Allah
5 Juli 2018
Rp 40.652
Hamba Allah
5 Juli 2018
Rp 50.831
Hamba Allah
7 Juli 2018
Rp 50.786
Hamba Allah
9 Juli 2018
Rp 500.961
Hamba Allah
9 Juli 2018
Rp 50.171
Hamba Allah
10 Juli 2018
Rp 50.388
Hamba Allah
11 Juli 2018
Rp 100.389
Hamba Allah
11 Juli 2018
Rp 50.813
Hamba Allah
11 Juli 2018
Rp 100.720
Hamba Allah
13 Juli 2018
Rp 100.535
Hamba Allah
13 Juli 2018
Rp 100.000
Hamba Allah
13 Juli 2018
Rp 50.588
Alexandria
14 Juli 2018
Rp 50.940
Hamba Allah
14 Juli 2018
Rp 100.809
Hamba Allah
14 Juli 2018
Rp 100.140
Hamba Allah
15 Juli 2018
Rp 150.173
Hamba Allah
16 Juli 2018
Rp 100.502
IRMA BUDI LESTARI
16 Juli 2018
Rp 200.822
Hamba Allah
16 Juli 2018
Rp 200.459
Hamba Allah
17 Juli 2018
Rp 100.189
Hamba Allah
17 Juli 2018
Rp 100.975
purina pakurnia artiguna
17 Juli 2018
Rp 300.390
Hamba Allah
17 Juli 2018
Rp 50.752
Hamba Allah
17 Juli 2018
Rp 100.159
Tyowidiyani
20 Juli 2018
Rp 150.101
Hamba Allah
21 Juli 2018
Rp 250.574
IRSAN JAELANI
23 Juli 2018
Rp 100.605
Hamba Allah
5 Agustus 2018
Rp 50.534
Hamba Allah
5 Agustus 2018
Rp 100.816
Hamba Allah
19 Agustus 2018
Rp 150.687
Hamba Allah
17 September 2018
Rp 50.236
Hamba Allah
21 September 2018
Rp 25.309
Hamba Allah
29 September 2018
Rp 25.767
Zahra
29 September 2018
Rp 100.528
Hamba Allah
2 Oktober 2018
Rp 50.883
Hamba Allah
7 Oktober 2018
Rp 50.855
Hamba Allah
16 Oktober 2018
Rp 50.849
Hamba Allah
27 Oktober 2018
Rp 100.413
ELLY FAISAL
29 Oktober 2018
Rp 30.150
ELLY FAISAL
2 November 2018
Rp 20.156
Hamba Allah
9 November 2018
Rp 100.410
Hamba Allah
13 November 2018
Rp 20.109
Siti Komariah
15 November 2018
Rp 500.144
Hamba Allah
23 November 2018
Rp 100.358
Hamba Allah
23 November 2018
Rp 200.443
Hamba Allah
3 Desember 2018
Rp 100.893
Hamba Allah
5 Desember 2018
Rp 50.584
IRSAN JAELANI
7 Desember 2018
Rp 100.284
Hamba Allah
10 Desember 2018
Rp 130.358
Hamba Allah
12 Desember 2018
Rp 250.407
Siti Komariah
14 Desember 2018
Rp 500.698
Hamba Allah
16 Desember 2018
Rp 10.209
Hamba Allah
19 Desember 2018
Rp 10.571
Mia Wimala
19 Desember 2018
Rp 1.500.000
Hamba Allah
20 Desember 2018
Rp 10.731
Hamba Allah
20 Desember 2018
Rp 300.454
Hamba Allah
21 Desember 2018
Rp 10.986
Hamba Allah
25 Desember 2018
Rp 10.690
Hamba Allah
29 Desember 2018
Rp 10.000.832
Hamba Allah
2 Januari 2019
Rp 10.344
Hamba Allah
3 Januari 2019
Rp 300.138
Hamba Allah
4 Januari 2019
Rp 500.142
Hamba Allah
6 Januari 2019
Rp 100.331
Hamba Allah
7 Januari 2019
Rp 10.112
Hamba Allah
11 Januari 2019
Rp 10.334
Hamba Allah
16 Januari 2019
Rp 50.368
Siti Komariah
17 Januari 2019
Rp 500.763
Hamba Allah
18 Januari 2019
Rp 1.000.522
Hamba Allah
31 Januari 2019
Rp 100.593
HILDANIA
31 Januari 2019
Rp 19.431
Hamba Allah
1 Februari 2019
Rp 100.212
Hamba Allah
4 Februari 2019
Rp 50.799
Hamba Allah
6 Februari 2019
Rp 75.256
Hamba Allah
13 Februari 2019
Rp 300.150
Siti Komariah
14 Februari 2019
Rp 500.882
Hamba Allah
15 Februari 2019
Rp 100.253
Lusri
15 Februari 2019
Rp 300.000
Hamba Allah
18 Februari 2019
Rp 500.433
Hamba Allah
4 Maret 2019
Rp 50.606
Hamba Allah
9 Maret 2019
Rp 5.000.892
Lusri
10 Maret 2019
Rp 300.335
Hamba Allah
12 Maret 2019
Rp 300.507

Total donatur : 82 orang